Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Tekad Tukang Pentol Asal Semarang Naik Haji: Menabung Rp5 ribu per Hari selama 20 Tahun untuk Tunaikan Rukun Islam Kelima

Abdul Khofid Firmanda Putra • Kamis, 30 April 2026 | 13:28 WIB
Muqorobin Ngadiman, tukang pentol asal Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang yang akhirnya bisa berhaji. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)
Muqorobin Ngadiman, tukang pentol asal Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang yang akhirnya bisa berhaji. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Niat tulus menyempurnakan Rukun Islam kelima terbukti mampu menembus keterbatasan ekonomi.

Hal ini ditunjukkan Muqorobin Ngadiman, jemaah haji asal Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang.

Sehari-hari, Muqorobin menyambung hidup dengan berjualan pentol keliling.

Setelah menanti dan berjuang selama lebih dari dua dekade, pria yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 21 Embarkasi Solo ini akhirnya bisa berhaji tahun ini.

Baca Juga: Kado Pahit May Day: 849 Buruh Pabrik Boneka di Sragen Terdepak, Dulu Masuk Diminta Semi Telanjang

Ini membuktikan bahwa keteguhan hati adalah modal utama dalam beribadah.

Ketelatenan Menabung Dua Dekade

Perjalanan spiritual Muqorobin dimulai sejak 2004. Kala itu, saat masih berstatus bujang, ia sudah memantapkan tekad untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah dari hasil dagangannya.

Dengan penuh kesabaran, ia menyisihkan uang receh sisa keuntungan harian yang jumlahnya mungkin dianggap kecil oleh sebagian orang, namun menjadi gunung harapan baginya.

Kegigihan tersebut akhirnya membuahkan hasil saat tabungannya mencukupi untuk biaya pendaftaran haji.

“Saya menabung ya Rp10 ribu, Rp5 ribu, seperti itu. Lalu terkumpul terus sampai Rp25,5 juta. Akhirnya saya mendaftar (haji),” jelas Muqorobin ditemui di Asrama Haji Donohudan.

Baca Juga: Desil 5 Dicoret dari PKH-BPNT, 22.327 KK Di Sukoharjo Tak Lagi Terima Bansos

Selama masa tunggu keberangkatan yang panjang, ia tidak berpangku tangan dan tetap konsisten berkeliling menjajakan pentol demi menambah bekal di Tanah Suci.

“Karena bisanya cuma itu. Kalau mau kerja mencangkul di sawah pun sudah tidak ada yang menyuruh. Alhamdulillah akhirnya bisa berangkat ini. Walaupun hanya Rp10 ribu atau Rp5 ribu yang dikumpulkan, Alhamdulillah diberi kesempatan untuk berangkat,” ujar dia.

Filosofi Sedekah dan Kepasrahan

Bagi Muqorobin, keberangkatannya ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan izin dari Sang Pencipta yang ia sebut sebagai "Juragan".

Selama berdagang, ia memiliki prinsip untuk selalu menyisihkan sebagian kecil penghasilannya bagi orang lain yang lebih membutuhkan.

Kebiasaan bersedekah Rp1.000 atau Rp2.000 dari hasil jualannya diyakini menjadi salah satu jalan yang mempermudah langkahnya menuju Baitullah.

“Setiap berdagang, ya meskipun Rp1.000 atau Rp2.000 saya lepaskan saja, diberikan kepada yang membutuhkan,” lanjut Muqorobin menceritakan kebiasaan kecilnya yang bermakna besar.

Baca Juga: Jelang Iduladha, Disnakkan Boyolali Bekali 65 Calon Juru Sembelih Halal dengan Teknik Syar'i

Saat ini, fokus utamanya hanyalah beribadah dengan khusyuk tanpa terbebani pikiran duniawi.

“Perasaannya senang sekali ini. Sudah tidak terpikir yang lain-lain, pokoknya berangkat saja atas izin "Juragan" (Allah),” ujarnya menggambarkan kepasrahan totalnya.

Pengalaman di Asrama Haji Donohudan

Memasuki fase keberangkatan, Muqorobin memberikan apresiasi terhadap pelayanan yang diterimanya selama berada di Asrama Haji Donohudan (AHD).

Ia merasa diperlakukan dengan sangat baik oleh para petugas. Mulai dari urusan administrasi hingga fasilitas tempat tinggal sementara yang dinilainya sangat layak.

Hal ini semakin menambah kedamaian hatinya sebelum terbang menuju Madinah dan Makkah.

Kisah hidup Muqorobin menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa tidak ada yang mustahil jika usaha dibarengi dengan keikhlasan.

Menabung dari recehan selama 22 tahun bukanlah hal yang mudah, namun bagi Muqorobin, itu adalah jalan ninja untuk mencapai rukun Islam yang terakhir.

“Saya cuma mau menyempurnakan Rukun Islam dan membiasakan sedekah dari hasil dagang,” tutupnya memotivasi dengan penuh kesederhanaan. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#haji 2026 #tukang pentol naik haji #menabung 20 tahun #inspiratif #semarang