RADARSOLO.COM - Kota Solo kembali mencatatkan angka deflasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistika, angka deflasi Solo sebesar 0,03 persen (mtm) pada Agustus. Hal ini membuat Kota Solo mengalami deflasi untuk kelima kalinya di sepanjang tahun 2024.
"Kondisi fluktuasi harga pada Agustus memberikan beberapa kejadian deflasi selama lima bulan. Deflasi terendah terjadi pada bulan Juni dengan penurunan sebesar 0,3 persen, diikuti oleh Januari hingga Mei sebesar 0,1 persen, Juli sebesar 0,06 persen, dan Agustus sebesar 0,03 persen yang penurunan harga ini tidak terlalu dalam," kata Kepala Badan Pusat Statistik Kota Solo Ratna Setyowati, Rabu (11/9).
Ratna mengatakan, melimpahnya pasokan dan terkendalinya harga pangan membuat indeks harga konsumen di masyarakat terpantau stabil. Pihaknya mencatat, lima komoditas penyumbang deflasi terbesar terjadi pada bawang merah, telur ayam, daging ayam, air kemasan, dan jagung manis.
Sementara penyumbang inflasi, ialah beras, emas perhiasan, nasi dengan lauk, rekreasi dan cabai rawit. Meski mengalami deflasi secara bulanan, namun secara tahunan Solo mengalami inflasi sebesar 2,04 persen (yty).
"Inflasi year on year terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran," kata Ratna.
"Seperti kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,73 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,55 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,56 persen; kelompok transportasi sebesar 2,48 persen; dan lainnya," tambahnya.
Lebih lanjut, Ratna menguraikan, meskipun Solo terus mengalami deflasi, namun masih berada dalam target yaitu dalam rentang 2,5 persen plus minus 1 persen secara year on year. Menurutnya, pergerakan ekonomi masih berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari beberapa kelompok komoditas yang juga mengalami kenaikan harga.
"Kenapa deflasi? karena memang pasokan makanan yang ada saat ini tercukupi. Tapi perlu dilihat bahwa komoditas lain juga mengalami inflasi, yang artinya masyarakat itu memenuhi kebutuhannya di kelompok yang lain juga," ujarnya.
Ratna menilai, pola konsumsi masyarakat stabil, sehingga pergerakan harga di pasaran juga terpantau dengan baik.
"Kami melihat bahwa sistem pola konsumsi di masyarakat kota Surakarta sudah cukup bijak dalam membelanjakan kebutuhan mereka," tukasnya. (ul/nik)
Editor : Niko auglandy