RADARSOLO.COM – Pamor minyak goreng (migor) curah di Pasar Legi Solo kian meredup.
Meski harganya kini bertengger di level stabil, para pedagang mulai menjerit lantaran volume penjualan yang terus merosot tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Sriyanti, salah seorang pedagang di Pasar Legi, mengungkapkan, harga minyak goreng curah saat ini berada di kisaran Rp 20.600 per kilogram.
Menurutnya, tidak ada lonjakan harga yang berarti pasca-Lebaran tahun ini.
“Harga masih stabil, tidak sampai menyentuh Rp21 ribu. Sebelum Lebaran sempat naik sedikit, tapi sekarang sudah landai,” ujarnya saat ditemui di kiosnya, Selasa (14/4).
Namun, stabilitas harga ternyata tidak berbanding lurus dengan keramaian pembeli. Sriyanti mengeluhkan jumlah konsumen yang datang ke kiosnya berkurang drastis jika dibandingkan dengan masa kejayaan beberapa tahun lalu.
“Peminat turun drastis, kira-kira sampai 30 persen. Dulu pasar ini sangat ramai, sekarang sepi. Perputaran barang jadi seret,” keluhnya.
Ia menganalisis, fenomena ini dipicu oleh beralihnya konsumen rumah tangga ke minyak goreng kemasan bermerek. Faktor kepraktisan dan persepsi kualitas produk yang lebih higienis menjadi alasan utama masyarakat meninggalkan minyak curah.
Baca Juga: Regulasi Tumpang Tindih, Proyek Perumahan MBR di Solo Raya Terancam Mandek
Selama ini, napas penjualan minyak curah di Pasar Legi bergantung pada pelaku industri rumahan seperti pengusaha kerupuk dan gorengan. Namun, sektor ini pun kini mulai mengerem aktivitas belanja mereka.
Abdul Rohman, seorang pengusaha singkong goreng, mengakui bahwa dirinya masih setia pada minyak curah demi menekan biaya produksi. Namun, ia tak menampik bahwa intensitas belanjanya menurun akibat lesunya permintaan pasar terhadap dagangannya.
“Kalau pakai minyak curah bisa irit Rp 3 ribu sampai Rp 5 ribu dibanding kemasan. Tapi sekarang saya cuma bawa satu jeriken, padahal biasanya dua. Itu saja habisnya lama karena daya beli masyarakat di bawah juga lagi turun,” ungkap Abdul. (alf/bun)
Editor : fery ardi susanto