PENJAGA Sendang Mbah Meyek, Sugimin, 66, menuturkan, pandemi membuat semua kegiatan yang biasanya digelar warga batal. “Ya untuk sekadar tetap melestarikan kearifan lokal. Di sini kami membuat bancakan dan berdoa bersama,” jelasnya, Sabtu (31/11).
Lalu bagaimana dengan kepercayaan yang menyatakan jika ritual adat tidak digelar maka keburukan akan muncul dan mengganggu warga di kampung? Sugimin menuturkan, bersih desa dan wayangan menjadi agenda wajib tiap tahun.
Meski demikian, warga juga harus menyesuaikan kondisi dan situasi saat ini. Sebab itu, rangkaian peringatan Suro dilakukan dengan sederhana. “Warga sekadar bersih-bersih di sendang. Yang penting itu niatnya walau tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, makna upacara adat tetap bisa tercapai,” ujarnya.
Baginya, melestarikan tradisi leluhur bukan hanya melalui serangkaian acara besar saja. Secara sederhana pun, asal maksud dan tujuannya sama, tidak menjadi persoalan.
Cerita yang berkembang di masyarakat, keberadaan Sendang Mbah Meyek bermula dari kisah seorang putri dari Kerajaan Pajang bernama Dyah Sri Widyawatiningrum. Putri tersebut terusir dari istana karena dituduh serong. Sang putri akhirnya meninggalkan kerajan bersama ibunya.
Rute pelariannya menggunakan sebuah getek (perahu dari bambu) untuk melintasi Kali Pepe. Pelarian itu tidaklah mulus. Mereka dikepung prajurit kerajaan. Hingga akhirnya keduanya diselamatkan oleh sambaran petir yang menghancurkan getek sekaligus menghalau pasukan.
Getek itu pun rusak. Dalam istilah Jawa biasanya disebut meyek atau meyek-meyek. Dari sanalah penamamaan Mbah Meyek muncul. Ibu dan anak itu akhirnya menetap di sebuah kampung yang dipercaya beberapa orang sebagai Kampung Meyek.
“Dari cerita orang tua dulu memang seperti itu. Masyarakat di sini masih memercayai cerita tersebut. Makanya situs ini terus dirawat,” jelas Sugimin.
Tradisi lokal dan kebudayaan yang hidup ini membuat pemerintah setempat segera mematenkan situs tersebut sebagai cagar budaya. (ves/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra