RADARSOLO.COM – Pernah memperhatikan bagaimana beberapa adegan film menempatkan karakter tepat di tengah layar? Dalam beberapa bulan terakhir, kebiasaan tersebut menjadi bahan perbincangan setelah trailer Hexed, film animasi terbaru Disney, dikritik karena sejumlah adegannya dianggap memiliki komposisi yang terlalu terpusat.
Sebagian penonton bahkan menduga framing tersebut dibuat agar adegan lebih mudah dipotong menjadi format vertikal untuk TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts. Ketika video horizontal dipangkas menjadi rasio 9:16, bagian kiri dan kanan gambar akan hilang. Karakter yang berada di tengah pun relatif lebih aman dari risiko terpotong.
Namun, tudingan tersebut belum tentu benar. Disney tidak menyatakan bahwa Hexed dirancang untuk TikTok. Lagi pula, komposisi terpusat bukan sesuatu yang baru ditemukan pada era media sosial.
Baca Juga: Bahasa Gaul Tak Mesti Punya Arti, Tapi Tetap Bisa Dipahami?
Sutradara seperti Wes Anderson bahkan dikenal menggunakan komposisi simetris dan penempatan subjek yang sangat terukur jauh sebelum TikTok menjadi bagian dari budaya menonton.
Lantas, mengapa isu ini muncul sekarang?
Salah satu jawabannya adalah cara penonton menemukan film telah berubah.
Film tetap dibuat untuk layar lebar dengan format horizontal. Namun, sebelum seseorang memutuskan menontonnya, kemungkinan besar ia terlebih dahulu menemukan film tersebut melalui layar ponsel. Potongan adegan, trailer pendek, wawancara pemain, hingga video reaksi dapat muncul dalam format vertikal.
Baca Juga: 5 Fakta Menarik tentang Bahasa Indonesia
Artinya, sebuah film kini tidak hanya perlu terlihat bagus ketika ditonton secara utuh. Adegan di dalamnya juga berpotensi dipisahkan, dipotong, lalu dikonsumsi kembali dalam bentuk video pendek.
Perubahan tersebut sudah terlihat dalam promosi film.
Trailer Dune: Part Three, misalnya, sempat diluncurkan melalui TikTok dalam format vertikal. Strategi tersebut justru menuai kritik karena sebagian penggemar merasa format ponsel tidak cocok dengan film yang mengandalkan skala visual besar dan sinematografi layar lebar.
Namun, di sisi lain, industri hiburan mulai melangkah lebih jauh.
Pada 2026, aktris dan produser Issa Rae meluncurkan Screen Time, serial microdrama yang memang dibuat dalam format vertikal. Serial tersebut meraih hampir 75 juta penayangan pada minggu pertamanya di TikTok dan PineDrama.
Peacock bahkan memperkenalkan Campus Confidential, serial vertikal original yang dibuat khusus untuk pengalaman menonton melalui ponsel.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa video vertikal bukan lagi sekadar tempat untuk memotong ulang film yang sudah dibuat.
Kini, cerita bahkan mulai dibuat dengan mempertimbangkan layar vertikal sejak awal.
Baca Juga: Kalau Emoji Jadi Bahasa, Harus Punya SPOK Dong? Ternyata Ini yang Membuatnya Berbeda
Reuters melaporkan bahwa microdrama berdurasi sekitar 45 detik hingga dua menit sedang berkembang pesat di Amerika Serikat. Format tersebut menarik perhatian perusahaan media karena penonton dapat menemukan dan menontonnya melalui TikTok, Instagram, maupun platform khusus microdrama.
Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar apakah TikTok membuat film harus menaruh karakter di tengah layar.
Yang lebih besar adalah perubahan cara sebuah cerita hidup setelah keluar dari bioskop.
Dulu, film dibuat untuk layar lebar, lalu selesai ketika credit berjalan. Kini, satu adegan bisa dipotong menjadi video vertikal, menjadi bahan diskusi, masuk ke algoritma, dan bahkan membawa penonton baru kembali mencari film aslinya.
Mungkin, tantangan sinema hari ini bukan lagi sekadar membuat gambar yang indah untuk layar besar, tetapi membuatnya tetap bekerja ketika dunia menontonnya lewat layar sekecil telapak tangan. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno