Desa Ngrombo, Kecamatan Baki sudah kondang sebagai desa sentra kerajinan gitar. Hampir seluruh warganya menekuni usaha turun temurun ini. Salah satu yang sudah jatuh bangun dalam mengembangkan bisnis kerajinan alat musik petik ini adalah Sukardi, 43. Tempat tinggal sekaligus tempat usahanya berada di Dusun Jebol RT 1 RW 1, Desa Ngrombo, Kecamatan Baki, Sukoharjo.
"Saya mulai usaha 2006 lalu. Latar belakangnya karena ada dorongan saudara yang sudah usaha gitar di Jakarta," kata bapak dua anak ini kepada Jawa Pos Radar Solo.
Pria yang hanya tamat SMA negeri di salah satu sekolah di Sukoharjo tersebut mengaku, modal awal usaha gitarnya tidak banyak. Bahkan, saat memulai usaha, dia hanya diberi modal bahan baku oleh saudaranya. Kemudian mulai dikembangkannya. Tidak berapa lama setelah usaha berjalan, baru memberanikan diri pinjam uang di bank untuk modal sekaligus untuk langkah memperluas usahanya.
"Awal mula usaha dimodali bahan sama saudara, lalu pinjam bank Rp 30 juta atau berapa ya? Lupa, sudah lama itu," ungkapnya.
Namun, jika memulai usaha saat ini, modalnya bisa jauh lebih hemat. Bahkan, hanya bermodal toko online pun sudah bisa dijalankan menurutnya. Yang diperlukan hanyalah konsisten, komitmen dan ketekunan. Bahkan, tidak perlu mahir bermain gitar atau alat musik lainnya juga untuk membangun bisnis ini.
Yang paling penting menguasai marketing, paham kualitas produk-produk yang punya kelas, dan tentunya bisa menjaga kualitas terbaik yang bisa dihasilkan.
"Kalau sekarang mulai usaha, cukup buat toko online saja. Malah lebih hemat. Lalu menjalin komitmen dengan para perajin juga penting. Tinggal foto barangnya, lalu dijual online," katanya.
Sukardi mengaku, omset usaha kerajinan gitarnya dalam kondisi normal bisa mencapai Rp 20 juta sampai Rp 30 juta perbulan. Pangsa pasar yang dijangkaunya meliputi seluruh daerah di Jawa. Sebagian besar tersebar di Jakarta, Tangerang, Pekalongan, Jepara, dan Lamongan. Banyak juga tawaran dari luar pulau Jawa, namun Sukardi belum berani mengambil resiko. Kecuali pembeli mau bayar dimuka.
"Saya jualannya juga ngandelin online, tapi tetap juga banyak ready stock berbagai alat musik akustik. Mulai dari gitar, ukulele, biola, djembe, kajon, hingga ketipung. Saya tidak bisa main alat musik, yang penting bisa "maido" jika produk yang dihasilkan kurang bagus dan tidak laku," celetuknya.
Buah dari ketekunannya menggeluti usaha kerajinan gitar, Sukardi sudah memiliki lima perajin gitar dan alat musik akustik lainnya. Bahkan, hasil jerih payahnya sudah digunakan untuk mendaftar haji. Termasuk membangun rumah.
"Alhamdulillah, bisa beli mobil juga, meskipun mobil tua. Yang penting bisa untuk kerja," katanya.
Meski begitu, suara gitar tak selamanya merdu. Gema resonansi sempat melempem dihantam resesi pada 2011. Meski bisa bangkit lagi, 2020 kembali roda perekonomiannya dihantam pandemi. Beruntung, masih banyak stok alat musik yang sudah diproduksi dan dijual.
"Sempat bangkrut pada 2011. Semua usaha gitar di Ngrombo macet saat itu, tapi bersyukur bisa bangkit lagi. Namun, sekarang malah dihantam pandemi, terpaksa meliburkan pekerja dulu," keluhnya.
Kini, pandemi hampir mereda, Sukardi berpesan kepada siapa saja yang akan memulai usaha kerajinan gitar, harus sabar dan tetap konsisten.
"Pasti ada halangan, rintangan dan tentu saja banyak saingannya," pungkasnya. (kwl/nik/dam) Editor : Damianus Bram