Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Ini Dia OM Lorenza: Sempat Vakum Lama, Kini Konsisten Garap Dangdut Klasik dengan Kostum Khas Jadul

Iwan Kawul • Rabu, 5 Februari 2025 | 00:41 WIB
Personil OM Lorenza dan tim. Orkes melayu ini konsisten garap dangdut classic dan kerap menggunakan pakaian jadul.
Personil OM Lorenza dan tim. Orkes melayu ini konsisten garap dangdut classic dan kerap menggunakan pakaian jadul.

RADARSOLO.COM - Suasana di sebuah kafe di Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Senin (3/2/2025) malam tampak meriah.

Puluhan penggemar Orkes Melayu (OM) Lorenza hadir dengan gaya khas era 70-an, mengenakan celana cutbray, rambut kribo, dan kemeja berkerah lebar.

Mereka berkumpul dalam sebuah sarasehan dan jumpa fans yang difasilitasi oleh Camat Polokarto, Herry Mulyadi.

Di tengah keramaian, Murjiyanto, pemilik sekaligus pengelola OM Lorenza, berbagi kisah panjang perjalanan grup musik dangdut legendaris ini.

"OM Lorenza didirikan Pak Budi Aeromac dari Lalung, Karanganyar, pada 2007. Awalnya, penyanyi utamanya Mbak Inul Daratista. Saat itu, kami mendapat banyak sponsor, dari produk rokok hingga perusahaan obat, dan sering pentas di berbagai kota di Indonesia. Bahkan, kami memiliki jadwal rutin seminggu sekali, sebulan sekali di THR Sriwedari," kenangnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, OM Lorenza menghadapi tantangan besar. Pada 2012, grup ini vakum.

"Setelah lama tidak aktif, saya dan teman-teman punya ide untuk menghidupkan kembali OM Lorenza. Kami meminta izin kepada Pak Budi, dan beliau memberikan nama itu tanpa syarat apa pun. Akhirnya, manajemen kami ambil alih, dengan satu pesan penting dari beliau 'jaga nama baik Lorenza'," ujar Murjiyanto.

Selanjutnya, OM Lorenza kembali aktif dengan mengikuti tren dangdut koplo yang sedang naik daun.

Namun, persaingan yang ketat membuat mereka sulit bertahan. Hingga akhirnya, pandemi COVID-19 menjadi titik balik tak terduga bagi mereka.

"Saat pandemi, semua job dibatalkan, tidak ada yang bisa manggung. Kami hanya latihan di rumah, bermain gitar dan ketipung, membawakan lagu-lagu dangdut jadul era 60-an hingga 80-an," ungkapnya.

Tak disangka, video latihan sederhana yang diunggah ke Facebook mendapat respons positif.

"Awalnya kami ragu, siapa yang mau mendengar lagu-lagu jadul? Tapi ternyata banyak yang tertarik. Dari situ, kami semakin yakin untuk mengusung konsep dangdut klasik sebagai identitas kami," tambahnya.

Salah satu kunci keberhasilan mereka dalam menghidupkan kembali lagu-lagu lama adalah koleksi kaset pita milik Pak Kasan, seorang warga Polokarto yang memiliki arsip musik dangdut lawas karena dulunya merupakan penyedia jasa sewa sound sistem.

"Dari koleksi beliau, kami memilih lagu-lagu yang jarang diketahui orang. Ini yang membuat pendengar bertanya-tanya dan penasaran," jelas Murjiyanto.

Kini, OM Lorenza memiliki 18 anggota yang terdiri dari 10 musisi, 4 penyanyi, 1 MC, dan 3 orang tim mixing.

"Sebagian besar pemusik kami sudah berusia lanjut, dan ada satu elemen yang tidak bisa tergantikan, yakni suara kendang kami yang khas. Ini yang membedakan kami dari grup dangdut lainnya," katanya.

Lebih dari sekadar musik, OM Lorenza juga berkomitmen menjaga nilai-nilai dalam pertunjukan mereka.

"Kami ingin menciptakan suasana berjoget yang santai dan menyenangkan, tanpa keributan. Selama kami manggung, alhamdulillah, tidak pernah ada kejadian yang mengganggu," katanya.

Tak hanya itu, mereka juga memiliki standar dalam berpenampilan.

"Penyanyi kami tidak perlu berpakaian vulgar atau seronok hanya demi saweran. Kami ingin menjaga citra dangdut agar tetap elegan dan berkelas," tegasnya.

Dengan basis utama di Desa Sidorejo, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, OM Lorenza kini kembali eksis dengan identitas kuat sebagai orkes dangdut klasik.

Mereka tidak sekadar bernyanyi, tetapi juga merawat nostalgia bagi para pecinta musik lawas.
.
"Kami percaya, ini semua ada campur tangan Tuhan. Kami hanya berusaha menjalankan dengan sepenuh hati. Dangdut jadul masih memiliki tempat di hati penggemarnya, dan kami ada di sini untuk menjaga warisan itu tetap hidup," tutup Murjiyanto. (kwl)

Editor : Damianus Bram
#dangdut #classic #jadul #inul daratista #Orkes melayu #om lorenza