Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Dinkes Boyolali Bagikan Tips Atasi Gerakan Tutup Mulut pada Balita melalui Penerapan Aturan Feeding Rules

Abdul Khofid Firmanda Putra • Jumat, 5 Juni 2026 | 15:05 WIB
Ilustrasi balita sedang bermain prosotan. (DOK.RADAR SOLO)
Ilustrasi balita sedang bermain prosotan. (DOK.RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali menegaskan bahwa peran aktif orang tua merupakan garda terdepan dalam menekan angka kasus stunting, khususnya pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Pemahaman yang tepat dari pihak keluarga dinilai menjadi modal utama dalam memantau pertumbuhan anak secara mandiri untuk mencegah risiko gangguan tumbuh kembang sejak dini.

Baca Juga: Gubernur Luthfi Antarkan Provinsi Jawa Tengah Raih Penghargaan Pengendalian Inflasi Terbaik dari Kemendagri

Kepala Dinkes Boyolali F.X Kristandiyoko meluruskan pemahaman keliru di tengah masyarakat yang mengidentikkan stunting semata-mata dengan kondisi fisik anak yang berbadan pendek.

Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Cirinya, panjang atau tinggi badan anak berada di bawah standar yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan,” kata F.X Kristandiyoko, Jumat (5/6/2026).

Kristandiyoko juga mematahkan anggapan sekelompok ibu yang merasa cemas karena mengira bahwa penyusunan menu Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) membutuhkan biaya mahal dan proses yang merepotkan.

Pihak dinas menyatakan bahwa menu MPASI dengan mutu gizi tinggi dapat diperoleh menggunakan bahan pangan lokal yang ramah kantong.

Kunci utama dalam penyusunan MPASI yang benar terletak pada pemenuhan unsur formula 3K, dengan rincian unsur sebagai berikut:

Lebih lanjut, bagi balita yang baru memasuki usia 6 bulan, draf panduan teknis MPASI pemula diatur berdasarkan tiga indikator dasar, yakni:

Secara makro, Kristandiyoko mengingatkan bahwa stunting dipicu oleh multifaktor.

Baca Juga: Jateng Jadi Provinsi Pelopor Pendidikan Koperasi di Sekolah, Sasar 6,38 Juta Siswa

Mulai dari minimnya pemenuhan asupan nutrisi sejak anak berada di dalam kandungan, paparan infeksi penyakit berulang seperti diare dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), pola asuh yang tidak optimal, hingga buruknya kualitas sanitasi lingkungan.

Oleh karena itu, intervensi penanganan mutlak harus dilakukan dari hulu dengan mewajibkan orang tua rutin membawa anak ke Posyandu setiap bulan guna mendeteksi dini draf grafik berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) anak.

Apabila grafik pertumbuhan datar atau menurun selama dua bulan berturut-turut, masyarakat diminta segera berkonsultasi ke bidan atau puskesmas.

Sementara itu, untuk mengantisipasi fase anak susah makan atau Gerakan Tutup Mulut (GTM), Kadinkes menyarankan implementasi aturan makan (feeding rules) yang ketat.

Baca Juga: Perangkat Desa dari Kecamatan Selogiri Kompak Desak Camat Fredy Mundur, Beber Alasannya di Depan Sekda Wonogiri

Langkah tersebut meliputi penerapan jadwal makan yang konsisten dengan jeda waktu 2–3 jam, menciptakan atmosfer makan yang tenang dan nyaman tanpa paksaan, serta mengeliminasi faktor distraksi seperti mematikan televisi dan menjauhkan gawai dari jangkauan anak saat makan.

“Cara paling gampang cegah stunting adalah rutin datang ke Posyandu untuk pantau tumbuh kembang, berikan MPASI sesuai prinsip 3K, terapkan feeding rules, dan selalu jaga pola hidup bersih dan sehat PHBS,” pungkas FX Kristandiyoko. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#gerakan tutup mulut pada balita #gtm #feeding rules #dinkes boyolali