Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Tarif Listrik hingga Harga Emas Melejit Biang Kerok Melonjaknya Inflasi di Kota Solo

Maulida Afifa Tri Fahyani • Rabu, 7 Mei 2025 | 03:18 WIB
Ilustrasi toko emas.
Ilustrasi toko emas.

RADARSOLO.COM — Inflasi bulanan di Kota Solo pada April lalu melonjak ke angka 1,19 persen, salah satu yang tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Dua biang kerok utamanya yaitu normalisasi tarif listrik dan lonjakan harga emas perhiasan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Solo Ratna Setyawati mengungkapkan bahwa ketiadaan diskon tarif listrik yang sebelumnya diberlakukan sejak awal tahun menjadi pemicu utama lonjakan harga.

“Diskon tarif listrik berakhir Maret. Saat April, tagihan listrik pascabayar langsung naik. Ini berdampak signifikan pada angka inflasi,” ujarnya saat rilis data di Kantor BPS Solo, Jumat (2/5).

Tak hanya itu, harga emas di pasar global yang menanjak turut mengerek harga perhiasan emas lokal. Komoditas mewah ini—yang lazim digunakan untuk investasi maupun konsumsi saat Lebaran—menjadi penyumbang inflasi terbesar setelah listrik.

Selain dua faktor utama tersebut, faktor musiman seperti Ramadan, Paskah, dan Idul Fitri juga mengubah pola konsumsi masyarakat. Kenaikan permintaan terhadap bahan pangan menjelang hari raya mendorong harga naik, meski mulai menurun setelah libur panjang usai.

“Beberapa harga pangan sudah mengalami penyesuaian pada akhir April. Tapi puncaknya terjadi pada masa menjelang Lebaran,” jelas Ratna.

Ratna juga menyoroti berakhirnya stimulus dari pemerintah, seperti diskon moda transportasi dan penyesuaian harga BBM nonsubsidi sejak 29 Maret.

“Meski sudah berlalu, dampaknya masih terasa hingga April,” imbuhnya.

Dari sisi kelompok pengeluaran, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat inflasi tertinggi sebesar 11,01 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 3,21 persen.

Sebaliknya, beberapa sektor justru mengalami deflasi, seperti makanan, minuman, dan tembakau minus 0,79 persen, informasi dan komunikasi minus 0,32 persen serta rekreasi, olahraga, dan budaya minus 0,32 persen.

Untuk inflasi tahunan (year on year), Solo mencatat angka 1,56 persen dibanding April 2024—masih dalam target pemerintah. Adapun lima komoditas penyumbang inflasi tertinggi yaitu, tarif listrik, emas perhiasan, cabai merah, angkutan dan mobil

Sementara komoditas yang justru menyumbang deflasi antara lain cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, pensil, dan pepaya.

“Angka ini jadi cermin bagi semua pihak, terutama dalam menjaga suplai komoditas pangan strategis agar tetap stabil menjelang momentum besar seperti Lebaran atau akhir tahun,” beber Ratna. (ul/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#pangan #Emas #tarif listrik #kota solo #inflasi