RADARSOLO.COM – Badai efisiensi kembali menerjang industri hiburan Hollywood. Raksasa media asal Amerika Serikat, The Walt Disney Company, dikabarkan tengah bersiap melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal yang menargetkan sekitar 1.000 pekerja dalam beberapa pekan ke depan.
Langkah drastis ini menjadi sorotan tajam karena merupakan kebijakan besar pertama di bawah kepemimpinan CEO baru mereka.
Laporan yang pertama kali dirilis oleh The Wall Street Journal (WSJ) pada Rabu (8/4/2026) mengungkapkan bahwa pemangkasan ini akan menyasar unit-unit krusial, dengan fokus utama pada departemen pemasaran perusahaan.
Baca Juga: Panduan Cek Status Bansos Online 2026: PKH dan BPNT Cair April Ini, Cukup Modal NIK dan HP
Kebijakan ini disebut sebagai upaya Disney untuk tetap relevan di tengah pergeseran peta bisnis media global yang semakin menantang.
Efisiensi di Bawah Kepemimpinan Josh D’Amaro
Langkah PHK ini menandai awal masa jabatan Josh D’Amaro sebagai CEO Disney, yang baru resmi menduduki kursi kepemimpinan pada 18 Maret 2026 lalu.
D'Amaro, seorang veteran 28 tahun di Disney yang sebelumnya sukses memimpin divisi Disney Parks, kini dihadapkan pada tugas berat untuk merampingkan struktur perusahaan agar lebih lincah.
Baca Juga: RASOHISTORI, 9 April 1946: Hari Penentu yang Mengubah Sejarah Penerbangan Indonesia
Meskipun rencana pengurangan staf ini dilaporkan sudah digodok sebelum D’Amaro menjabat, implementasinya menjadi prioritas untuk menciptakan kolaborasi antar-divisi yang lebih cepat dan efisien.
D’Amaro diharapkan mampu membawa Disney bertransformasi dari pola kerja konvensional menuju ekosistem digital yang lebih solid.
Mengapa Disney Melakukan PHK Lagi?
Industri perfilman dunia, termasuk Disney, sedang menghadapi "anomali" ekonomi.
Berikut adalah beberapa faktor utama yang melatarbelakangi keputusan PHK tersebut:
Profitabilitas Streaming yang Menantang: Layanan streaming (Disney+) belum mampu memberikan margin keuntungan sebesar bisnis televisi kabel konvensional yang kini mulai ditinggalkan penonton.
Penurunan Performa Box Office: Pendapatan dari film layar lebar tidak lagi sestabil masa sebelum pandemi, memaksa studio untuk melakukan penyesuaian anggaran produksi dan promosi.
Baca Juga: Rekor Gresik Phonska di Final Four Proliga Putus di Solo, Megawati Cs Menang Dramatis
Persaingan Ketat Perusahaan Teknologi: Disney tidak hanya bersaing dengan sesama studio film, tetapi juga dengan raksasa teknologi yang merambah dunia konten, sehingga dibutuhkan dana investasi yang besar untuk memperkuat lini digital.
Restrukturisasi Berkelanjutan
Sejak Bob Iger kembali menjabat pada 2022 hingga posisinya digantikan D'Amaro, Disney tercatat telah memangkas lebih dari 8.000 karyawan guna menyeimbangkan neraca keuangan.
Alih-alih sekadar memotong biaya, manajemen Disney mengklaim bahwa dana yang dihemat dari efisiensi ini akan dialokasikan kembali untuk berinvestasi pada bisnis digital yang memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang.
Prioritas utama Josh D’Amaro saat ini adalah memastikan setiap divisi—mulai dari konten kreatif hingga taman hiburan—dapat beroperasi dengan biaya yang lebih rendah namun memiliki efektivitas pemasaran yang lebih tinggi.
Sejauh ini, pihak Disney belum memberikan perincian detail mengenai lokasi kantor mana saja yang akan terdampak paling parah.
Namun, para analis meyakini bahwa langkah ini adalah bagian dari strategi "bertahan hidup" di tengah ketidakpastian ekonomi global tahun 2026. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria