RADARSOLO.COM – Di tengah ketidakpastian global dan dinamika sosial politik dalam negeri pascagelombang aksi massa pada akhir Agustus lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan sektor jasa keuangan Indonesia tetap dalam kondisi sehat dan resilien.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, secara fundamental indikator sektor keuangan masih kuat.
“Permodalan solid, likuiditas memadai, dan profil risiko terkendali. Bahkan IHSG sempat menembus all time high pada Agustus lalu meski sempat terjadi gejolak volatilitas,” terangnya.
Mahendra menjelaskan, OJK melakukan koordinasi intensif dengan lembaga jasa keuangan untuk mengantisipasi dampak dinamika yang berkembang.
Lembaga jasa keuangan diminta proaktif mengidentifikasi potensi kerugian, mempercepat verifikasi klaim, dan menjaga layanan tetap optimal bagi masyarakat.
Selain menjaga stabilitas sistem, OJK juga menyiapkan kebijakan yang memberi kemudahan akses pembiayaan, khususnya bagi sektor UMKM.
Bagi debitur yang terdampak situasi terkini, lembaga keuangan didorong memberikan restrukturisasi pinjaman agar aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.
OJK turut mendorong lembaga jasa keuangan melakukan uji ketahanan atau stress test terhadap berbagai kemungkinan skenario pasar. Menurutnya, sejumlah instrumen pengaman tetap berlaku sebagai antisipasi gejolak yang lebih luas.
“Seperti buyback saham tanpa melalui rules, penundaan implementasi pembiayaan transaksi short selling dan penyesuaian trading halt pada penurunan IHSG, serta asymmetric auto-rejection tetap berlaku,“ ungkap Mahendra.
Dia menegaskan, kebijakan yang ditempuh tidak hanya menjaga stabilitas makro, tetapi juga memberi perhatian terhadap perlindungan masyarakat, terutama pelaku UMKM dan debitur terdampak.
“Diharapkan langkah-langkah ini mampu menjaga kepercayaan investor sekaligus mengoptimalkan fungsi intermediasi perbankan dan lembaga keuangan,” tandasnya. (zia/nik)
Editor : Niko auglandy