RADARSOLO.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali menegaskan bahwa peran aktif orang tua merupakan garda terdepan dalam menekan angka kasus stunting, khususnya pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Pemahaman yang tepat dari pihak keluarga dinilai menjadi modal utama dalam memantau pertumbuhan anak secara mandiri untuk mencegah risiko gangguan tumbuh kembang sejak dini.
Kepala Dinkes Boyolali F.X Kristandiyoko meluruskan pemahaman keliru di tengah masyarakat yang mengidentikkan stunting semata-mata dengan kondisi fisik anak yang berbadan pendek.
“Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Cirinya, panjang atau tinggi badan anak berada di bawah standar yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan,” kata F.X Kristandiyoko, Jumat (5/6/2026).
Kristandiyoko juga mematahkan anggapan sekelompok ibu yang merasa cemas karena mengira bahwa penyusunan menu Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) membutuhkan biaya mahal dan proses yang merepotkan.
Pihak dinas menyatakan bahwa menu MPASI dengan mutu gizi tinggi dapat diperoleh menggunakan bahan pangan lokal yang ramah kantong.
Kunci utama dalam penyusunan MPASI yang benar terletak pada pemenuhan unsur formula 3K, dengan rincian unsur sebagai berikut:
-
Karbohidrat: Berfungsi sebagai sumber energi utama bagi anak, yang dapat diperoleh dari komoditas nasi, kentang, ubi, maupun singkong.
-
Kaya Protein Hewani: Bersumber dari hati ayam, daging, telur, dan ikan yang bertindak sebagai pemasok zat besi utama untuk memitigasi risiko anemia pada anak.
-
Kandungan Lemak Tambahan: Pemanfaatan komponen minyak, santan, atau mentega. “Fungsinya mengejar kebutuhan kalori harian,” ujar Kristandiyoko.
Lebih lanjut, bagi balita yang baru memasuki usia 6 bulan, draf panduan teknis MPASI pemula diatur berdasarkan tiga indikator dasar, yakni:
-
Tekstur Makanan: Tahapan diawali dengan pemberian bubur saring bertekstur kental, kemudian secara bertahap dinaikkan menjadi cincang halus.
-
Porsi Makanan: Diberikan mulai dari takaran 2–3 sendok makan pada fase awal, lalu dinaikkan secara bertahap hingga mencapai kapasitas setengah mangkok ukuran 250 ml.
-
Frekuensi Makanan: Diberikan secara rutin sebanyak 2–3 kali sehari, dengan disertai pemberian 1–2 kali makanan selingan (snack) sehat.
Secara makro, Kristandiyoko mengingatkan bahwa stunting dipicu oleh multifaktor.
Baca Juga: Jateng Jadi Provinsi Pelopor Pendidikan Koperasi di Sekolah, Sasar 6,38 Juta Siswa
Mulai dari minimnya pemenuhan asupan nutrisi sejak anak berada di dalam kandungan, paparan infeksi penyakit berulang seperti diare dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), pola asuh yang tidak optimal, hingga buruknya kualitas sanitasi lingkungan.
Oleh karena itu, intervensi penanganan mutlak harus dilakukan dari hulu dengan mewajibkan orang tua rutin membawa anak ke Posyandu setiap bulan guna mendeteksi dini draf grafik berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) anak.
Apabila grafik pertumbuhan datar atau menurun selama dua bulan berturut-turut, masyarakat diminta segera berkonsultasi ke bidan atau puskesmas.
Sementara itu, untuk mengantisipasi fase anak susah makan atau Gerakan Tutup Mulut (GTM), Kadinkes menyarankan implementasi aturan makan (feeding rules) yang ketat.
Langkah tersebut meliputi penerapan jadwal makan yang konsisten dengan jeda waktu 2–3 jam, menciptakan atmosfer makan yang tenang dan nyaman tanpa paksaan, serta mengeliminasi faktor distraksi seperti mematikan televisi dan menjauhkan gawai dari jangkauan anak saat makan.
“Cara paling gampang cegah stunting adalah rutin datang ke Posyandu untuk pantau tumbuh kembang, berikan MPASI sesuai prinsip 3K, terapkan feeding rules, dan selalu jaga pola hidup bersih dan sehat PHBS,” pungkas FX Kristandiyoko. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono