Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kronologi Kasus Emas Digital China, Geger Ribuan Investor Gagal Cetak Emas Fisik dan Tarik Dana dari Platform JWR

Syahaamah Fikria • Selasa, 3 Februari 2026 | 20:29 WIB
Ilustrasi emas digital.
Ilustrasi emas digital.

RADARSOLO.COM – Pasar keuangan China diguncang skandal besar setelah ribuan investor emas digital dilaporkan gagal menarik dana dan mencetak emas fisik dari sebuah platform emas digital bernama JieWoRui (JWR).

Kasus ini mencuat seiring lonjakan harga emas global dan fomo serok emas oleh masyarakat, yang justru berujung pada krisis likuiditas dan dugaan kebangkrutan perusahaan.

Nilai kerugian diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar AS dan memicu kekhawatiran global terhadap keamanan investasi emas digital.

Awal Mula: Emas Digital Jadi Primadona Investor Ritel

Dalam beberapa bulan terakhir, reli harga emas dunia mendorong minat masyarakat China terhadap instrumen emas digital.

Produk ini menawarkan kemudahan transaksi, pembelian dengan nominal kecil, serta klaim dapat dikonversi menjadi emas fisik kapan saja.

Platform JWR menjadi salah satu tujuan utama investor ritel.

Ribuan nasabah disebut berbondong-bondong menanamkan dana mereka ketika harga emas terus mencetak rekor baru.

Menurut laporan South China Morning Post, lonjakan investasi ini awalnya berjalan normal hingga memasuki fase ketika harga emas semakin tinggi dan investor mulai serentak mencairkan keuntungan.

Krisis Likuiditas: Penarikan Massal Tak Terbayar

Masalah mulai muncul ketika gelombang penarikan dana dan permintaan pengiriman emas fisik terjadi dalam waktu bersamaan.

Lonjakan penarikan ini memicu krisis likuiditas serius di internal JWR.

“Ketika harga emas melonjak lagi dalam beberapa minggu terakhir, gelombang pelanggan mencoba mencairkan pendapatan mereka, mendorong perusahaan ke dalam krisis likuiditas,” tulis South China Morning Post dalam laporannya.

Tak lama berselang, akun nasabah dibekukan.

Investor tidak bisa menarik uang tunai maupun mengambil emas fisik yang telah mereka beli.

Situasi ini memicu kepanikan luas di kalangan nasabah.

Kerugian Fantastis Hingga Rp24 Triliun Lebih

Laporan media China menyebutkan total dana investor yang tak bisa dicairkan mencapai lebih dari 10 miliar yuan, atau setara sekitar Rp24,1 triliun.

Ada juga laporan lain yang memperkirakan nilai dana terdampak bahkan bisa menembus 19 miliar dolar AS.

Menjadikan kasus JWR sebagai salah satu skandal emas digital terbesar di China dalam beberapa tahun terakhir.

Lebih mengejutkan, perusahaan hanya menawarkan kompensasi sekitar 20 persen dari total dana yang disetorkan nasabah, sebuah angka yang langsung memicu kemarahan investor.

Protes Massal dan Intervensi Aparat

Ratusan investor dilaporkan menggelar aksi protes di depan kantor JWR di Shenzhen, menuntut pengembalian dana mereka.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan aparat kepolisian turun tangan untuk menjaga ketertiban dan mencegah eskalasi situasi.

Pemerintah distrik Luohu, Shenzhen, kemudian mengumumkan pembentukan gugus tugas khusus untuk menyelidiki dugaan praktik bisnis tidak normal di JWR.

Benarkah Punya Cadangan Emas Fisik?

Berdasarkan hasil investigasi awal, sejumlah laporan menyebut sebagian besar emas yang tercatat di sistem JWR diduga hanya berupa data digital.

Dan tanpa dukungan cadangan emas fisik yang memadai.

Itu berarti emas yang dibeli dan diyakini investor “tersimpan” dalam sistem, nyatanya belum tentu benar-benar ada dalam bentuk fisik atau batangan.

Temuan ini memperkuat dugaan adanya ketidaksesuaian antara kewajiban perusahaan dan cadangan riil.

Laporan Discovery Alert menytakan kolapsnya JWR menyingkap kelemahan besar dalam pengawasan sektor perdagangan logam mulia di China.

Area Abu-Abu Regulasi

Platform seperti JWR tidak diklasifikasikan sebagai bank, pialang sekuritas, maupun pedagang komoditas berlisensi.

Model bisnis sebagai perantara digital membuat mereka tidak tunduk pada kewajiban kecukupan modal dan cadangan emas fisik, sebagaimana lembaga keuangan resmi.

Ketika penarikan massal terjadi, ketidakseimbangan antara kewajiban dan aset langsung terkuak.

Kepercayaan runtuh, kepanikan menyebar, dan efek domino pun tak terhindarkan.

Menanggapi krisis ini, pemerintah China mulai memperketat pengawasan dan membersihkan platform emas digital berisiko tinggi.

Langkah ini dipandang sebagai upaya mencegah ancaman sistemik akibat inovasi keuangan yang tidak dibarengi regulasi ketat.

Efek Domino: Kepercayaan Emas Digital Anjlok

Dampak kasus JWR terasa cepat. Kepercayaan publik terhadap emas digital merosot tajam, sementara permintaan terhadap emas batangan fisik melonjak signifikan.

Investor memilih aset yang bisa disimpan secara nyata dibanding klaim digital semata.

Fenomena ini terjadi di tengah arus masuk besar ke produk emas global.

Data LSEG Lipper yang dikutip US News mencatat, emas ETF dan logam mulia menerima dana masuk sebesar USD4,39 miliar pada Januari 2026, menandai bulan kedelapan pertumbuhan berturut-turut.

Secara kumulatif, sepanjang 2025, arus masuk ETF emas mencapai USD91,86 miliar, delapan kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#Emas #emas fisik #china #investasi #emas digital #investor #Investasi Emas #platform emas digital