RADARSOLO.COM - Denyut aktivitas di Pasar Hewan Sunggingan, Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Boyolali, menunjukkan peningkatan signifikan menjelang hari raya Iduladha.
Ribuan ekor sapi dari berbagai penjuru daerah memadati area pasar pada pasaran Jumat (15/5/2026).
Selain lonjakan jumlah kunjungan, harga jual hewan kurban juga terpantau merangkak naik secara tajam.
Baca Juga: Saling Sindir Faktor Non Teknis Warnai Laga, Maestro Solo FC ditahan Imbang KLN Elite FC
Ini akibat tingginya permintaan pasar yang tidak sebanding dengan ketersediaan stok sapi yang mulai langka di tingkat peternak.
Hingga pukul 10.00, tercatat sebanyak 1.300 ekor sapi telah memasuki area pasar.
Jumlah yang jauh melampaui rata-rata harian normal yang biasanya hanya berkisar di angka 800 hingga 900 ekor.
Pengelola pasar memprediksi jumlah ini masih akan bertambah hingga penutupan pasar di siang hari.
Momentum ini diperkirakan akan mencapai titik puncaknya pada pasaran Rabu Pahing mendatang, yang menjadi hari pasaran terakhir sebelum jatuhnya hari raya kurban.
Lurah Pasar Hewan Sunggingan Mardiyono menyatakan, meskipun terjadi kepadatan, seluruh proses transaksi berjalan kondusif.
Baca Juga: Saling Sindir Faktor Non Teknis Warnai Laga, Maestro Solo FC ditahan Imbang KLN Elite FC
“Untuk Pasar Hewan Sunggingan atau Jelok Alhamdulillah terkendali dan lancar. Situasi sapi yang masuk juga luar biasa sampai hari ini. Ini belum selesai,” jelas Mardiyono.
Kenaikan aktivitas ini juga terpantau merata di beberapa pasar ternak lain di wilayah Boyolali, seperti di Ampel dan Karanggede.
Fenomena kenaikan harga tahun ini dirasakan cukup berat bagi pembeli, dengan rentang kenaikan antara Rp1 juta hingga Rp4 juta per ekor tergantung jenis dan bobot hewan ternak.
Sapi jenis Limosin dan Simental menjadi yang paling banyak diburu meskipun harganya melambung tinggi.
Tren kenaikan harga ini rupanya juga mulai merembet ke komoditas kambing yang mengalami kenaikan harga sekitar Rp500 ribu per ekor dalam dua pekan terakhir.
Mardiyono merinci simulasi kenaikan harga yang terjadi di lapangan.
“Sapi yang semula dari harga Rp 20 juta, sekarang menjadi 24 juta- Rp 25 juta. Kenaikan terjadi karena banyak orang mencari sapi untuk kurban, sedangkan sapi saat ini agak langka,” ungkapnya.
Sementara itu, Gunawan, salah satu pedagang sapi menyebutkan bahwa kenaikan harga bahkan sudah menyentuh level sapi bakalan.
“Kenaikan harganya mulai kurang lebih 1 bulan ini,,” ujarnya.
Untuk sapi kurban siap potong, Gunawan mematok harga mulai Rp20 juta ke atas.
“Macam-macam, beraneka warna. Dari 20 juta ke atas. Ya pokoknya peningkatannya hampir 2 jutaan lah,” tambahnya.
Guna memberikan rasa aman bagi para pembeli, terutama dari luar kota seperti Jakarta dan Malang, otoritas pasar melakukan skrining ketat terhadap setiap ternak yang masuk.
Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara rutin oleh tim dokter hewan guna memastikan tidak ada ternak yang terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) maupun penyakit menular lainnya.
Sejauh ini, kondisi kesehatan ternak di Pasar Sunggingan dinyatakan dalam status aman.
“Sampai hari ini laporannya tidak ada penyakit atau kendala, mungkin sakit yang kena PMK tidak ada,” tegas Mardiyono.
Dengan jaminan kesehatan tersebut, para pedagang kini juga mulai mengoptimalkan layanan pesanan langsung dan sistem penjualan daring (online) untuk menjangkau konsumen yang tidak bisa datang langsung ke pasar, terutama untuk sapi dengan bobot favorit 300–400 kg. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono