Debu dan Udara Kering Picu Lonjakan ISPA di Boyolali, Dinkes Catat Lebih dari 18 Ribu Kasus

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 18:50 WIB
Ilustrasi pengendara mengenakan masker untuk melindungi pernapasan dari debu musim kemarau. (DOK.MAGNIFIC)
Ilustrasi pengendara mengenakan masker untuk melindungi pernapasan dari debu musim kemarau. (DOK.MAGNIFIC)

RADARSOLO.COM-Musim kemarau 2026 memicu peningkatan signifikan pada kasus penyakit saluran pernapasan di Kabupaten Boyolali. Data rekapitulasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Boyolali mencatat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit dengan jumlah kasus terbanyak sepanjang periode ini.

Hingga pekan ke-30 tahun 2026, total akumulasi kasus ISPA yang terdata telah mencapai 18.084 kasus. Tren peningkatan terlihat jelas pada pekan ke-30 yang mencatatkan 603 kasus baru, naik drastis dari pekan ke-29 yang sebanyak 470 kasus.

Selain ISPA, Dinkes Boyolali juga mencatat kasus Influenza-Like Illness (ILI) sebanyak 1.978 kasus, meskipun mengalami tren penurunan menjadi 45 kasus pada pekan ke-30. Sementara itu, kasus pneumonia terakumulasi sebanyak 1.374 kasus, dengan tren melandai menjadi 20 kasus pada pekan ke-30.

Baca Juga: Dampak Kemarau 2026, Produksi Padi Boyolali Mei–Agustus Diprediksi Turun 3,15 Persen

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, FX Kristandiyoko, mengonfirmasi bahwa lonjakan penyakit pernapasan ini dipicu oleh perubahan kondisi lingkungan selama puncak musim kemarau. Lonjakan kasus ISPA paling signifikan dirasakan pada kurun waktu akhir Juli hingga awal Agustus 2026.

"Saat kemarau, debu dan PM10 di udara meningkat, ditambah udara kering dan perubahan suhu ekstrem. Ini membuat saluran pernapasan lebih rentan terinfeksi. Karena itu kami minta masyarakat terutama kelompok rentan untuk lebih waspada," terang FX Kristandiyoko kepada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (12/8/2026).

Kristandiyoko membeberkan sejumlah faktor teknis utama yang memicu kenaikan kasus penyakit pernapasan saat kemarau:

Kelompok Rentan dan Imbauan Kesehatan

Menurut Kristandiyoko, kelompok masyarakat yang paling rentan terpapar dampak kemarau ini meliputi balita, lansia, serta pekerja luar ruangan (outdoor).

Balita rentan karena sistem imunitasnya masih dalam tahap perkembangan, lansia memiliki penurunan daya tahan tubuh yang sering disertai penyakit penyerta (komorbid), sedangkan petani, pengendara motor, serta pedagang kaki lima terus-menerus terpapar debu dan polusi harian.

Baca Juga: Panel Surya Bendungan Sangkrah Dipastikan Tetap Berfungsi

Guna mencegah penyebaran dan keparahan penyakit, Dinkes Boyolali mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah preventif secara mandiri.

"Gunakan masker saat beraktivitas di luar, perbanyak minum air putih, jaga kebersihan lingkungan, dan segera periksa ke Puskesmas jika gejala batuk, pilek, demam, atau sesak napas berlangsung lebih dari 3 hari," imbau Kristandiyoko. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
udara kering debu kasus Boyolali ispa