RADARSOLO.COM- Perempuan mendominasi sektor UMKM di Indonesia, termasuk di Kota Solo. Namun dalam praktiknya, mereka banyak menemui hambatan.
"Hampir 50 persen lebih pelaku usaha yang masih bertahan saat pandemi itu perempuan,” ujar Direktur Jalatera Dyah Ayu Wechaningsih di sela workshop pengelolaan pengatahuan keuangan digital inklusif perempuan, Kamis (1/4/2024).
“Kenapa mereka bisa bertahan? Karena rata-rata tidak menerapkan harga pokok dan keuntungan. Prinsipnya, yang penting jualan laris manis, itu sudah tenang," imbuh Dyah.
Dalam kegiatan yang digelar bareng Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Solo itu, Dyah memberi pendampingan program inklusi keuangan digital bagi perempuan pelaku usaha.
Mulai dari pengetahuan manajemen keuangan, pemisahan keuangan usaha dan rumah tangga, keuangan berbasis digital, skill peningkatan kapasitas produk, hingga waspada investasi ilegal.
Dyah menuturrkan, pendampingan ini masih berbentuk pilot project yang diterapkan pada kelompok usaha di empat kelurahan, yakni Pajang, Banjarsari, Joyosuran, dan Tipes. Dengan jumlah total lebih dari 125 orang.
"Kenapa kami sasarannya perempuan? Karena mayoritas perempuan belum melek digital. Banyak terjerumus pinjol untuk permodalan," jelas Dyah.
Lebih lanjut, Dyah menyebut, dari hasil pendampingan tersebut sebanyak 20 orang berhasil menjadi trainer pengusaha perempuan untuk menularkan ilmunya ke lebih banyak orang. Baik menjadi narasumber di kelurahan, organisasi, hingga Lapas masyarakat.
Di samping itu, beberapa pelaku usaha perempuan juga mulai berhasil meningkatkan geliat ekspor mereka.
Seperti yang terbaru, salah seorang perempuan pelaku UMKM yang berhasil ekspor hingga Prancis.
Sementara itu, Suparmi, pelaku UMKM mengaku terbantu atas upaya Pemkot Solo bersama Yayasan Jalatera ini.
Semenjak usahanya terdigitalisasi, ratusan hingga ribuan produk UMKM-nya berupa egg roll dan sepatiu bisa dikirim secara online. (ul/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono