Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Menakar Realisme B50 di Tengah Gejolak Energi Global, Begini Tanggapan Pakar

Alfida Nurcholisah • Senin, 20 April 2026 | 18:40 WIB
Deputi Bidang Riset, Inovasi, dan Sentra Kekayaan Intelektual Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Rois Fatoni. (DOK. PRIBADI)
Deputi Bidang Riset, Inovasi, dan Sentra Kekayaan Intelektual Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Rois Fatoni. (DOK. PRIBADI)

RADARSOLO.COM - Rencana percepatan penerapan biodiesel B50 pada 1 Juli 2026 menjadi respon pemerintah menghadapi ketidakpastian harga minyak dunia akibat konflik global. 

Kebijakan ini diposisikan sebagai langkah strategis menuju kemandirian energi berbasis sumber daya domestik.

Namun, dari perspektif pakar, implementasi B50 tidak lepas dari berbagai tantangan mendasar, baik secara teknis, ekonomi, hingga keberlanjutan pasokan.

Deputi Bidang Riset, Inovasi, dan Sentra Kekayaan Intelektual Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Rois Fatoni menilai, kebijakan ini sebagai langkah progresif untuk menekan ketergantungan impor BBM. 

“Minyak nabati tersebut dapat diperoleh dari minyak kelapa sawit yang tumbuh di Indonesia,” ujarnya, Senin (20/4).

Baca Juga: Naeka Tembus Pasar Global, Mukena Premium Karya Pengusaha Perempuan Ini Didukung LinkUMKM BRI

Meski begitu, ia mengingatkan adanya perbedaan karakteristik antara biodiesel dan solar fosil yang berdampak pada efisiensi energi.
Menurut Rois, kandungan oksigen dalam biodiesel membuat nilai kalorinya lebih rendah dibandingkan solar murni.

“Sama-sama satu liter, energi yang dihasilkan biodiesel lebih sedikit karena mengandung senyawa oksigen,” jelasnya.

Konsekuensinya, konsumsi bahan bakar berpotensi lebih boros untuk menempuh jarak yang sama.

Baca Juga: QR Code BBM Subsidi Mendadak Nonaktif? Begini Cara Daftar Ulang Akun Subsidi Tepat MyPertamina Terbaru

Dari sisi teknis, penggunaan biodiesel dengan kadar tinggi seperti B50 juga dinilai berdampak pada performa mesin. Rois menjelaskan, senyawa organik dalam minyak nabati dapat mempercepat penyumbatan filter bahan bakar.

“Semua biodiesel seperti itu,” katanya.

Hal ini membuat komponen mesin membutuhkan perawatan lebih intensif, terutama pada sektor industri berat.

Tantangan lain muncul dari aspek ekonomi. Rois menambahkan, harga bahan baku biodiesel berbasis FAME dari minyak sawit masih lebih tinggi dibandingkan solar konvensional.

"Selain itu, ketergantungan pada komoditas sawit yang telah menjadi bagian dari pasar global menimbulkan risiko fluktuasi harga dan gangguan pasokan. Ini karena minyak sawit sudah termasuk komoditas internasional,” imbuh Rois.

Ia juga mengingatkan potensi ketergantungan baru jika komposisi biodiesel terlalu didominasi sawit. “Hal ini berisiko apabila terjadi fluktuasi harga dan gangguan pasokan minyak sawit di dalam negeri,” tegasnya.

Baca Juga: Stok Aman! Bulog Solo Distribusikan Minyakita ke 11 Pasar di Solo Raya, Pasar Legi Jadi Fokus Utama

Sebagai solusi jangka panjang, Rois mendorong diversifikasi bahan baku biodiesel. Salah satunya melalui pengembangan minyak jarak pagar.

Menurutnya, penerapan B50 tidak hanya soal substitusi energi, tetapi juga kesiapan sistem secara menyeluruh. 

“Peran dari universitas itu adalah mengeksplorasi. Namun memang dalam pengembangannya masih terbatas lahan dan ekosistem industri,” ujarnya. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#biodiesel b50 #konflik global #pakar ums #minyak dunia #dosen UMS