RADARSOLO.COM - Sektor perekonomian Kota Solo terus menunjukkan tren positif dalam beberapa waktu terakhir.
Terbukti, pertumbuhan Solo selalu melampaui angka nasional. Seperti saat pandemi lalu. Perekonomian Solo tumbuh dari -1,76 di 2020 menjadi 6,25 persen pada 2022.
Tren positif ini pun diyakini juga terjadi pada angka ekonomi Solo di satu tahun terakhir. Begitu pula, pada tahun 2024 diprediksi ekonomi Solo akan meningkat.
"Secara historis pertumbuhan ekonomi Solo memang selalu di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut saya proyeksi tumbuh di 5,6-5,9 persen versi Bank Indonesia Solo itu masuk akal. Sebab, berdasar outlook ekonomi nasional juga diprediksi tumbuh 5 - 5,1 persen untuk 2024," jelas pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Anton Agus Setyawan.
Faktor konsumsi masyarakat masih mendominasi geliat ekonomi nasional maupun lokal. Terlebih di masa politik, tingkat konsumsi diharapkan tetap stabil untuk mendongkrak pertumbuhan ke arah signifikan.
Kendati demikian, tantangan dan guncangan baik dari global maupun nasional rentan terjadi dan perlu diwaspadai untuk menjaga pertumbuhan.
Seperti inflasi yang terus menerus naik. Bahkan di Solo sendiri inflasi melebihi angka nasional.
"Kenaikan harga yang tinggi, salah satunya adalah beras inilah yang harus diwaspadai. Beras adalah kebutuhan pokok sehihngga kontribusinya terhadap inflasi cukup tinggi," kata Anton.
Untuk itulah, pemerintah memang harus segera mengambil tindakan. Seperti impor beras sebanyak 3 juta ton yang diperkirakan datang Februari tahun ini.
Semoga datangnya tidak bertepatan dengan musim raya, sehingga tidak mengancam dan merugikan harga gabah pada petani.
Daya saing Kota Solo dari tahun ke tahun juga membaik dan mencatatkan peringkat nomor satu untuk kota dengan Indeks daya saing tertinggi se Jawa Tengah.
Potensi-potensi inilah yang bisa terus dioptimalkanm untuk menuju pertumbuhan ekonomi lebih ideal.
Hal-hal yang masih menjadi catatan ialah mengenai tingkat investasi yang cenderung rendah di Kota Bengawan maupun nasional. Terutama jenis investasi baru. Angkanya masih sangat kecil.
"Salah satu cara untuk menilai tingkat investasi itu dilihat dari ICOR (incometal capital output ratio). Nah sekarang ICOR umum di Indonesia itu 6,8 persen. Ini menunjukkan bahwa situasi di mana perekonomian tidak efisien," jelas Anton.
Pengusaha atau investor masih kesulitan dalam menjual barang maupun menekan biaya produksi. Inilah yang jadi PR pemerintah untuk menurunkan angka ICOR. Agar mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan.
Kemudian di sisi lain, dengan masifnya pembangunna infrastruktur di Kota Bengawan diharapkan bisa mendatangkan lebih banyak investor.
Meski Solo tidak berpeluang banyak pada sektor manufaktur, namun potensi wisata dan industri bisa diunggulkan untuk meningkatkan perekonomian lokal.
"Jujur saja kalau wisata untuk menyerap tenaga kerja itu kurang banyak. Tapi memang Solo ini punya potensi juga ke industri jasa, seperti bisnis-bisnis digital," terang Anton.
Harapannya itu bisa semakin mendatagkan investor. Syaratnya ada usaha-usaha dari pemkot untuk membangun iklim investasi yang kondusif dan bersahabat. Yakni kemudahan izin usaha, serta fasilitas-fasalitas pendukung lainnya. (ul/bun)
Editor : Damianus Bram