RADARSOLO.COM – Pertumbuhan transaksi berbasis quick response code indonesian standard (QRIS) di wilayah Solo Raya melesat tajam sepanjang 2024.
Bank Indonesia mencatat total nilai transaksi mencapai Rp 6,17 triliun, dengan Kota Solo menyumbang hampir setengahnya, yakni Rp 3 triliun atau 48 persen dari total nilai transaksi.
Sementara dari sisi volume, jumlah transaksi QRIS di Solo Raya mencapai 59 juta kali, dengan Kota Solo mencatat kontribusi tertinggi sebesar 49 persen. Hal ini disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Solo, Aries Purnomohadi, dalam keterangan pers, Senin (13/5).
"Kota Solo menjadi kontributor terbesar di Soloraya untuk transaksi QRIS, baik dari sisi nilai maupun volume," ujar Aries.
Tak hanya tumbuh secara domestik, QRIS juga mulai mengakar secara internasional. Saat ini sistem pembayaran berbasis QR tersebut telah dapat digunakan di sembilan negara, yakni Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam, Laos, Brunei Darussalam, Korea Selatan, dan Jepang.
“Dengan kerja sama ini, turis dari negara-negara tersebut bisa melakukan pembayaran di Indonesia menggunakan sistem QR mereka, dan sebaliknya," ungkap Aries.
Ia menegaskan bahwa QRIS kini menjadi tulang punggung ekosistem ekonomi digital pascapandemi. Sejak diluncurkan pada 2019, QRIS tidak hanya menjadi alat pembayaran non-tunai, tetapi juga solusi praktis dan minim kontak fisik yang sangat relevan saat pandemi Covid-19.
Pertumbuhan QRIS di Solo Raya tercatat melonjak 150 persen secara nilai transaksi dibanding 2023. Volume transaksinya pun meningkat 127 persen pada periode yang sama.
Aries menyebutkan, BI terus membuka peluang kerja sama dengan negara manapun, termasuk kemungkinan integrasi dengan sistem pembayaran Amerika Serikat dan negara-negara lain.
“QRIS disusun dengan prinsip kedaulatan ekonomi nasional. Kita ingin sistem pembayaran di Indonesia stabil, aman, dan tetap tumbuh,” tandasnya. (ul/bun)
Editor : Niko auglandy