RADARSOLO.COM-Memasuki pertengahan Januari 2026, siklus penurunan harga kebutuhan pokok pasca libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) belum sepenuhnya terjadi di Boyolali.
Pantauan di sejumlah pasar tradisional menunjukkan harga komoditas daging ayam potong dan telur ayam ras masih bertahan di level tinggi.
Kondisi ini memicu keluhan. Tidak hanya dari konsumen rumah tangga, tetapi juga para pelaku usaha kuliner yang menggantungkan bahan bakunya pada kedua komoditas tersebut.
Harga Daging Ayam Setara Momen Lebaran
Di Pasar Kebon Agung, Kecamatan Ngemplak, harga daging ayam potong saat ini dibanderol Rp36 ribu per kilogram.
Meski sudah turun dari puncak harga akhir tahun yang sempat menyentuh Rp40 ribu, nominal ini dinilai tetap tidak wajar untuk periode hari normal di bulan Januari.
Sri Wahyuni, salah satu pedagang daging ayam menyebut situasi ini sebagai sebuah keanehan.
"Harga Rp36 ribu biasanya baru terjadi saat momen prepegan (menjelang) puasa atau Lebaran. Harusnya kalau Januari normal, harganya di kisaran Rp32 ribu-Rp33 ribu saja," ungkapnya, Senin (12/1/2026).
Anomali harga ini berdampak langsung pada pelanggan setianya. Terutama pedagang soto dan mi ayam.
Mereka terjepit di antara harga bahan baku yang mahal dan ketidakberanian menaikkan harga jual makanan matang demi menjaga daya beli pelanggan.
Harga Telur Tertahan di Angka Rp28 Ribu
Kondisi serupa terjadi pada komoditas telur ayam ras. Saat ini, harga telur di pasar tradisional di kisaran Rp28 ribu per kilogram.
Baca Juga: Modus Minta Sumbangan Snack Turnamen Sepak Bola Merajalela, Apotek di Selogiri Wonogiri Jadi Korban
Turun tipis dari angka Rp30 ribu pada akhir Desember lalu.
Namun, pedagang menilai penurunan ini belum menyentuh "harga standar" awal tahun yang biasanya berada di angka Rp25.000 - Rp26.000 per kilogram.
"Sekarang ini kondisinya sudah standar. Tapi standarnya standar tinggi. Harganya cenderung mahal jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu," kata Sutrisno, pedagang telur ayam.
Para pedagang memprediksi fluktuatif harga masih akan terjadi dalam beberapa pekan ke depan.
Mereka berharap pasokan dari produsen dapat kembali stabil sehingga harga bisa benar-benar kembali ke level normal dan menggairahkan kembali atmosfer transaksi di pasar tradisional. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono