Harga plastik yang semakin melambung memengaruhi pendapatan pelaku UMKM. (M. Ihsan/Radar Solo)RADARSOLO.COM– Kenaikan harga plastik yang terjadi belakangan ini tidak lepas dari imbas terganggunya rantai pasok global serta dinamika geopolitik internasional.
Kondisi ini secara otomatis berdampak langsung pada seluruh pelaku industri, terutama sektor-sektor strategis yang sangat bergantung pada pasokan bahan baku plastik.
Supply Shock dan Permintaan Inelastis
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (UNS) Arif Rahman Hakim menjelaskan, fenomena fluktuasi harga tersebut sejatinya dapat dipahami melalui kacamata teori permintaan dan penawaran.
Baca Juga: Walau Persis Solo Catat 7 Laga Tanpa Kekalahan, Situasi Belum Aman, Ternyata Karena Faktor Ini
“Dari sisi penawaran, terjadi kontraksi akibat terganggunya rantai pasok global bahan baku petrokimia seperti resin plastik. Ini jug dipengaruhi dinamika geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia sebagai bahan utama produksi,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).
Arif menambahkan, kondisi tersebut pada akhirnya menyebabkan terjadinya supply shock atau pergeseran kurva penawaran ke arah kiri, yang berujung pada kenaikan harga keseimbangan di pasar.
Sementara dari sisi permintaan, kebutuhan pasar akan material plastik dinilai masih cukup tinggi dan cenderung stabil, terutama pada sektor pangan, logistik, dan kemasan.
“Permintaan plastik relatif inelastis dalam jangka pendek. Ketika pasokan terganggu, sementara permintaan tetap, maka tekanan harga menjadi tidak terhindarkan,” jelasnya.
Ancaman Inflasi Biaya Produksi bagi UMKM
Arif menilai, dalam kurun waktu jangka pendek, kondisi krisis pasokan ini akan sangat menekan para pelaku industri, khususnya para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Kenaikan harga bahan baku secara langsung memicu inflasi biaya produksi (cost-push inflation) yang berpotensi memukul mundur dan menurunkan kapasitas produksi perusahaan.
“Sebagian pelaku usaha bisa mengurangi produksi, bahkan menghentikan operasional sementara. Dampaknya akan merambat ke sektor hilir seperti industri kemasan dan makanan-minuman,” ungkapnya.
Namun demikian, apabila dilihat dari kacamata jangka panjang, kondisi sulit ini justru dapat menjadi momentum yang baik bagi transformasi industri nasional.
Para pelaku usaha dituntut dan didorong untuk memutar otak melakukan efisiensi, inovasi, hingga giat mencari alternatif bahan baku lain.
“Dalam jangka panjang, ini bisa menjadi momentum restrukturisasi industri. Termasuk mendorong inovasi material substitusi dan penguatan teknologi daur ulang,” katanya.
Solusi Ekonomi Sirkular dan Transformasi Struktural
Lebih lanjut, ia sangat menekankan pentingnya intervensi kebijakan strategis dari pemerintah untuk memperkuat ketahanan industri plastik nasional. Salah satu langkah yang bisa diambil adalah melalui penguatan industri petrokimia domestik guna memangkas ketergantungan pada keran impor.
Baca Juga: Area Nongkrong 24 Jam Segera Hadir di Neo Solo Grand Mall, Tawarkan Konsep Semi-Outdoor
Selain itu, pengembangan konsep ekonomi sirkular melalui peningkatan kapasitas daur ulang plastik juga dinilai menjadi solusi yang sangat relevan saat ini. Diversifikasi bahan baku, seperti pemanfaatan bioplastik berbasis biomassa, juga membuka ruang peluang industri baru yang menjanjikan bagi Indonesia.
“Ke depan, keberlanjutan industri plastik tidak cukup hanya mengandalkan impor. Perlu transformasi struktural melalui hilirisasi, inovasi, dan penguatan ekosistem domestik agar lebih tahan terhadap tekanan global,” pungkasnya. (alf)
Editor : Tri Wahyu Cahyono