RADARSOLO.COM-Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali meningkatkan kewaspadaan menyusul temuan kasus antraks di wilayah Yogyakarta belum lama ini.
Langkah antisipatif disiapkan guna mencegah masuknya penyakit tersebut ke wilayah sentra peternakan Boyolali.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disnakkan Boyolali Ahmad Gojali menjelaskan, kasus di Yogyakarta bermula dari temuan hewan ternak yang mati karena sakit.
Baca Juga: Rahasia Cara Menanam Bougenville dari Batang agar Cepat Berakar, Tumbuh Subur dan Rajin Berbunga
Namun dagingnya tetap dikonsumsi oleh warga, sehingga penularan penyakit antraks ke manusia pun terdeteksi.
Merespons rentetan kejadian tersebut, Disnakkan Boyolali merumuskan surat edaran khusus.
Langkah ini diambil mengingat tingginya aktivitas lalu lintas hewan ternak di wilayah Boyolali.
Apalagi, Boyolali memiliki sejumlah pasar hewan berskala besar yang menjadi titik kumpul banyak pedagang dari berbagai daerah.
"Kami saat ini tengah menyiapkan surat edaran. Surat edaran ini secara khusus ditujukan kepada para peternak dan penjual hewan," jelas Gojali, Rabu (7/10/2026).
Selain menyusun imbauan tertulis, Disnakkan juga menggandeng Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) selaku pengelola pasar hewan.
Baca Juga: Bupati Agus Sebut Murid Lebih Antusias, Pemkab Boyolali Terapkan MBG Sistem Prasmanan
Serta para camat untuk membantu menyosialisasikan kewaspadaan kepada masyarakat secara masif.
Upaya ini mencakup pengetatan pengendalian lalu lintas keluar-masuk hewan ternak di wilayah Boyolali.
Surat edaran tersebut akan segera diedarkan dalam waktu dekat, mengingat jarak geografis yang relatif berdekatan, antara Yogyakarta dan Boyolali yang menuntut tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi.
Untuk tindak lanjut di lapangan, Disnakkan bakal menerjunkan tim guna melakukan pengecekan langsung ke kandang-kandang peternak maupun ke pasar sapi.
Baca Juga: Sabu 254 Gram dan 20.909 Butir Ekstasi Dimusnahkan, Kejari Karanganyar Eksekusi 74 Perkara Inkrah
Meskipun selama ini fokus pengawasan lebih banyak ditujukan pada Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), munculnya ancaman antraks membuat pemerintah daerah segera mengalihkan fokus pada langkah antisipasi ganda.
Pemeriksaan di pasar hewan, dan sentra peternakan akan terus diintensifkan dengan berkoordinasi lintas instansi agar potensi penyebaran penyakit dapat dicegah sedini mungkin.
Hingga saat ini, Disnakkan memastikan belum ada laporan terkait temuan indikasi kasus antraks di wilayah Kabupaten Boyolali.
“Belum ada, semoga saja juga tidak ada kasus antraks di Boyolali,” tuturnya. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com