RADARSOLO.COM- Kasus kebakaran di wilayah Boyolali mengalami peningkatan signifikan pada sepanjang semester I tahun 2026.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025, intensitas laporan musibah kebakaran melonjak sebanyak 20 kasus.
Kabid Damkar Satpol PP Kabupaten Boyolali Supriyono menyebut bahwa peningkatan kasus kebakaran dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu kondisi cuaca dan kelalaian manusia.
Baca Juga: Juan Mera Masuk Radar Legiun Asing Persis Solo, Agennya Ungkap Fakta Ini
Menurut Supriyono, pada tahun ini, siklus musim kemarau datang lebih cepat dibanding tahun lalu yang masih memiliki curah hujan tinggi.
Kondisi tersebut membuat lingkungan menjadi jauh lebih kering dan rawan mudah terbakar.
Meskipun demikian, faktor perubahan alam sebenarnya hanya bertindak sebagai pendukung, sementara penyebab utamanya tetap didominasi oleh kelalaian manusia.
Berdasarkan data resmi, selama periode Januari hingga 13 Juli 2026, laporan kebakaran sebanyak 57 kasus.
Jumlah tersebut naik dua kali lipat atau setara 103 persen dari periode serupa bulan Januari-Juli tahun 2025 yang hanya mencatatkan 28 kasus.
Penyebab dominan diduduki oleh kasus korsleting listrik, aktivitas bakar sampah, serta kebocoran tabung gas, dengan catatan terdapat satu korban mengalami luka-luka.
Dari peta sebaran wilayah, kebakaran didominasi terjadi di:
- Kecamatan Teras : 13 kasus
- Kecamatan Boyolali : 7 kasus
- Kecamatan Simo : 6 kasus
- Kecamatan Klego : 4 kasus
- Kecamatan Ngemplak : 4 kasus
"Laporan kejadian kebakaran memang masih didominasi oleh kebakaran rumah tinggal, sementara kebakaran lahan masih relatif landai," ungkap Supriyono.
Mengingat musim kemarau diprediksi berjalan panjang dan dibarengi potensi fenomena El Nino, Damkar Boyolali mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Antara lain:
- Menghindari membakar sampah atau membersihkan lahan dengan cara pembakaran
- Jika terpaksa dilakukan, prosesnya harus diawasi ketat dan berada jauh dari struktur bangunan kayu atau bambu
- Memeriksa secara berkala kondisi selang dan regulator kompor gas. Jika ditemukan kerusakan, komponen tersebut harus segera diganti dan jangan dipaksakan untuk terus digunakan.
Baca Juga: Pinjam Buku di Perpustakaan Wonogiri Bisa Diantar Ojol, Begini Caranya
“Deteksi dini kebocoran gas. Waspadai tanda-tanda seperti bau gas menyengat, ada embun pada badan tabung, atau terdengar suara mendesis dari regulator. Hindari modifikasi kelistrikan sembarangan,” tegas Supriyono.
Sebagai langkah konkret mitigasi risiko, pihak Damkar Boyolali kini tengah menggencarkan agenda sosialisasi langsung ke tengah masyarakat.
Pada tahun ini, Damkar Boyolali membentuk badan Relawan Pemadam Kebakaran (Redakar) tingkat desa di masing-masing wilayah.
Untuk tahapan awal, program pelatihan keterampilan praktis akan menyasar 7 kecamatan dan dilaksanakan pada hari Selasa dan Rabu (22-23/7/2026).
“Forum ini bertujuan memberikan keterampilan praktis kepada masyarakat agar mampu melakukan penanganan pertama saat terjadi kebakaran sejak dini," tutup Supriyono. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com