RADARSOLO.COM - Ndhalungnesia menyuguhkan karya Suwar-Suwir dalam agenda Lokananta Gamelan Gigs Vol. 01 di Studio Lokananta, Sabtu (16/3/2024).
Ini bukan kali pertama Suwar-Suwir digemakan ke publik. Sebelumnya, karya tersebut dibawakan pada pagelaran event Jawa Timur Art Forum (JAF).
Suwar-Suwir pertama kali dimainkan Ndhalungnesia pada ajang JAF di Taman Krida Budaya Malang, Jawa Timur, 8 November 2023 lalu. Ajang ini diinisiasi Dewan Kesenian Provinsi Jawa Timur.
“Karya Suwar-Suwir lahir pada 2020. Lalu kami garap ulang pada 2023, melalui proses kurang lebih selama satu bulan,” kata Ketua Ndhalungnesia Akhmad Fauzan kepada Jawa Pos Radar Solo.
Fauzan menjelaskan, Suwar Suwir merupakan jajanan atau oleh-oleh khas Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang terbuat dari tape.
Mempunyai makna dari suwiran beberapa suku budaya. Di antaranya suku Jawa, Madura, dan Osing.
Itu merupakan metafora dari Jember, yang terdiri dari beberapa suku budaya. Lalu diimplementasikan ke dalam karya musikalisasi.
Fauzan mengatakan karya ini menggunakan idiom musikal budaya khas Jember, yakni ansambel musik patrol.
Kemudian dipadukan dengan beberapa instrument gamelan seperti saron, demung, kenong telo, dan yang lain.
“Lalu kami olah menjadi musik elektronik dan midi programming. Sehingga menjadi sebuah kesatuan rasa baru yang estetik dan otentik,” papar Fauzan.
Menciptakan karya ini tak semudah membalik telapak tangan. Sejumlah tantangan menghampiri Ndhalungnesia. Terutama penyesuaian bunyi maupun teknik bermain.
Penyesuaian bunyi yang dimaksud, yakni ketika instrumen dimainkan secara langsung. Akan terdengar enak karena memanfaatkan akustika dari intrumen itu sendiri.
“Dibantu akustika dari ruangan, namun kami melalukan penyesuaian ulang. Di mana bunyi yang kami ambil atau kami rekam untuk sampling itu, butuh proses kerja audio yang memakan waktu lama,” bebernya.
Sementara untuk penyesuaian dalam teknik bermain, Ndhalungnesia terbiasa memainkan instrument secara langsung.
Tetapi ketika sudah beralih wahana ke dalam midi programming, mereka menggunakan midi controller untuk membunyikan dari sampling audio yang telah diolah tadi.
“Itu membutuhkan keterampilan yang lebih. Supaya dapat memainkan instrumen tersebut sesuai pola-pola, maupun teknik atau artikulasi dari instrument itu sendiri,” tandasnya.
Sementara itu, karya Suwar-Suwir ini memiliki pesan tersendiri. Fauzan mengaku, pesan yang ingin disampaikan adalah integrasi musik tradisional dalam domain musik pop-industri. Membuat musik lebih diterima dan bermanfaat bagi pendengarnya.
“Dengan keutamaan nilai ini, komposisi-komposisi musik yang tercipta dapat menyapa audiens dengan riang. Tanpa kehilangan kekhidmatannya,” ujarnya.
Ciri khas lainnya adalah bertemunya budaya Madura dan Jawa, yang coba diramu dalam musik tersebut. Sehingga menghadirkan rasa kebhinekaan Indonesia dalam lingkup kecil.
“Selain itu, kami juga ingin menyampaikan, Jember memiliki peran penting dan kekuatan menjadi tolok ukur objektif ketika melihat kebhinekaan. Bisa menerima dan menghargai sifat akulturatif, tanpa adanya diskriminatif,” paparnya.
Sementara itu, Ndhalungnesia berdiri sejak 2014 silam. Digawangi sekumpulan anak muda yang memiliki hobi bermusik.
Di awal, grup ini bermain di ranah perkusi. Kemudian berkembang menjadi band. Sehingga Ndhalungnesia kini membuka bentuk-bentuk atau ruang-ruang kreatif melalui musik midi programming.
“Kami lahir dari sebuah sanggar seni di Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember. Dulu kami masih seumuran SMP. Sampai sekarang tetap berkarya,” papar Fauzan.
Nah, perubahan wajah Ndhalungnesia tak lepas dari peran Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Kebetulan pada 2018, Fauzan menempuh pendidikan di ISI Surakarta.
“Saya mengajak beberapa teman kuliah dari beberapa daerah, khususnya Jawa Timur. Kami sama-sama berproses bersama dengan Ndhalungnesia ini,” bebernya. (nis/fer)
Editor : Damianus Bram