RADARSOLO.COM - Sebanyak 17 Bhikkhu sangha yang melakukan ritual berjalan kaki (Thudong) dari Kabupaten Jepara resmi memasuki wilayah Kabupaten Boyolali pada Rabu (27/5/2026).
Rombongan tersebut singgah di Vihara Veluvana “Hutan Bambu” Boyolali untuk beristirahat sebelum melanjutkan rute perjalanan spiritual menjelang Hari Raya Waisak.
Kedatangan para Bhikkhu di sepanjang jalur utama Ampel Boyolali terpantau disambut oleh ratusan umat Buddha dari berbagai kelompok usia sejak pukul 13.00, meskipun rombongan baru tiba di lokasi sekira pukul 14.00.
Warga berdiri di tepi jalan untuk memberikan persembahan makanan, minuman, serta melakukan prosesi menabur bunga di rute jalan raya sebagai bentuk penghormatan tradisi keagamaan.
Salah satu anggota rombongan, Bhikkhu Aggacitto Thera, menjelaskan, perjalanan religius bertajuk “Thudong: Walk for Peace” ini mengambil titik keberangkatan awal dari Candi Sima, Kabupaten Jepara.
“Kami memulai perjalanan Thudong: Walk for Peace ini pada tanggal 20 Mei kemarin, mengambil titik awal dari Candi Sima, Jepara, dan ditargetkan tiba di Candi Sewu, Klaten, pada tanggal 31 Mei,” kata Bhikkhu Aggacitto Thera.
Berdasarkan jadwal panitia, setelah menyelesaikan masa istirahat di Vihara Veluvana, para Bhikkhu akan bergerak menuju pusat Boyolali kota pada Kamis (28/5/2026) pukul 07.00 WIB.
Rombongan dijadwalkan singgah terlebih dahulu di area Pendopo Kabupaten Boyolali sebelum melanjutkan rute jangka panjang menuju Candi Sewu di Kabupaten Klaten.
Aggacitto Thera memaparkan bahwa esensi dari praktik spiritual berjalan kaki ratusan kilometer ini didasari atas komitmen keikhlasan dan keteguhan kesadaran batin.
Baca Juga: Sapi Presiden 1,2 Ton untuk Karanganyar Disembelih di Jumantono
“Kami berjalan dengan satu keyakinan, yakni menyambut Waisak bersama-sama dan menggaungkan nilai-nilai positif,” jelas Bhikkhu yang saat ini bertugas di wilayah Kota Medan, Sumatera Utara tersebut.
Pemilihan tema Jalan Damai dinilai representatif untuk merespons dinamika sosial politik global maupun domestik saat ini. Kehadiran para Bhikkhu di jalanan sekaligus menjadi indikator kepatuhan toleransi masyarakat lintas iman di sepanjang jalur pantura hingga pedalaman soko guru Jawa Tengah.
“Kita semua pasti ingin hidup damai dan bahagia. Lebih dari itu, kami ingin merawat kebersamaan di Indonesia yang penuh dengan keanekaragaman suku, ras, budaya, dan agama,” tambah Aggacitto Thera.
Baca Juga: Rampung Salat Idul Adha, Lanjut Tumpengan Hari Jadi Ke-280 Sragen
Mengenai evaluasi rute geografi yang telah dilalui selama tujuh hari terakhir, tim Bhikkhu mencatatkan dua klaster tantangan fisik terbesar.
Sektor pertama adalah elevasi tanjakan curam yang panjang di wilayah administrasi Kota Semarang, sedangkan sektor kedua adalah faktor anomali cuaca panas dengan suhu udara yang tinggi saat melintasi wilayah Kabupaten Demak.
“Sedangkan untuk cuaca ekstrem, daerah Demak luar biasa panasnya. Namun, dengan tekad bulat, langkah demi langkah tetap kami lalui hingga sore ini kami bisa tiba di sini. Ada begitu banyak kesan menarik di sepanjang perjalanan ini,” pungkas Aggacitto Thera. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono