Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Setelah di Gladak Solo, Pinsar Boyolali Perjuangkan Kenaikan Harga Telur di Depan Kantor Pemkab Boyolali

Abdul Khofid Firmanda Putra • Kamis, 9 Juli 2026 | 17:03 WIB
Pinsar Boyolali menggelar aksi damai di kompleks kantor Pemkab Boyolali, Kamis (9/7/2026). (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)
Pinsar Boyolali menggelar aksi damai di kompleks kantor Pemkab Boyolali, Kamis (9/7/2026). (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Boyolali menggelar aksi damai di kompleks kantor Pemkab Boyolali, Kamis (9/7/2026).

Rangkaian aksi ini dilangsungkan sebagai bentuk ekspresi kekecewaan para pelaku usaha atas anjloknya harga jual telur di pasaran yang dinilai tidak sebanding dengan tingginya biaya produksi.

Dalam aksinya, para peternak membawa armada mobil bak terbuka masuk ke dalam area parkiran kantor dinas.

Baca Juga: Kejari Karanganyar Ajukan Kasasi dalam Kasus Korupsi Aset Kades Jaten

Mereka kemudian menjual langsung komoditas telur tersebut kepada para pegawai pemerintahan di lingkungan Pemkab Boyolali.

Ketua Pinsar Boyolali Krishandika Immanuel Raharjo memaparkan, saat ini ekosistem peternak lokal sedang menghadapi dua tantangan berat sekaligus.

Yakni lonjakan harga pakan dan rendahnya harga jual telur di pasaran.

Tingkat keterpurukan sektor ini juga berimbas pada komoditas ayam afkir.

Saat ini, harga ayam afkir di tingkat peternak ada yang terpaksa dijual di angka Rp12.500 per kilogram (kg). 

Bahkan, di luar wilayah kota terpantau sudah ada peternak yang terpaksa menjual seharga Rp8.000 per kg.

Baca Juga: BPBD Boyolali Siapkan Dropping Air Bersih: 2 Desa Sudah Diterima, 2 Lainnya Ajukan Permohonan

Di sisi lain, Krishandika menyampaikan apresiasi atas langkah taktis Pemkab Boyolali yang menerbitkan surat imbauan agar seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) bersedia membeli minimal 1 kilogram telur peternak lokal.

"Kami sangat berterima kasih, khususnya kepada bapak Bupati Boyolali yang telah berkenan mengeluarkan surat imbauan agar seluruh ASN di Boyolali membeli minimal 1 kilogram telur,” lanjutnya. 

Berdasarkan estimasi jumlah ASN yang ada, gerakan kepedulian ini dinilai berpotensi menyerap sekitar 6 sampai 7 ton telur.

Ia juga melayangkan apresiasi kepada Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali yang bersedia memborong komoditas telur dengan menggunakan patokan harga acuan pemerintah terbaru, yakni Rp24 ribu per kilogram.

Saat ini, harga telur di tingkat peternak riil masih tertahan berkisar antara Rp19 ribu hingga Rp21 ribu per kilogram.

Baca Juga: Sukoharjo Dilanda Tiga Kali Karhutla Dalam Sehari, Luas Lahan Terbakar 13,5 Hektare

Tergantung pada indikator kualitas dan volume pembelian.

“Jika dibandingkan biaya produksi, harga acuan lama sebesar Rp26.500 per kilogram sebenarnya angka ideal agar peternak bisa bertahan dan untung," jelas Krishandika.

Menurutnya, beban operasional peternak kian menjepit karena harga bahan baku pakan terus merangkak naik.

Salah satunya dipicu kebijakan monopoli impor BKK oleh BUMN Berdikari.

"Harga bungkil kedelai saja sudah naik Rp2 ribu per kilogram dalam setengah tahun terakhir," katanya.

Krishandika juga menyoroti regulasi harga komoditas jagung.

Penegakan batasan harga acuan jagung sebesar Rp5.500 yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dinilai belum terealisasi di lapangan. 

Faktanya, saat ini peternak harus menebus jagung di kisaran harga Rp6.700 hingga Rp7 shadow ribu per kilogram.

"Kami meminta pemerintah untuk memperhatikan keseimbangan ini. Jika harga jual produk kami ditekan agar murah, mohon bantu kami juga memastikan harga bahan baku pakan bisa murah dan stabil. Jika Harga Pokok Produksi (HPP) bisa ditekan, kami pasti akan dengan senang hati mengikuti harga yang diminta pemerintah," tegas Krishandika.

Sementara itu, Plt Kepala Disnakkan Boyolali Ahmad Gojali mengonfirmasi bahwa agenda aksi komunal peternak ini merupakan tindak lanjut dari draf surat imbauan yang dikeluarkan oleh Bupati Boyolali, Agus Irawan.

Baca Juga: Napak Tilas Sultan Hamengku Buwono X di Sragen: Menyusuri Jejak Perjuangan Pangeran Mangkubumi

"Mereka (peternak) mengeluhkan kondisi peternakan saat ini, di mana harga jual telur sedang turun drastis," terang Gojali. 

"Kondisi tersebut diperparah oleh melimpahnya produksi telur yang tidak sebanding dengan harga pakan yang tinggi, serta kurangnya daya serap pasar,"  lanjutnya.

Sebagai draf langkah penanganan awal, institusi Disnakkan melaporkan telah membeli sebanyak 1 kuintal atau 100 kg telur menggunakan dana swadaya dari jajaran ASN dengan patokan harga acuan pemerintah sebesar Rp24 ribu per kilogram.

Gerakan ini diharapkan mampu menjadi stimulus bagi para peternak lokal.

Gojali menaruh harapan agar draf imbauan bupati ini dipatuhi secara kolektif oleh seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Berdasarkan data statistik, jumlah total ASN di seluruh Kabupaten Boyolali berkisar antara 12 ribu hingga 13 ribu orang.

Jika target satu ASN membeli minimal 1 kilogram telur terpenuhi, gerakan massal ini diproyeksikan mampu menyerap komoditas telur lokal sekitar 6 hingga 7 ton.

"Kami juga berharap pihak BUMD bisa ikut mendukung," pungkas Gojali. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#pinsar boyolali #Harga Telur #Pemkab Boyolali #harga pakan