“Sebaliknya, komoditas yang mengalami penurunan harga sehingga menghambat inflasi ada pepaya, pisang, buku tulis bergaris, jeruk, dan anggur," ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surakarta Totok Tavirijanto kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (3/1).
Totok mengatakan, jika dibanding pada bulan yang sama tahun sebelumnya, inflasi kali ini lebih tinggi. Tahun lalu, inflasi sebesar 0,32 persen, sedangkan laju inflasi tahun kalender (Januari-Desember) 2021 sebesar 2,58 persen.
Dari enam kota di Provinsi Jawa Tengah yang dihitung angka inflasinya, pada Desember 2021, tercatat semua kota mengalami inflasi.
“Inflasi tertinggi terjadi di Kota Cilacap sebesar 0,82 persen. Diikuti Kota Purwokerto 0,74 persen, Kota Surakarta 0,71 persen, Kota Tegal 0,66 persen, Kota Semarang 0,60 persen, dan Kota Kudus 0,50 persen," ujarnya.
Sementara itu, kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga di Kota Bengawan, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 2,57 persen. Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga naik 0,14 persen.
Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 0,76 persen, kelompok kesehatan naik 0,02 persen, kelompok transportasi naik 0,33 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik 0,25 persen.
"Sebaliknya, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan turun 0,06 persen. Dan kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya turun 0,18 persen. Sedangkan kelompok pakaian dan alas kaki, kelompok pendidikan, dan kelompok penyediaan makanan, minuman restoran relatif stabil," pungkasnya. (aya/wa/dam) Editor : Damianus Bram