Cuaca Kering dan Polusi Debu Kemarau, Kasus ISPA di Boyolali Melonjak Drastis

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 17:34 WIB

 

Ilustrasi ISPA. (DOK. MAGNIFIC.COM)
Ilustrasi ISPA. (DOK. MAGNIFIC.COM)

RADARSOLO.COM- Paparan cuaca kering dan peningkatan polusi debu sepanjang musim kemarau berdampak signifikan terhadap kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten Boyolali.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali mencatat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi jenis penyakit yang paling mendominasi menyerang warga.

Selain ISPA, gangguan pernapasan lain yang terdata meliputi Influenza-Like Illness (ILI) atau Penyakit Serupa Influenza, serta pneumonia.

Baca Juga: Sensasi Unik Akad Nikah di Atas Perahu Wisata Rowo Jombor, Pemkab Klaten Beri Apresiasi

Kepala Dinkes Kabupaten Boyolali FX Kristandiyoko menuturkan, lonjakan kasus ISPA paling tinggi dirasakan pada kurun waktu akhir Juli hingga awal Agustus 2026 yang bertepatan dengan puncak musim kemarau.

"Saat musim kemarau, konsentrasi debu dan Particulate Matter (PM10) di udara meningkat drastis akibat curah hujan yang rendah. Ditambah udara kering, kelembapan rendah, serta perubahan suhu yang ekstrem, lapisan lendir pelindung di hidung dan tenggorokan mengering sehingga saluran pernapasan lebih rentan terinfeksi," ujar FX Kristandiyoko, Jumat (18/9/2026).

Kristandiyoko menerangkan, polusi lingkungan seperti asap hasil pembakaran sampah, kebakaran lahan, hingga emisi gas buang kendaraan bermotor makin memperburuk mutu udara sekaligus meningkatkan risiko iritasi pada saluran napas.

Adapun kelompok masyarakat yang dikategorikan paling rentan terpapar ISPA mencakup anak balita, warga lanjut usia (lansia), serta para pekerja luar ruangan.

"Balita rentan karena sistem imunnya masih berkembang, sedangkan lansia akibat penurunan daya tahan tubuh dan adanya penyakit penyerta (komorbid)," paparnya.

Baca Juga: Mampir Ngombe di Kelurahan Gajahan, Wawali Astrid Cek Olah Sampah Organik Lewat Mentok Hingga Budidaya Madu

Sementara itu, pekerja luar ruangan seperti petani, pengendara sepeda motor, dan pedagang kaki lima menghadapi risiko tinggi akibat keterpaparan debu serta polusi harian.

Guna meredam dampak penyakit kemarau, Dinkes Boyolali menginstruksikan masyarakat untuk memperketat tindakan pencegahan mandiri serta mempraktikkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

"Kami mengimbau warga, terutama kelompok rentan, untuk selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, memperbanyak konsumsi air putih, dan menjaga kebersihan lingkungan," kata Kristandiyoko.

Baca Juga: Pelatihan Kader Posyandu Tingkatkan Deteksi Dini TB Anak di Mojosongo Solo

Pihaknya turut meminta warga untuk segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan terdekat jika merasakan indikasi gangguan kesehatan yang berkelanjutan.

"Apabila mengalami gejala batuk, pilek, demam, atau sesak napas yang tidak kunjung membaik lebih dari tiga hari, segera periksakan diri ke Puskesmas terdekat," pangkas Kristandiyoko. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
kasus ispa cuaca kering polusi debu kemarau Boyolali