RADARSOLO.COM-Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi musim kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino 2026.
Berdasarkan instruksi BMKG, serta hasil rapat koordinasi konservasi, BTNGMb diminta memperketat kewaspadaan karena karakteristik kemarau tahun ini diprediksi akan jauh lebih kuat, lebih panjang, dan lebih panas dibandingkan periode biasanya.
Kepala BTNGMb Anggit Haryoso menjelaskan, pihaknya telah menjalankan sejumlah langkah mitigasi terstruktur guna meminimalkan potensi terjadinya kebakaran hutan di area konservasi.
Langkah awal difokuskan pada penguatan komunikasi dengan jajaran penegak hukum serta warga setempat.
“Ada beberapa hal yang sudah kita upayakan. Yang pertama adalah melakukan koordinasi dan sosialisasi terhadap kondisi kawasan dengan masyarakat yang ada di sekitar kawasan, APH, juga dengan polres setempat,” ujar Anggit, Selasa (8/6/2026).
Selain penyuluhan eksternal, BTNGMb memperketat pengawasan terhadap aktivitas para pendaki gunung dan masyarakat petani yang beraktivitas di sekitar batas hutan.
Setiap kelompok pendaki diwajibkan mengikuti sesi pengarahan (briefing) sebelum memulai perjalanan guna menegaskan larangan membuat api unggun atau meninggalkan sisa pembakaran dalam skala besar.
Para petani juga diimbau untuk tidak menerapkan metode pembakaran dalam proses pembersihan lahan pertanian mereka.
“Karena sekali lagi, mencegah itu jauh lebih baik daripada kita melakukan pemadaman,” jelas Anggit.
Baca Juga: DPRD Solo Soroti Delapan Dapur MBG Disetop, Pemkot Dituding Kecolongan Verifikasi IPAL
Pengalaman insiden kebakaran hutan pada 2023 dijadikan sebagai bahan evaluasi utama.
Pada tahun ini, BTNGMb mengedepankan aspek kolaborasi aktif yang melibatkan masyarakat pinggiran kawasan, pemerintah daerah, serta jajaran internal Taman Nasional.
Secara geografis, kawasan TN Gunung Merbabu yang berada di bawah pengelolaan BTNGMb mencakup total luas mencapai 5.820 hektare.
Wilayah administratifnya tersebar di tiga daerah, yaitu Kabupaten Boyolali, Kabupaten Semarang, dan Kabupaten Magelang.
Dalam peta kerawanan tahun ini, BTNGMb menempatkan wilayah Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Magelang sebagai prioritas utama pengawasan.
Hal tersebut didasarkan pada analisis vegetasi, di mana kedua wilayah tersebut sudah hampir dua tahun tidak mengalami kebakaran, sehingga akumulasi tumpukan material kering atau bahan bakar alami di lantai hutan terpantau sangat tinggi.
“Terkait dengan prioritas kami, karena tahun 2023 terjadi kebakaran di wilayah Kabupaten Semarang, dan sudah hampir 2 tahun ini tidak terjadi di wilayah Magelang dan Boyolali, terutama Boyolali, otomatis potensi bahan bakarnya cukup tinggi, dan itu menjadi prioritas kami untuk memitigasi,” urai Anggit.
Sebagai langkah taktis di lapangan, BTNGMb mengintensifkan kegiatan patroli hutan secara berkala serta mulai membangun sekat bakar.
Pembuatan sekat fisik ini bertujuan untuk memutus jalur rambatan api apabila sewaktu-waktu muncul titik kebakaran, sehingga tidak meluas ke blok hutan lainnya. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono