RADARSOLO.COM-Musim kemarau 2026 memicu peningkatan signifikan pada kasus penyakit saluran pernapasan di Kabupaten Boyolali. Data rekapitulasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Boyolali mencatat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit dengan jumlah kasus terbanyak sepanjang periode ini.
Hingga pekan ke-30 tahun 2026, total akumulasi kasus ISPA yang terdata telah mencapai 18.084 kasus. Tren peningkatan terlihat jelas pada pekan ke-30 yang mencatatkan 603 kasus baru, naik drastis dari pekan ke-29 yang sebanyak 470 kasus.
Selain ISPA, Dinkes Boyolali juga mencatat kasus Influenza-Like Illness (ILI) sebanyak 1.978 kasus, meskipun mengalami tren penurunan menjadi 45 kasus pada pekan ke-30. Sementara itu, kasus pneumonia terakumulasi sebanyak 1.374 kasus, dengan tren melandai menjadi 20 kasus pada pekan ke-30.
Baca Juga: Dampak Kemarau 2026, Produksi Padi Boyolali Mei–Agustus Diprediksi Turun 3,15 Persen
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, FX Kristandiyoko, mengonfirmasi bahwa lonjakan penyakit pernapasan ini dipicu oleh perubahan kondisi lingkungan selama puncak musim kemarau. Lonjakan kasus ISPA paling signifikan dirasakan pada kurun waktu akhir Juli hingga awal Agustus 2026.
"Saat kemarau, debu dan PM10 di udara meningkat, ditambah udara kering dan perubahan suhu ekstrem. Ini membuat saluran pernapasan lebih rentan terinfeksi. Karena itu kami minta masyarakat terutama kelompok rentan untuk lebih waspada," terang FX Kristandiyoko kepada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (12/8/2026).
Kristandiyoko membeberkan sejumlah faktor teknis utama yang memicu kenaikan kasus penyakit pernapasan saat kemarau:
-
Peningkatan Konsentrasi Debu dan PM10: Saat curah hujan rendah, partikel debu melayang dan bertahan lebih lama di udara.
-
Udara Kering dan Kelembapan Rendah: Kondisi ini menyebabkan lapisan lendir pada hidung serta tenggorokan mengering, sehingga mengikis sistem pelindung alami tubuh.
-
Perubahan Suhu Ekstrem: Perbedaan suhu yang kontras antara siang hari yang panas dan malam hari yang dingin menurunkan daya tahan tubuh secara drastis.
-
Polusi Udara: Asap dari pembakaran sampah, kebakaran lahan, hingga emisi kendaraan bermotor memperparah tingkat iritasi pada saluran pernapasan.
Kelompok Rentan dan Imbauan Kesehatan
Menurut Kristandiyoko, kelompok masyarakat yang paling rentan terpapar dampak kemarau ini meliputi balita, lansia, serta pekerja luar ruangan (outdoor).
Balita rentan karena sistem imunitasnya masih dalam tahap perkembangan, lansia memiliki penurunan daya tahan tubuh yang sering disertai penyakit penyerta (komorbid), sedangkan petani, pengendara motor, serta pedagang kaki lima terus-menerus terpapar debu dan polusi harian.
Baca Juga: Panel Surya Bendungan Sangkrah Dipastikan Tetap Berfungsi
Guna mencegah penyebaran dan keparahan penyakit, Dinkes Boyolali mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah preventif secara mandiri.
"Gunakan masker saat beraktivitas di luar, perbanyak minum air putih, jaga kebersihan lingkungan, dan segera periksa ke Puskesmas jika gejala batuk, pilek, demam, atau sesak napas berlangsung lebih dari 3 hari," imbau Kristandiyoko. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com