SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo
PENTAS perdana setelah sekian purnama itu benar-benar berkesan bagi para hadirin malam itu. Bagaimana tidak, setelah sekian lama absen sejak kejadian luar biasa (KLB) Covid-19 ditetapkan, pertunjukan pun kembali dihelat. “Ya memang lebih enak itu kalau menonton langsung. Beda suasananya,” ujar seorang penonton, Wenny Sulistiawati, 43, yang datang bersama keluarga pada Jumat malam (19/6) lalu.
Sedari awal, penerapan protokol kesehatan memang tampak ketat. Mulai dari pengecekan suhu tubuh, aturan cuci tangan, tatanan alur pembelian tiket, hingga pembatasan tempat duduk bagi para penonton. Normalnya, gedung yang memiliki kapasitas 700 tempat duduk itu bisa diisi 500 penonton dalam sekali pentas.
Namun, pada pentas perdana Jumat lalu itu penontonnya tak sampai 100 orang, mengingat hanya kursi VIP saja yang ditawarkan kepada penonton malam itu. “Biasanya penuh, tapi malah dengan sedikit ini jadi terasa eksklusif,” gurau dia.
Benar saja, suasana malam itu memang jauh lebih fokus dari biasanya. Dialog-dialog wayang pun terasa lebih jelas, alur ceritanya tampak makin mudah dicerna, sekalipun bagi penonton awam dalam pertunjukan jenis ini.
Pas lagi seru-serunya, pet... listrik di Gedung Wayang Orang Sriwedari mati. Generator pun tak menyala selama beberapa saat. Uniknya, suasana gelap gulita hampir 10 menit itu tak membuat para penonton beranjak dari tempat duduk masing-masing. Tampaknya penonton benar-benar rindu akan pentas yang bisa ditonton langsung itu.
“Sempat mati 10 menit, pas nyala lagi listriknya ternyata semua penonton masih bertahan. Akhirnya pertunjukan dilanjutkan lagi, rasanya puas bisa tonton langsung,” beber Wenny.
Bicara soal kepuasan, koran ini teringat akan obrolan di ruang rias bersama salah seorang aktor senior WOS, Agus Prasetyo, 47. Pandemi Covid-19 sempat membuat gundah para pelaku seni seperti dirinya. Sebetulnya, secara hitung-hitungan ekonomi, tak pentas pun tidak memengaruhi kesejahteraan mereka. Sebab, 70 seniman yang terlibat sudah berstatus sebagai pegawai pemerintah. “Kalau kesejahteraan kami tetap, hanya saja namanya orang seni kalau tidak pentas ya kurang. Serasa belum bisa memenuhi kewajiban kami,” terang Agus.
Aktor senior sekaligus koordinator pemaim WOS ini pun mengakui bahwa pentas sempat berhenti selama beberapa waktu sampai akhirnya dialihkan menjadi pentas daring. Pentas perdana pasca KLB itu tentu menjadi sesuatu yang spesial, mengingat akhirnya bisa tampil di hadapan para penggemar setia sekalipun jumlahnya tidak banyak.
“Sejak pentas daring sampai saat ini pemain wayangnya kami bagi dua kelompok agar tidak terlalu padat saat berada di atas panggung. Kalau pengerawitnya masih full karena sudah bisa memenuhi ketentuan jarak yang ditetapkan,” jelas dia.
Karena dibagi menjadi dua kelompok itu, tak semua adegan bisa disajikan secara maksimal. Khususnya adegan-adegan epik yang melibatkan banyak orang seperti lerang dan lainnya. Meski begitu, esensi dari pentas dan alur cerita utama tetap bisa disajikan dengan maksimal.
“Biasanya pentas itu sejak pukul 20.30 hingga 23.00 dengan durasi kira-kira 2 jam. Sekarang harus start dari pukul 20.00 dan selesai pukul 21.30 . Durasi 1,5 jam saja. Karena itu ada beberapa bagian yang dipadatkan,” beber Agus.
Pandemi Covid-19 juga menjadi guru berharga dalam perjalanan karir sutradara muda WOT Benekditus Billy, 25. Sebagai sutradara muda dia paham betul bahwa masih banyak hal yang harus dia pelajari. Sebab itu, selama jeda tidak pentas diisi dengan rutinitas membedah naskah maupun lakon dalam seni wayang orang.
“Ternyata masyarakat itu rindu sama pentas wayang orang, benar-benar rindu. WOS tetap akan berdiri kokoh untuk masyarakat. Semoga new normal ini menjadi momen penting agar seni wayang orang tetap eksis di masa mendatang,” tutur Billy. (*/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra