RADARSOLO.COM-Mengajak anak usia dini berkunjung ke museum memiliki kontribusi yang linier terhadap stimulasi tumbuh kembang anak.
Aktivitas luar ruangan ini tidak hanya berfungsi sebagai media penambah wawasan teoretis.
Melainkan juga efektif untuk melatih sistem motorik, meningkatkan konsentrasi, memantik daya kreativitas, hingga menanamkan empati sosial pada anak.
Baca Juga: MG Motors Rilis MG 4X, SUV Mobil Listrik Murah Rp 200 Jutaan dengan Jarak Tempuh 610 Km
Ketua Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Boyolali Nuri Rinawati menjelaskan, kunjungan ke museum dapat mengoptimalkan fungsi perkembangan motorik anak, dengan catatan tata kelola kegiatan di dalam museum dirancang secara aktif dan interaktif.
Pada aspek motorik kasar, anak-anak mendapatkan ruang gerak fisik yang memadai melalui aktivitas sebagai berikut:
- Berjalan kaki menyusuri koridor pameran
- Menaiki atau menuruni tangga
- Menjaga keseimbangan tubuh saat berpindah ruang
- Mengikuti simulasi permainan edukatif.
Sementara pada aspek motorik halus, otot-otot kecil dan koordinasi visual anak dapat terstimulasi dengan baik melalui ketersediaan media peraga yang dapat disentuh atau dimanipulasi secara langsung.
“Kegiatan seperti menyentuh media edukasi, menggambar atau mewarnai objek yang dilihat di museum, menyusun puzzle, sangat membantu melatih otot-otot kecil di tangan dan koordinasi mata-tangan,” kata Nuri Rinawati, Jumat (29/5/2026).
Dari sudut pandang kognitif, tata ruang museum yang menyajikan keragaman visual merangsang anak untuk melatih fokus dan kejelian terhadap detail objek.
“Untuk fokusnya seperti kegiatan melihat atau memperhatikan bentuk, warna, cahaya, juga suara. Juga melatih koordinasi mata dan tangan saat anak mengamati detail benda yang dikunjungi, saat anak menunjuk objek,” tambah Nuri.
Baca Juga: Seorang Istri Nekat Sembunyikan "Paket Komplit" Narkoba di Balik Pembalut saat Besuk di Lapas Sragen
Nuri memaparkan, terdapat fase keemasan (golden age) di mana struktur berpikir anak telah siap menerima input informasi dari museum.
Rentang usia yang dinilai paling ideal untuk memulai kunjungan edukasi ini adalah pada usia 4 hingga 7 tahun.
Pada fase usia tersebut, anak secara psikologis telah menunjukkan kemampuan untuk berkonsentrasi dalam durasi tertentu, memiliki frekuensi bertanya yang tinggi, menunjukkan ketertarikan kuat untuk mengeksplorasi lingkungan baru, serta mampu mematuhi instruksi atau aktivitas sederhana.
“Selain itu anak usia tersebut sudah mulai memahami cerita sejarah sederhana, dan usia dimana imajinasi berkembang pesat,” jelasnya.
Baca Juga: Veda Ega Pratama Optimistis di Moto3 Italia 2026, Sirkuit Mugello Jadi Trek Favorit
Kendati demikian, orang tua diimbau tidak sembarangan dalam memilih lokasi.
Untuk pemenuhan kebutuhan anak, jenis museum yang direkomendasikan adalah museum sains yang menyediakan alat peraga uji coba sederhana, galeri seni yang memiliki ruang praktik kriya.
Serta museum sejarah budaya yang dilengkapi dengan fasilitas replika artefak atau pakaian adat yang boleh dicoba secara interaktif.
Manfaat dari wisata edukasi ini dipastikan memberikan dampak berkelanjutan pada struktur kepribadian anak.
Bahkan setelah mereka selesai melakukan kunjungan dan kembali ke lingkungan rumah.
“Tentunya akan meningkatkan daya kritis anak. Museum biasanya terstruktur, ini akan membantu kebijakan mengelola emosi dan sensory, meningkatkan daya kreativitas dan observasi pada anak, empati dan pemahaman sosialnya meningkat," ujar Nuri.
Baca Juga: Diwarnai Drama Kartu Merah, Maestro Solo Dibungkam Hampton FC 4-1
"Kalau berkunjung dengan keluarga tentunya akan meningkatkan kehangatan dan kedekatan dengan keluarga, mempengaruhi kepeminatan anak dan cita-citanya,” lanjutnya.
Melalui manajemen kunjungan yang terencana, museum dapat diposisikan sebagai alternatif instrumen parenting yang terjangkau namun memiliki dampak yang komprehensif bagi tumbuh kembang fisik dan mental anak sebelum memasuki usia sekolah formal. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono