RADARSOLO.COM - Dari mata turun ke hati. Istilah itu yang tepat menggambarkan awal perjalanan mantan karyawan sektor logistik, yang hingga akhirnya berani dan sukses terjun berwirausaha setelah menjadi mitra bisnis PT Citra Van Titipan Kilat (TIKI).
Dian Anindyari Suprobo, 39, adalah mitra yang sangat dekat dengan TIKI.
Dia mengenal seluk-beluk dan luar-dalam perusahaan logistik terkemuka di Indonesia itu dengan sangat baik.
Ya, Dian awalnya dulu memang seorang karyawan TIKi. Dan, kini telah menjadi mitra bisnis pasca membuka gerai penjualan sejak 2016 lalu.
“Tahun 2006 saya di Kantor Pusat TIKI di Solo bagian front office. Sekitar 10 tahun kemudian saya mencoba pengajuan pembukaan gerai TIKI, tepatnya November 2016,” kata owner Gerai Tiki Ngadirejo, Kartasura, Sukoharjo saat ditemui Radarsolo.com, Minggu (7/1).
Tak asal, Dian memberanikan diri terjun ke dunia wirausaha setelah mendapat motivasi dan inspirasi. Plus adanya peluang dan kesempatan yang terbuka.
Dian bercerita, saat masih berstatus sebagai karyawan TIKI, dia banyak berbincang dan mendapat masukan dari mitra usaha lainnya tentang seberapa menjanjikannya membuka gerai penjualan di bawah bendera TIKI.
Posisinya sebagai karyawan yang ditempatkan sebagai front office itu memberikan banyak referensi baginya.
Dian pun mulai menabung untuk mengumpulkan modal. Hingga akhirnya mengubah statusnya dari karyawan menjadi mitra bisnis PT Citra Van Titipan Kilat itu.
“Saya termotivasi sama kawan-kawan yang sebelumnya sudah punya keagenan. Setelah tabungannya cukup, akhirnya 2016 saya bisa buka gerai pelayanan sendiri di Ngadirejo. Dua tahun kemudian (2018, Red), akhirnya saya berhenti jadi karyawan dan fokus urus gerai ini,” terang dia.
Dian mengaku tak banyak pertimbangan dalam memilih model usaha mandirinya.
Bermodal pengalaman sekian tahun menjadi karyawan TIKI, dia paham betul bagaimana bentuk pelayanan dan kestabilan bisnis yang dijanjikan.
Karena itulah, dia tak pernah tertarik dengan brand-brand perusahan sejenis yang bekerja di sektor yang sama.
Sebab, dia sudah telanjur jatuh hati dan percaya dengan palayanan prima yang diberikan TIKI.
“Paling tidak saya sudah tahu bagaimana perusahan ini. Kata orang jatuh cinta itu dari mata turun ke hati, mungkin ini bisa dibilang dari mata turun ke TIKI," ujar Dian.
Selain itu, dia punya alasan lain. Yakni sang suami yang juga karyawan TIKI.
"Kami sama-sama karyawan sampai kami menikah, hingga akhirnya saya buka gerai pelayanan ini,” kelakar Dian.
Keputusannya untuk terjun ke dunia wirausaha dengan menjadi mitra gerai penjualan TIKI terbilang tepat. Bisnis ekspedisi itu menjadi penguat ekonomi keluarga hingga saat ini.
Di kala banyak sektor ekonomi lesu bahkan gulung tikar saat pandemi Covid-19, bisnis jasa ekspedisi itu membuktikan ketahanannya dalam melewati krisis hebat saat itu.
Hal itu sangat diakui Dian. Dia merasakan, prospek bisnis cukup menjanjikan. Bahkan, dia menyebut saat pandemi lalu malah bisa 'panen'.
"Saat banyak usaha lain mengalami banyak hambatan, TIKI sangat menjanjikan. Banyaknya pembatasan kegiatan dan larangan yang dikeluarkan pemerintah saat itu membuat banyak orang menggunakan jasa pengiriman seperti ini,” ucap dia.
Meniti karir dari karyawan hingga menjadi wirausahawan juga dirasakan Mahani, 40.
Mantan karyawan TIKI yang bekerja sebagai front office hingga customer service pada 2003 – 2009 lalu itu memiliki banyak pengalaman dalam mengamati pelayanan perusahaan ekspedisi dan logistik tersebut.
Itulah yang membuatnya tak perlu banyak pertimbangan saat memutuskan jadi mitra bisnis TIKI pada 2012 lalu.
“Awalnya dulu juga karyawan TIKI, akhirnya saya putuskan berhenti untuk coba jual-beli batik. Tapi setelah beberapa tahun berjalan, akhirnya saya putuskan banting setir ke bisnis ekspedisi ini," ucap Mahani.
"Tahun 2012 saya mengajukan untuk membuka gerai, Alhamdulillah langsung terima,” inbuh pemilik gerai penjualan TIKI di wilayah Gentan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo itu.
Sama seperti Dian (pemilik gerai TIKI Ngadirejo, Red), wanita yang akrab disapa Ani itu juga bertemu dengan sang pujaan hati saat masih sama-sama mengenakan seragam TIKI. Tepatnya di TIKI Pusat Solo.
Sosok pria idaman yang kini menjadi suaminya itulah yang membantu dan mendukungnya untuk berani memutuskan menjadi mitra bisnis TIKI, dengan membuka gerai penjualan sendiri.
Ani dan suaminya tak pernah meragukan pelayanan prima yang diberikan TIKI pada pelanggan. Sehingga mereka pun tak pernah tertarik untuk menjadi mitra bisnis dari perusahaan ekspedisi lain.
“Waktu itu kami masih pacaran, tapi sudah ke tahap serius. Sebelum menikah saya buka usaha ini. Kemudian setelah menikah kami juga memilih bermukim di dekat gerai ini. Saya mengurus gerai penjualan ini, sementara suami masih meneruskan menjadi karyawan sampai sekarang,” jelas dia.
Wanita asal Solo itu menilai, prospek bisnis yang mereka pilih memiliki efek jangka panjang yang cukup baik untuk ke depan.
Hal itu pun terbukti karena usahanya berjalan dengan baik sampai saat ini. Bahkan selamat dari terpaan pandemi Covid-19 yang sempat membuat banyak usaha lain gulung tikar.
Kini Ani lega lantaran bisnis yang dia pilih punya prospek yang baik untuk jangka panjang. Dia pun tak khawatir saat nanti suaminya memasuki masa pensiun karena sudah memiliki usaha yang bisa diandalkan untuk hari tua mereka.
“Sebagai karyawan kan ada masa kerjanya, tapi kalau wirausaha selama masih bisa dijalankan akan terus berjalan. Apalagi zaman sekarang jasa pengiriman seperti ini dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat. Jadi ke depan saya pikir akan cukup menjanjikan untuk pegangan jangka panjang,” papar dia.
Suami Istri Saling Bantu, Beri Pelayanan Ekstra ke Pelanggan TIKI
Menjadi pasangan suami istri yang menjadi mitra bisnis sekaligus karyawan TIKI membuat Tri Budi Purnomo dan Dian Anindyari Suprobo saling bahu membahu dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat akan layanan prima PT Citra Van Titipan Kilat.
Sembari istri tercinta menjalankan gerai TIKI Ngadirejo, Tri Budi Puromo atau yang akrab disapa Pur ini menjalankan profesinya sebagai karyawan di bagian pengiriman.
Pengalaman bekerja selama 14 tahun, membuat dirinya paham betul perihal aturan-aturan yang diwajibkan perusahaan guna memberikan pelayanan yang baik kepada para pelanggan.
Pur mengatakan, perusahaan memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang diterapkan dalam setiap pengiriman yang kami lakukan.
Seperti pengiriman harus diterima langsung pelanggan sesuai nama dan alamat yang tertera di pengiriman.
"Ada SOP-SOP yang harus dilakukan saat penerima paket tidak sedang berada di tempat. Bolak-balik tidak masalah asal barang diterima dengan selamat,” terang Pur.
Dalam sehari, Pur menempuh perjalanan hingga 100 kilometek. Jarak sebanyak itu terbilang tinggi untuk wilayah Solo Kota yang relatif tidak begitu luas.
Bisa diartikan kurir paket seperti dirinya ini betah keliling berbagai area berulang kali hanya untuk mengirimkan paket dengan tepat. Apalagi jika si penerima paket tidak berada di tempat.
“Pengiriman itu dua kali, siang dan sore. Kalau penerima tidak ada saat paket dikirim, kami wajib menghubungi nomor yang tertera. Jika beberapa kali tidak bisa dihubungi, sore hari akan diulang lagi, tapi kalau tidak ada lagi, ya kami kontak lagi dan dikirim keesokan harinya,” papar dia.
Pelayanan TIKI memberi pembeda. Di mana para kurir TIKI tak akan meninggalkan barang paket paket di teras rumah penerima atau dilempar tanpa ada satu pun keluarga penerima ada di lokasi pengiriman paket.
Hal itu mungkin kerap dilalukan kurir peeusahaan ekspedisi lain. Namun tidak dengan TIKI.
SOP ketat yang diterapkan TIKI jadi pedoman saat para kurir bekerja. Walau hari hujan atau panas ekstrem menerjang, tak menjadi penghalang bagi Pur dan kurir TIKI lainnya dalam memberikan pelayanan prima.
“Intinya, paket sampai diterima oleh customer dengan aman. Jadi tidak boleh ditinggal di lokasi tanpa ada pemiliknya. Tidak boleh dilempar, dan sebagainya. Ini untuk menghindari kerusakan dan barang hilang,” beber Pur.
Pur kerap memberikan pelayanan ekstra pada pelanggan di gerai TIKI Ngadirejo. Di saat istri tercinta sibuk memberikan pelayanan, Pur siap membantu lewat penjemputan paket yang ditawarkan oleh gerai TIKI Ngadirejo itu.
“Alhamdulillah bisa bertahan sampai saat ini. Saya pikir prospeknya bagus untuk bisnis jangka panjang,” hemat Pur.
Senada, upaya bahu membahu untuk memberikan pelayanan prima juga dilakukan oleh pasangan suami istri Joko Listyanto dan Mahani.
Joko yang merupakan karyawan TIKI Solo sejak 2005 itu, kerap membantu sang istri yang menjalankan gerai penjualan TIKI Gentan dengan mengambil paket dari pelanggan setia gerai tersebut.
Di sela-sela rutinitas kerja sebagai karyawan keluar masuk barang di TIKI Solo, Joko menyempatkan waktunya untuk mengambil sejumlah paket dari pelanggan yang berhalangan datang ke TIKI Gentan.
Waktu luang sebelum masuk kerja dia manfaatkan dengan baik guna memberikan pelayanan ekstra pada pelanggan gerai TIKI Gentan milik mereka.
“Jadwal masuk kerja kan berbeda-beda ya. Jadi pagi sebelum masuk kerja, saya bisa bantu ambil paket setelah mengantar anak sekolah. Saya berangkat dari rumah, antar anak, ambil paket. Jam 10.00 siang saya berangkat ke kantor karena jam kerjanya mulai 11.30 – 19.30 WIB,” kata dia.
Joko dan istri merasa bersyukur menjadi keluarga besar TIKI. Menurutnya, TIKI memberi kesempatan pada karyawan untuk menjadi mitra bisnis dengan menjadi pemilik gerai penjualan seperti yang istrinya lakukan sejak 2012 silam tersebut.
Melalui gerai penjualan itu, ekonomi keluarga makin menguat, seiring berkembangnya TIKI menjadi yang terdepan dalam bisnis logistik dan ekspedisi itu.
“Perusahaan mendorong karyawannya untuk bisa menjadi wirausahawan seperti ini, kan untuk memperluas jaringan bisnis perusahaan juga,” beber Joko.
Syarat Mudah Bagi Mitra Bisnis Jadi Andalan TIKI untuk Optimalkan Pelayanan
Di Solo Raya (Solo, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten), TIKI memiliki 7 sub agen yang membawahi 60 gerai penjualan atau counter.
Hingga hari ini TIKI masih memberikan kesempatan pada masyarakat yang tertarik menjadi mitra bisnis. Syaratnya pun mudah. Pemohon cukup memiliki badan usaha resmi, lokasi, dan melengkapi syarat administrasi lainnya.
“Kebutuhannya paling harus ada minimal satu orang operator, komputer, dan jaringan internet yang baik. Konsepnya kerja sama bagi hasil, dan ini juga terbuka untuk semua orang, termasuk karyawan kami sendiri,” terang Manager Operasional TIKI Solo Dody Sigit Gunawan.
Para mitra bisnis itu akan dilayani dengan baik dengan layanan penjemputan dan sebagainya.
Namun, tidak menutup kesempatan pemilik gerai bisa mengantarkan barang-barang sendiri ke sub agen yang ada di wilayah masing-masing.
Bagi masyarakat yang berminat, tidak perlu khawatir. Sebab, akan ada pelatihan sebelum gerai penjualan di wilayah dioperasikan.
“Setelah pengajuan akan kami survei. Kalau semua terpenuhi, sebelum buka akan dilakukan pelatihan," kata Dody.
"Mereka kan ujung tombak pelayanan, jadi mereka diberi pedoman soal penggunaan sistemnya, jenis pelayanan, menangani pengiriman pada pelanggan, pengemasan dasar dan lainnya," imbuh dia.
Bahkan untuk pengemasan ekstra, biasanya mitra akan dibantu sub agen masing-masing.
TIKI memberikan kebebasan pada para gerai untuk berinovasi dalam pelayanan guna meningkatkan jumlah pelanggan.
Lewat layanan yang prima itu iklim usaha yang dilakukan akan makin baik. Dengan demikian, produktivitas masing-masing gerai penjualan akan makin baik ke depannya.
“Di Solo prospek bisnisnya cukup baik. Untuk gerai penjualan yang paling sepi itu omzetnya antara Rp 10 juta-Rp 20 juta dan yang paling ramai bisa sampai Rp 100 jut per bulan,” terang Dody.
Soal keuntungan bagi pelanggan, TIKI memberikan banyak layanan menarik melalui berbagai fitur yang dihadirkan. Seperti same day service, one night service, regular service, economy service, trucking service, hingga international service.
TIKI juga memberikan berbagai model layanan lain. Di antaranya bayar di tempat (COD), layanan tanpa turun (drive thru), tanda tangan digital, notifikasi surat elektronik, jempol.
Kemudian, ada layanan asuransi, SOBATIKI, pengemasan, penjemputan, real time tracking, gerai penjualan 24 jam, dan notifikasi SMS. Semua dikemas melalui TIKI Aplikasi.
“Pelanggan itu senang dengan pelayanan yang baik dari lokasi pengiriman, ketepatan waktu dan keamanan pengiriman, serta layanan terbaik di tujuan yang dilakukan para kurir kami. Kalau itu semua terpenuhi konsumen akan makin percaya dengan TIKI," beber Dody.
Karena itu, imbuh dia, SOP selalu dijunjung tinggi oleh kurir TIKI dalam memberikan pelayanan pada pelanggan.
Pelayaan Prima di Sektor Kurir Bawa TIKI Jadi yang Terdepan di Bisnis Ekspedisi dan Logistik
Di usia 53 tahun ini, PT Citra Van Titipan Kilat bertrasformasi menjadi perusahaan terbaik di Indonesia yang bergerak di bidang ekspedisi.
Pengakuan diperoleh tak hanya dari para pelanggan dan mitra, namuan juga berbagai penghargaan yang diraih.
Sepanjang 2023, TIKI telah membawa pulang sederet penghargaan bergengsi.
Mulai dari Original Brand Award yang kembali diraih pada 2022 dan 2023 lalu, Service Quality Diaond Award 2023.
Hingga yang terbaru Superbrands Indonesia dalam kategori Express Courier Service pada November 2023 lalu.
TIKI berhasil mempertahankan penilaian baik dari pelanggan atas layanan prima yang dilakukan para kurir sebagai ujung tombak pelayanan sejak perusahaan itu didirikan pada 1970 silam.
Tak heran perusahaan yang pertama beroperasi di Jakarta itu telah memiliki lebih dari 500 kantor perwakilan, 3.700 gerai, dan 6.000 karyawan di seluruh Indonesia.
“Penghargaan Superbrands Indonesia 2023 tidak hanya sebuah pengakuan, namun memperkuat posisi kami sebagai pemimpin di industri kurir ekspres," kata Direktur Utama TIKI Yulina Hastuti melalui siaran pers, awal November lalu.
"Kami ucapkan terima kasih pada seluruh pelanggan TIKI di Indonesia. Dan terima kasih terhadap staf dan kurir yang menjadi garda terdepan dalam memberikan pelayanan aman, cepat, dan andal,” imbuh dia.
Meski sudah jadi yang terbaik di bisnis kurir, TIKI terus mengembangkan pelayanan dengan membuka kesempatan pada generasi muda.
Melalui TIKI Goes to Campus, mereka membuka peluang industri kurir bagi generasi muda.
Roadshow kampus yang dihelat di Jakarta dan Bandung belum lama ini menjadi bukti nyata, di mana TIKI mengajak anak muda untuk menjadi profesional maupun mitra bisnis guna menbangun industri kurir yang lebih menjanjikan.
Hal itu sejalan dengan tagline baru mereka #LogisTIKIndonesiaButuhAnakMuda.
“Industri jasa kurir dan logistik perlu mempersiapkan regenerasi dan memperkuat konektivitas,” terang dia.
TIKI sadar betul pentingnya inovasi dan kreativitas anak muda guna memajukan jaringan bisnis yang sudah terbangun apik hingga hari ini.
Hal itu mengingat potensi jasa kurir di masa depan akan semakin cemerlang. Seiring peningkatan potensi ekonomi digital Indonesia yang diperkirakan mencapai USD 146 miliar pada 2025 mendatang. Bahkan naik delapan kali lipat pada 2030.
TIKI optimistis bisa mempertahankan prestasi apik dalam hal pelayanan tersebut.
“Kilas balik industri kurir dan logistik di masa pendemi kemarin jadi pembuktian bahwa industri ini memiliki potensi bisnis yang sangat besar dan memiliki daya tahan tinggi di masa krisis,” imbuh Dirut TIKI. (ves/ria)
Editor : Syahaamah Fikria