Aduh Gusti, Aduh Gusti Allah
Ketiga dawa, ngegla
Oh Condro Baskoro
Tinemu ing grahana
RADARSOLO.COM - Inilah sepenggal lirik musik tradisi berjudul Ketigo Dowo alias Drought, yang ditulis seniman serbabisa asal Kota Solo Peni Candra Rini.
Hingga sekarang ini, alunan musik tradisi tersebut memasuki sequel arransemen yang keempat.
Ketigo Dowo merupakan reaksi hadirnya kemarau panjang yang melanda sebagian besar wilayah di Indonesia, belum lama ini.
Di mana masyarakat Jawa pada umumnya kerap menyebut musim kemarau dengan kata ketigo.
“Saya merasakan, ketigo di Indonesia sangat panas sekali. Ini tidak ladzim. Tidak seperti musim ketigo sebelumnya,” kata Peni yang juga Dosen Jurusan Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) dan Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Solo itu.
Perubahan iklim tersebut digambarkan Peni dalam karya ini. Sehingga energi dari musik, lirik vokal, hingga jiwa dari komposisi ini, merupakan pengungkapan rasa bahwa saat ini bumi tidak dalam keadaan baik-baik saja.
“Mari mengingat kembali, akan kepedulian dengan bumi. Rumah satu-satunya yang kita tempati. Semua sudah merasakan dampak climate change, tapi seolah abai. Seolah tidak ada apa-apa,” imbuhnya.
Menilik ke belakang, karya ini atas permintaan Kronos Quartet kepada Peni. Sebagai catatan, Peni sudah melalang buana di berbagai benua.
Karya-karyanya sering dimainkan Kronos Quartet, dalam program Fifty For the Future dan Kronos Quartet Five Decades.
Alhasil karyanya juga biasa dimainkan oleh berbagai grup string quartet dari seluruh dunia.
Itulah sebabnya, karya-karya itu terus hidup dan bermetamorfosa ke berbagai panggung-panggung kehormatan dunia.
Peni juga kerap berkolaborasi dengan grup musik berbasis string quartet tersebut, baik di Eropa maupun Amerika Serikat.
“Pada 2023 karya saya Maduswara dimainkan oleh Kronos Quartet di Carnegie Hall di New York. Dapat standing ovation. Paginya saya diajak diskusi sama David Harrington, pimpinan Kronos Quartet di New York City. Mereka meminta saya membuat empat komposisi untuk Kronos Quartet, yang akan tampil dalam Kronos Five Decades,” ujarnya.
Kronos memberi Peni tema komposi terkait isu climate change atau perubahan iklim. Isu ini sudah menjadi perhatian dunia.
Empat karya ciptaan Peni, berjudul Segoro Gunung, Agni, Ketigo Dowo, dan Hujan. Di mainkan di Zellerbach Hall, Berkeley, California. Salah satu concert hall terbaik di dunia.
Konser ini mendapat dukungan penuh dari Direktorat Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbudristek. Termasuk ISI Solo, UC Berkeley, dan University Of Richmond di Amerika Serikat.
“Ini sebagai wujud respons dan kepedulian saya terhadap climate change dunia. Sebagai seniman Jawa dengan latar belakang musik tradisi gamelan, saya ciptakan komposisi musik berjiwa Indonesia,” ujarnya. (nis/fer)
Editor : Damianus Bram