Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Tradisi Sadranan Boyolali Dimulai: Ratusan Warga Musuk Bawa Tenong ke Makam, Doakan Leluhur Jelang Ramadhan

Abdul Khofid Firmanda Putra • Selasa, 3 Februari 2026 | 16:42 WIB
Warga Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali mengikuti tradisi Sadranan jelang Ramadhan, Selasa (3/2/2026).
Warga Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali mengikuti tradisi Sadranan jelang Ramadhan, Selasa (3/2/2026).

RADARSOLO.COM-Aroma harum bunga mawar dan semarak keranjang tenong mulai mewarnai komplek pemakaman di lereng Gunung Merapi.

Menjelang bulan suci Ramadhan, warga di sejumlah wilayah Kabupaten Boyolali mulai menggelar tradisi Sadranan.

Sebuah ritual kenduri leluhur yang telah terjaga selama berabad-abad.

Salah satu titik kemeriahan terlihat di Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Selasa (3/2/2026).

Ratusan warga dari berbagai dukuh tetangga hingga perantau dari luar kota berkumpul untuk mengikuti prosesi doa bersama.

Ruwatan di Bulan Syaban

Tokoh masyarakat setempat, Jaman, menjelaskan bahwa Sadranan rutin dilaksanakan setiap bulan Syaban atau dalam penanggalan Jawa disebut bulan Ruwah.

Tradisi ini menjadi momentum spiritual bagi warga untuk berbakti kepada pendahulu mereka.

“Tradisi Nyadran ini sudah berlangsung turun-temurun sejak zaman nenek moyang. Tujuannya murni untuk mendoakan para leluhur agar diampuni segala dosanya dan diterima amal ibadahnya sebelum kita memasuki bulan puasa,” ujar Jaman di sela-sela kegiatan.

Prosesi Bubak hingga Makan Bersama

Prosesi Sadranan diawali dengan ritual bubak, yakni aksi gotong royong membersihkan area makam dari rumput liar dan sampah sehari sebelum acara puncak.

Pada hari pelaksanaan, warga berbondong-bondong menuju makam dengan menjunjung tenong (keranjang bambu berbentuk bulat) atau keranjang rinjing.

Baca Juga: Paling Menantang! Pohon Flamboyan Berbobot 4 Ton di Kantor Setda Boyolali yang Tumbang Dipindahkan ke Makam Waru Mojosongo

Di dalam tenong tersebut, tersaji aneka kue tradisional, nasi gurih, hingga lauk-pauk lengkap.

Acara inti dimulai dengan pembacaan tahlil dan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.

Setelah doa pungkas, warga melakukan tabur bunga di pusara keluarga masing-masing dan diakhiri dengan makan bersama secara lesehan di area makam.

Simbol Kerukunan dan Pelestarian Budaya

Selain di Kecamatan Musuk, tradisi serupa juga mulai merambah wilayah Kecamatan Cepogo dan sekitarnya.

Meskipun waktu pelaksanaannya berbeda-beda di setiap desa sesuai kepercayaan lokal, esensinya tetap sama: mempererat tali silaturahmi antarwarga.

“Selain mendoakan leluhur, Sadranan ini adalah ajang nguri-uri kebudayaan. Kami ingin generasi muda tetap melihat dan menjalankan tradisi ini sebagai bentuk penghormatan dan persatuan,” tambah Jaman.

Bagi masyarakat Boyolali, Sadranan bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan simbol harmoni antara manusia, Tuhan, dan para pendahulu yang harus terus dilestarikan di tengah kemajuan zaman. (fid)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#tradisi sadranan #kecamatan musuk #Boyolali #sadranan boyolali #dukuh mlambong #jelang ramadhan #Tenong #ramadhan #mendoakan leluhur #tradisi