"Biasanya biro umrah yang baru melakukan pembukuan atau pemesanan di satu atau dua bulan sebelumnya, mereka kena harga baru. Jadi mungkin mereka estimasinya masih dapat harga lama. Ternyata saat proses booking sudah pakai harga baru," ungkap Ketua Persaudaraan Pengusaha Biro Umrah dan Haji Indonesia (Perpuhi) Solo Her Suprabu kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.
Lalu bagaimana dengan pertambahan biaya yang dibutuhkan? Her Suprabu menyebut kenaikan harga itu terpaksa dibebankan ke para jamaah. Namun secara umum, jamaah bisa menerima dan memahami adanya perubahan harga itu. Harapannya, harga akomodasi bisa segera kembali normal kedepannya.
"Saat ini biaya perjalanan umrah sudah kembali seperti sebelum pandemi. Memang tergantung maskapai dan hotel yang digunakan. Tapi rata-rata di angka Rp 29 juta hingga Rp 38 juta. Hanya saja karena Bandara Adi Soemarmo Solo masih ditutup untuk penerbangan internasional, jadi harus lewat bandara di Jakarta. Masih ada tambahan biaya domestik Rp 2,5 juta dari harga normal sebelum pandemi," bebernya.
Her memastikan secara khusus mayoritas biro umrah tidak terdampak kenaikan harga hotel di Arab Saudi. Sebab biro umrah kebanyakan sudah melakukan pembukuan sejak enam bulan lalu. Artinya, persiapan mulai dari tiket pesawat sampai hotel sudah dilakukan pemesanan jauh-jauh hari.
"Jadi tidak dikenakan kenaikan harga. Kalau pun ada kenaikan, tidak sampai 300 persen. Masih bisa di-cover oleh biro. Sehingga tidak ada kenaikan yang signifikan dan tidak ada pembebanan baru ke jamaah," ujarnya.
Sementara itu, Her menambahkan sebesar 90 persen jamaah umrah yang sempat ter-pending keberangkatannya imbas pandemi, saat ini sudah diberangkatkan. Sisanya, hanya sekitar 10 persen jamaah yang belum berangkat. Lantaran berbagai alasan. "Tapi sudah hampir semuanya diberangkatkan umrah," pungkasnya. (aya/nik/dam) Editor : Damianus Bram