RADARSOLO.COM - Usil boleh, tapi jangan keterusan dan kebablasan jika tidak ingin bernasib seperti Temon.
Warga Kecamatan Laweyan, Solo ini harus kehilangan istri tercinta, Sipon, gara-gara konten video prank.
Majelis hakim Pengadilan Agama (PA) Solo resmi kabulkan gugatan cerai yang diajukan Sipon terhadap Temon.
Ditemui usai sidang, Sipon mengaku awalnya mendukung hobi suaminya membuat konten di media sosial (medsos).
Baca Juga: Balada Temon Dan Sipon: Gara-Gara Percaya Ramalan Nasib
Bahkan beberapa kali Sipon membantu pembuatan video yang diunggah Temon.
“Awalnya tidak masalah. Saya pikir itu hanya hiburan dan kreativitas saja,” ujar Sipon.
Namun seiring bertambahnya pengikut di akun medsos Temon, konten yang dibuat mengarah prank yang menjerumuskan Sipon.
Baca Juga: Kebun Binatang Pindah ke Rumah, Sipon Merajuk Gugat Cerai Temon
“Kadang saya tidak tahu sedang direkam. Tiba-tiba saya dikerjai lalu diunggah di medsos,” keluhnya.
Menurut Sipon, beberapa konten prank bikinan Temon masih bisa ditoleransi. Namun lama-kelamaan intensitasnya semakin sering. Ini yang membuat Sipon mulai risih.
“Pernah saya dikagetkan kabar palsu. Pernah juga dibuat panik karena barang penting disembunyikan. Semua ujung-ujungnya cuma buat konten,” bebernya.
Sipon bahkan sering dibuat malu, gara-gara beberapa video konten prank ditonton kerabat dan tetangga.
“Terus terang malu. Apalagi kalau videonya tersebar dan jadi bahan rasan-rasan (gunjingan) orang,” sesalnya.
Demi meredam gejolak dalam rumah tangga, Sipon sering menasihati Temon agar membatasi konten prank yang melibatkan keluarga. Namun, itu hanya dianggap angin lalu.
“Dia selalu bilang itu hanya bercanda dan demi hiburan. Tapi saya yang menjalaninya merasa tidak nyaman,” ujar Sipon.
Baca Juga: Balada Temon Dan Sipon: Pekerjaan Numpuk Picu Streess, Istri Jadi Pelampiasan Emosi
Menurut Sipon, persoalan itu akhirnya bukan lagi soal konten semata, melainkan tentang rasa hormat dalam hubungan suami istri. Ia mengaku mulai kehilangan ketenangan di rumah, karena trauma jadi korban prank.
“Rumah seharusnya jadi tempat paling nyaman. Tapi saya justru sering curiga dan waspada,” bebernya.
Seiring berjalannya waktu, konflik akibat konten prank tersebut semakin meruncing.
Beberapa kali keduanya terlibat pertengkaran, karena Sipon merasa keberatan. Di satu sisi, Temon menganggap konten itu masih di ambang batas kewajaran.
“Perbedaan cara pandang itu yang akhirnya membuat hubungan kami semakin jauh,” ujarnya. (atn/fer)
Editor : fery ardi susanto