RADARSOLO.COM-Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali mencatat adanya tren peningkatan volume serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada komoditas tanaman padi sepanjang semester I tahun 2026.
Berdasarkan draf pemetaan dinas, hama tikus serta penggerek batang padi menjadi dua jenis OPT dengan cakupan luasan serangan terbesar yang mengancam stabilitas produksi beras di daerah tersebut.
Kepala Dinas Pertanian Boyolali Suyanta menuturkan, hama tikus menempati posisi teratas dengan tingkat persebaran yang paling merata di lapangan.
Wilayah endemis serangan hewan pengerat ini awalnya terdeteksi di kawasan Kecamatan Mojosongo, Teras, dan Boyolali Kota.
Namun belakangan dilaporkan meluas ke sektor utara, meliputi Kecamatan Klego dan Andong.
Sementara itu, untuk kasus serangan penggerek batang padi menempati peringkat kedua dengan wilayah terdampak mencakup Kecamatan Karanggede, Mojosongo, Banyudono, Sawit, Sambi, dan Ngemplak.
Selain kedua jenis OPT tersebut, transisi iklim menuju musim kemarau dengan karakteristik suhu udara yang lebih panas turut memicu kemunculan hama wereng batang cokelat.
“Sejak Mei hingga Juni ini, serangan wereng batang cokelat dilaporkan mulai menyebar di beberapa wilayah, di antaranya Kecamatan Nogosari, Sambi, dan Wonosegoro,” kata Suyanta memberikan keterangan teknis, Kamis (4/6/2026).
Suyanta menambahkan, variasi karakteristik serangan di setiap wilayah dipengaruhi oleh pola fase tanam setempat.
Baca Juga: Jangan Ketinggalan! Cek Rangkaian Acara Seru Hari Jadi Boyolali
Sebagai contoh, di Kecamatan Banyudono yang menerapkan pola tanam tidak serentak, varian jenis OPT cenderung lebih beragam.
Sebaliknya, di Kecamatan Nogosari yang mengimplementasikan pola tanam serentak, dominasi jenis OPT terpantau lebih konsisten mengikuti siklus fase vegetatif dan generatif tanaman.
Peningkatan aktivitas OPT ini berdampak langsung pada fluktuasi hasil panen para petani. Pada klaster lahan dengan tingkat kerusakan kategori parah, angka penurunan produktivitas dilaporkan dapat melebihi ambang batas 50 persen.
Secara akumulatif kabupaten, perbandingan antara total luasan area yang terdampak serangan dengan total luasan lahan panen menghasilkan rata-rata nilai penurunan produksi berkisar pada angka 30 hingga 35 persen.
Baca Juga: Alami Pembengkakan Jari, Warga Datangi Kantor Damkar Boyolali untuk Potong Cincin
“Angka ini rata-rata kabupaten, karena ada petani yang rugi besar dan ada yang dampaknya kecil berkat gerakan pengendalian cepat,” urai Suyanta.
Jika dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, grafik serangan OPT tahun 2026 ini berjalan lebih tinggi, terutama untuk komoditas hama tikus.
Dinas Pertanian Boyolali menetapkan Angka Peramalan luasan serangan tahunan sebesar 497 hektare.
Namun, per bulan Juni atau baru berjalan setengah tahun, realisasi luasan lahan yang terserang telah menyentuh angka 70 persen dari kuota peramalan, atau berkisar di area 300-an hektare.
Guna memitigasi perluasan dampak kerusakan, Dinas Pertanian Boyolali menerapkan empat langkah penanganan strategis di lapangan, antara lain:
-
Pelaksanaan agenda gerakan pengendalian secara kontinu dan terjadwal bersama kelompok tani setempat.
-
Penyaluran bantuan logistik rodentisida berupa umpan racun tikus kepada kelompok-kelompok tani aktif untuk diaplikasikan secara mandiri.
-
Fasilitasi bantuan belerang untuk mengoptimalkan metode pengasapan atau gropyokan pada lubang-lubang aktif tikus di area persawahan.
-
Memastikan kesiapan ketersediaan pasokan stok obat insektisida di gudang dinas.
“Saat ini kami sedang melakukan koordinasi intensif dengan berbagai kelompok tani yang ingin mengajukan gerakan pengendalian massal secara bersama-sama,” tegas Suyanta mengenai langkah koordinasi terkini.
Baca Juga: Susul Mapel Batik, DPRD Beri Lampu Hijau Usulan Sejarah Kota Solo Jadi Pelajaran Formal Sekolah
Dinas Pertanian Boyolali mengimbau para petani untuk meningkatkan kewaspadaan dan segera melayangkan laporan resmi kepada petugas penyuluh lapangan (PPL) apabila menemukan indikasi maupun gejala serangan dini di area sawahnya.
“Pengendalian lebih efektif kalau dilakukan bersama dan sejak awal. Jangan tunggu serangan meluas,” pungkas Suyanta. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono