
RADARSOLO.COM - Kisah perceraian pasangan Temon dan Sipon, warga Kecamatan Banjarsari di Pengadilan Agama (PA) Solo cukup menarik perhatian.
Hancurnya rumah tangga mereka dipicu persoalan tak biasa.
Gara-garanya, Temon terlalu percaya ramalan nasib, perhitungan hari baik, dan berbagai pantangan dalam mengambil keputusan.
Sipon mengaku, di awal pernikahan tidak terlalu mempermasalahkan kebiasaan suaminya yang gemar memperhitungkan hari baik.
Namun lama-kelamaan, hal tersebut justru memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan rumah tangga mereka.
“Awalnya cuma soal memilih tanggal pindahan rumah atau beli barang. Saya pikir masih wajar,” ujar Sipon.
Namun menurutnya, kebiasaan tersebut semakin berlebihan. Keputusan-keputusan penting dalam rumah tangga sering tertunda, hanya karena dianggap belum memasuki waktu yang tepat.
Baca Juga: Temon Dan Sipon Jadi Korban Rasan-Rasan
“Kalau mau memperbaiki rumah harus tunggu hitungan tertentu. Mau memulai usaha tunggu hari baik. Bahkan beli barang kadang ditunda, karena katanya belum cocok harinya,” ujar Sipon.
Sipon mengaku kondisi tersebut membuat banyak rencana keluarga berjalan lambat dan tidak pasti.
“Kadang semuanya sudah siap, tapi mendadak dibatalkan. Katanya harinya tidak bagus,” sesalnya.




