Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Trauma Tanam Padi, Petani Banyudono Boyolali Merugi Rp5 Juta per Patok Akibat Hama Tikus

Abdul Khofid Firmanda Putra • Rabu, 1 Juli 2026 | 12:22 WIB
Gropyokan tikus di Kecamatan Banyudono, Boyolali melibatkan beragam elemen, Rabu (1/7/2026). (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)
Gropyokan tikus di Kecamatan Banyudono, Boyolali melibatkan beragam elemen, Rabu (1/7/2026). (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM- Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali bersama kelompok tani, unsur TNI-Polri serta petugas penyuluh lapangan menggelar aksi gropyokan massal di area persawahan yang terdampak serangan hama tikus di Kecamatan Banyudono, Rabu (1/7/2026). 

Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) ini dilaksanakan guna menyikapi banyaknya lahan pertanian yang mengalami fenomena gagal panen.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Ketaon, Kecamatan Banyudono Widodo memaparkan, intensitas serangan hama tikus telah berlangsung selama dua musim tanam berturut-turut.

Baca Juga: Pesan Eksel Runtukaku untuk Jakmania Usai Resmi Bertahan: Kita Bawa Persija Jakarta Juara! 

Khusus di wilayah Banyudono, akumulasi luas lahan yang terdampak serangan mencapai kisaran 14 hektare.

Adapun luasan yang mengalami gagal panen total mencapai sekitar 2 hektare.

Akibat hama tikus, para petani setempat sudah setahun tidak dapat memanen kpadi dan jagung.

Metode gropyokan ini menerapkan teknik fumigasi atau pengasapan pada lubang-lubang tikus menggunakan emposan berbahan baku belerang guna menekan populasi hama secara langsung.

“Harapannya (gropyokan) bisa mengurangi serangan selanjutnya dan petani ini bisa panen sesuai dengan harapan,” tambahnya.

Ketua Gapoktan Marsudi Tani Desa Ketaon Sumarno menambahkan, menyiasati gagal panen padi, jagung, dan kedelai yang telah terjadi sebanyak dua kali berturut-turut, sebagian petani mengalihkan pemanfaatan lahan untuk menanam tembakau.

Baca Juga: Diduga Gara-Gara Puntung Rokok, Dua Rumah di Selogiri Wonogiri Ludes Dilalap Api

“Ini kan musimnya tembakau, banyak yang nanem tembakau ini,” ujarnya.

Sumarno merinci, dalam kondisi normal, modal produksi padi berkisar Rp3 juta per patok (di mana 1 hektare setara dengan 4 patok, atau total modal Rp12 juta per hektare) dengan estimasi pendapatan hasil panen mencapai Rp8 juta per patok.

Akibat gagal panen ini, petani merugi sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta per patok karena pendapatan menjadi tidak menentu.

Upaya mandiri seperti memasukkan kapur barus ke dalam lubang tikus dinilai tidak maksimal karena tingginya populasi hama.

Sementara itu, Kepala Dispertan Boyolali Suyanta mengonfirmasi bahwa wilayah Kecamatan Banyudono dan Kecamatan Sawit menjadi daerah dengan tingkat temuan kasus hama tikus tertinggi.

Baca Juga: Siapa Andi Saputra? Sosok Hakim yang Minta Nadiem Makarim Dibebaskan dalam Kasus Korupsi Chromebook

“Kegiatan pengendalian di Banyudono ini merupakan inisiatif dari pihak penyuluh yang didukung penuh oleh pak camat serta Danramil," katanya. 

"Sebenarnya kondisi serangan hama tidak separah yang dibayangkan, namun fokus utamanya adalah bagaimana agar pengendalian ini bisa dilakukan secara rutin,” lanjut Suyanta.

Salah satu indikator pemicu melonjaknya populasi tikus di kedua kawasan tersebut, imbuh Suyanta, disebabkan konstruksi dinding jalan tol yang berupa tanggul tanah.

Area lereng tol yang ditumbuhi rumput liar bertransformasi menjadi lokasi persembunyian dan sarang aman bagi tikus karena tidak terjamah aktivitas manusia.

Guna mengatasi hal tersebut, Dispertan menerapkan strategi kombinasi berupa gropyokan massal, pemanfaatan burung hantu, serta penekanan pola tanam serentak untuk memutus rantai ketersediaan pakan tikus di sawah.

Baca Juga: HUT Bhayangkara ke-80 Polres Sragen: Kapolres Ingatkan Bahaya Kejahatan Siber

“Penerapan pola tanam serentak sangat krusial. Jika petani menanam di waktu yang berbeda-beda, ketersediaan pakan bagi tikus akan selalu ada sepanjang tahun tanpa putus," tuturnya.

"Sebaliknya, dengan tanam serentak, akan tercipta masa kosong atau bera setelah panen yang efektif memutus rantai makanan tikus dan memaksa mereka bermigrasi mencari makan ke luar kawasan persawahan,” kata Suyanta.

Sebagai langkah inovasi, Dispertan Boyolali akan melakukan uji coba penanaman sereh dapur di Desa Jembungan pada lahan seluas 20 hektare melalui penempatan di area galengan sawah dengan jarak masing-masing 1 meter.

Trik yang didasarkan pada riset bersama para profesor dari enam perguruan tinggi ini memanfaatkan karakteristik aroma sereh dapur yang tidak disukai oleh tikus. Program ini akan direalisasikan tahun ini menggunakan alokasi anggaran perubahan.

Baca Juga: Hasil Piala Dunia 2026 Hari Ini: Meksiko Singkirkan Ekuador 2-0, El Tri Cetak Sejarah dan Lolos ke 16 Besar

Suyanta menegaskan bahwa secara makro, dampak kerusakan akibat serangan hama tikus di Kabupaten Boyolali masih berada dalam kategori ambang batas aman dan terkendali.

Berdasarkan data statistik terbaru, total lahan sawah di Boyolali yang terserang hama berjumlah 61 hektare, dengan rincian persebaran :

Dari total tersebut, kasus puso tercatat seluas 6 hektare dan area yang masuk kategori waspada serangan mencapai 315 hektare.

“Gerdal harus dilakukan secara kontinu dan berkala, misalnya bergilir sebulan sekali dari desa ke desa, bukan hanya sekadar gerakan musiman yang langsung berhenti setelah satu kali pelaksanaan,” tambah Suyanta.

Baca Juga: SMPN 2 Karangpandan Terbakar, Diduga Dipicu Korsleting Audio Amplifier

Bagi petani yang mengalami kerugian akibat puso, pemerintah telah menyiapkan skema ganti rugi melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dengan ketersediaan kuota mencapai 500 hektare. Kuota asuransi ini diprioritaskan bagi wilayah terdampak di Kecamatan Banyudono dan Sawit.

“Tapi alokasinya akan disebar secara merata dan tidak hanya terpusat di satu kecamatan saja,” pungkas Suyanta. (fid)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#BANYUDONO BOYOLALI #serangan tikus #petani merugi #Hama Tikus #gropyokan tikus