Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Khawatir Ambruk, Warga 3 RT di Ledoksari Boyolali Gotong Royong Perbaiki Jembatan Bambu 38 Meter dan Harap Bantuan

Abdul Khofid Firmanda Putra • Kamis, 28 Mei 2026 | 14:14 WIB
Khawatir Ambruk, Warga 3 RT di Dasari Boyolali Gotong Royong Perbaiki Jembatan Bambu 38 Meter dan Harap Bantuan (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)
Khawatir Ambruk, Warga 3 RT di Dasari Boyolali Gotong Royong Perbaiki Jembatan Bambu 38 Meter dan Harap Bantuan (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Puluhan petani dan warga di Dukuh Ledoksari, Desa Dligo, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, bergotong royong membangun kembali jembatan bambu darurat sepanjang 38 meter, yang melintasi sungai setempat.

Jembatan ini menjadi akses vital bagi warga menuju lahan pertanian.

Ketua RT 11 Ledoksari, Sunarno, menyebut jembatan ini merupakan urat nadi bagi warga di tiga RT, yakni RT 11, RT 12, dan RT 13.

"Aktivitas ke sawah itu lewatnya sini. Kalau harus memutar lewat Jembatan Kerasan atau Karangpilang itu jauh sekali, ada sekitar dua kilometer," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (28/5).

Jika jembatan putus, warga dan petani harus memutar sejauh dua kilometer lewat Jembatan Kerasan untuk sampai ke sawah.

Jembatan bambu tersebut awalnya dibangun swadaya murni warga sekitar lima tahun lalu.

Namun, fondasi di sisi selatan kini memprihatinkan karena terus terkikis arus sungai.

"Kaki jembatan sebelah selatan itu sudah menggantung sedalam 1,5 meter akibat tergerus air. Kami sangat khawatir jembatan ini ambrol dan memakan korban jiwa. Kalau mau membangun jembatan permanen secara mandiri, masyarakat jelas tidak mampu karena kendala dana," jelasnya.

Melihat kondisi yang membahayakan, warga dari tiga RT mengumpulkan bantuan berupa bambu, paku, dan kawat secara swadaya selama 4-5 minggu terakhir.

Sekitar 800 batang bambu digunakan untuk memperbaiki jembatan agar bisa dilalui sementara waktu.

"Sekarang sudah bisa dilalui untuk lewat saja, tapi belum sempurna. Setidaknya untuk minggu-minggu ini ibu-ibu sudah mulai berani lewat. Kemarin-kemarin sama sekali tidak ada yang berani karena kondisinya ngeri," tambah Sunarno.

Postingan kondisi jembatan bambu di sana sempat ramai di media sosial Facebook.

Diketahui, jembatan sederhana itu menjadi akses tercepat warga menuju area persawahan.

Pada Senin (25/5), warga terlihat mengganti bambu yang rapuh dengan bambu baru agar tetap aman dilalui pejalan kaki.

Perbaikan dilakukan secara gotong royong setiap hari Minggu karena mayoritas warga bekerja di hari biasa. 

Saat ini, jembatan ini dimanfaatkan sekitar 13 kepala keluarga warga Dukuh Ledoksari untuk mengakses sawah di seberang sungai.

Salah seorang warga, Jiyati (52), menyebut jembatan ini penting terutama bagi lansia yang tidak bisa mengendarai motor.

"Kalau jalan kaki kan cepat lewat jembatan ini," ujarnya.

Menurutnya, jembatan itu dibangun swadaya sejak awal. Meski ada jembatan permanen, jaraknya memutar hingga 2 kilometer dari area persawahan.

"Kalau jembatan permanen ada juga. Tapi kalau ke sawah harus muter sampai 2 kilometer," katanya.

Warga berharap pemerintah segera turun tangan memberikan bantuan pembangunan jembatan yang layak dan aman, minimal yang bisa dilalui kendaraan roda dua untuk mengangkut hasil panen.

"Harapan kami ada bantuan dari pemerintah. Kalau tidak ada campur tangan pemerintah, kami khawatir jembatan bambu darurat ini akan kembali hanyut atau ambruk saat memasuki musim penghujan berikutnya," pungkas Sunarno.(fid)

Editor : Nur Pramudito
#Dasari #Jembatan Bambu #Boyolali