Beberapa lagi berkumpul di satu sudut. “Voor piro?” Tanya salah satu dari mereka. “Glek-glekan (lek-lekan) iki. Musuhe abot ora wani nge-voor,” ujar rekannya. Malam itu, seingat saya adalah 6 Mei 1998. Di Stadion Sriwedari digelar laga antara tuan rumah Arseto Solo kontra Pelita Mastran (Pelita Jaya).
Laga ini memang cukup menyedot antusiasme pecinta bola di Solo. Stadion Sriwedari penuh. Pelita saat itu merupakan tim elite di Liga Indonesia. Sejumlah pemain bintang menghiasi skuad yang dilatih Henk Wullems. Seingat saya saat itu ada pemain asing Dejan Glusevic tops skor kompetisi sebelumnya. Juga ada mantan punggawa timnas Kamerun di Piala Dunia 1994, Maboang Kessack. Juga sederet pemain muda jebolan program Primavera seperti Kurniawan Dwi Julianto, Eko Purjianto, dan Gusnaedi Adang. Mentereng lah Pelita masa itu.
Skuad Arseto sendiri cukup tangguh meski tanpa pemain asing. Saat itu, Arseto tengah meremajakan timnya. Ada kakak beradik Agung Setyabudi-Tri Gustoro “Iplik” Prasetyo, Ahmad Arif, Aris Budi, dan Untung Sudrajat. Mereka pemain lokal hasil pembinaan Arseto. Pemain ini dipadudengan pilar senior seperti Eduard Tjong, I Komang Putra, dan Heriansyah.
Saat itu, suhu politik di Solo memanas. Nyaris setiap hari, ada aksi demo menuntut reformasi Orde Baru. Jadwal pertandingan Liga Indonesia antara tuan rumah Arseto Solo kontra Pelita Mastran (Pelita Jaya) tetap digelar. Padahal siang harinya, baru saja terjadi demontrasi besar-besaran di kampus UMS Solo.Sisa-sisa bau gas air mata belum sepenuhnya hilang dari hidung saya. Tapi karena “kewajiban” nonton Arseto, saya tetap nekat datang ke Sriwedari.
Bagi saya nonton Arseto bertanding adalah sebuah kewajiban. Sejak kecil saya sudah tahu tentang Arseto. Referensi tentang Arseto saya baca dari koran langganan ayah di rumah. Kebetulan di kampung, ayah saya berlangganan dua koran sekaligus, Kompas dan Suara Merdeka. Kalau saat itu, Jawa Pos sudah masuk Banyumas tentu, ayah saya pasti langganan juga.
Sejak kelas III SD, saya sudah terbiasa membaca koran. Dari Suara Merdeka-lah saya tahu tentang Arseto. Pemain, pelatih hingga stadionnya. Sehingga di benak saya tertanam pengetahuan jika Arseto adalah tim Solo.Tapi begitu saya menjadi jurnalis di Solo. Saya baru tahu jika Arseto merupakan tim yang boyongan dari Jakarta.
Saya mulai menetap di Solo akhir 1995. Namun sejak kecil, saya tahu kalau ada tim besar di Solo. Begitu tiba di Solo dari Banyumas, tempat yang pertama saya datangi adalah Stadion Sriwedari. Saya begitu penasaran dengan Sriwedari. Terutama lampu stadionnya. Maklum di kampung saya tidak ada lapangan sepak bola yang punya lampu.
Beberapa penonton sempat kasak-kusuk soal keamanan pertandingan. Aroma politis sangat kental terasa di tribun timur yang saya duduki. Benar saja, baru beberapa menit pertandingan digelar, pecah kerusuhan. Pemicunya pun tak jelas. Tiba – tiba saja penonton merangsek ke dalam stadion. Ratusan orang melemparkan berbagai macam benda ke arah petugas keamanan. Pemain ofisial dan perangkat pertandingan kalang kabut menyelamatkan diri. Pertandingan akhirnya tak dilanjutkan.Pun dengan nasib Arseto. Bahkan kompetisi Liga Indonesia juga dihentikan. Itulah pertandingan terakhir Arseto. Setelah itu, klub milik Sigit Hardjodjudanto ini bubar.
Arseto bukan tim asli Solo. Skuad ini boyongan dari Jakarta pada 1983. Kebetulan sang owner memiliki ikatan historis dengan Solo. Sigit, yang putra dari Presiden Seoeharto punya ikatan sejarah dengan kota bengawan. Meski bukan tim asli Solo, Arseto begitu mendarah daging. Ini tak lepas dari kebijakan manajemen. Kala itu, Arseto masih berlaga di kompetisi Galatama.
Di masa lalu, ada dua kompetisi yang digelar PSSI. Yang pertama adalah Perserikatan. Yang kedua adalah Galatama. Keduanya kemudian dilebur pada 1990 di era Ketum PSSI dijabat Azwar Anas.
“Begitu memutuskan memindah Arseto ke Solo, Pak Sigit langsung menginstruksikan manajemen untuk merekrut pemain asli daerah. Nah, saat itu saya ikut seleksi. Seleksinya di lapangan Tohudan,” ujar Sukisno, mantan pemain Arseto.
Kisno, begitu saya memanggilnya, satu-satunya pemain yang lolos seleksi itu. “Saya bergabung dengan pemain lama Arseto seperti almarhum Ricky Yacob, Eduard Tjong, Puspanaden, Hartono Ruslan, Sudirman, Nasrul Kotto, Inyong Lolombulan dan lain-lain. Setelah saya banyak pemain lokal yang direkrut. Seperti mas Dadit (Sriwidadi), Enduk (Kashartadi),” tambah Kisno.
Tapi bukan faktor ini saja yang bikin Arseto dimiliki orang Solo. Para pemain yang bukan asli Solo ternyata begitu membaur dengan warga di sini. banyak yang akhirnya nikah dengan orang Solo dan memiliki tempat tinggal di Solo. Bahkan sampai kini pun, bekas punggawa Persis banyak yang menetap di Solo. Puspanden contohnya. Saya hampir setiap hari lewat di depan rumahnya. Juga Ansar Ahmad. Pemain asal Makassar tersebut kini menetap di Solo. Dia pun beberapa musim membela Persis selepas pensiun dari Arseto.
Jadi, Arseto tak hanya memindahkan home base-nya semata. Tapi benar-benar melebur menjadi satu unsur dengan Solo. “Banyak pemain yang menikah dengan orang Solo. Terus memiliki rumah di sini. Bahkan banyak juga yang akhirnya jadi warga Solo,” tambah Kisno.
Bahkannya lagi, bukan cuma pemain saja yang mblabak di Solo. Pengurusnya pun menjadi “orang” Solo. Sebut saja, almarhum Halim Perdana, manajer Arseto sekaligus tangan kanan Sigit. Hingga akhir hayatnya memilih untuk menjadi warga Solo. Lantas ada nama Chaidir Ramli. Sosok Halim memang luar biasa. Sepanjang hidupnya mungkin dihabiskan untuk mengabdi di jagat sepak bola Solo. Saat Arseto bubar pun, Halim tak meninggalkan Solo. Dia memilih meneruskan Arseto meski berganti baju amatir bersama Chaidir.
Keberadaan klub yang jersey-nya biru langit ini juga tidak memunculkan friksi dengan saudara tuanya, Persis. Beberapa mantan pemain Arseto justru memperkuat Persis. Sebut saja, Sukisno, Ansar Ahmad, Agung Setyabudi, Tri Gustoro, dan Untung Sudrajat. Tak hanya itu, Halim dan Chaidir pun menjadi pengurus Persis. Halim cukup lama menjabat ketua bidang pembinaan usia dini Persis. Bahkan Arseto amatir dimasukkan Halim menjadi klub anggota Persis.
Saat masih aktif menjadi jurnalis dulu, saya hampir pasti ketemu Halim saat ada agenda kegiatan Persis. Tak hanya pertandingan Persis, bahkan saat rapat pengurus yang membahas hal tak begitu krusial, Halim selalu hadir. Sosoknya low profile dan sangat ramah. Tidak pernah marah. Tutur katanya sangat sopan dan terukur.
Dengan siapa pun selalu sopan. Padahal, sosok Halim sangat diperhitungkan dalam sepak bola nasional. Dia tokoh besar di sepak bola Indonesia. Namun, dia rela meninggalkan kebesaran ketokohannya hanya untuk Persis, yang notabene bukan tim asalnya. Padahal, kalau saja dia mau, banyak tim papan atas yang ingin mendapat sentuhan manajemennya.
Sulit menemukan sosok Halim Halim baru di sepak bola Solo saat ini. Saya pun cukup menyesal kala tak bisa menghadiri pemakaman Halim waktu itu. Kebetulan posisi saya ada di luar kota untuk sebuah kewajiban pekerjaan kantor. Tak hanya Halim, mantan-mantan Arseto pun betah menjadi bagian Solo. Para mantan pemain ini akur dengan koleganya di Persis yang seumuran. Bahkan, banyak yang berkolaborasi. Tidak hanya untuk urusan bola tapi lebih dari itu.
Contohnya, Hartono Ruslan, mantan bek Arseto menjadi pelatih yang mengantar Persis lolos ke Divisi 1 musim 2005. Saat itu, Hartono didampingi Isnugroho, sebagai manajer tim. Insugroho sendiri merupakan bekas pemain Persis. Pasukan Hartono Ruslan pun diisi sederet mantan Arseto. Sebut saja Agung Setyabudi, Untung Sudrajat, dan Ahmad Arif.
Oke itu saat Arseto sudah bubar. Saat masih eksis pun, Persis seperti mendapat suntikan motivasi dari Arseto. Sumbangsih para mantan di masa ini cukup siginfikan. Di era Sukisno, Persis nyaris promosi ke Divisi Utama. Saat itu, Persis melaju ke semifinal Divisi I musim 1994/1995. Ini artinya Arseto masih ada di Solo. Skuad yang dilatih Hong Widodo ini hanya perlu lolos ke final untuk promosi ke Divisi Utama musim berikutnya. Sayang, Sukisno dkk. kalah dari tuan rumah Persma Manado.
Kalau ditarik menggunakan logika awam, bisa dikatakan Arseto tak membuat Persis tenggelam. Justru bangkit bahkan nyaris lolos Divisi Utama. Jika Persis lolos, tentu Solo akan punya dua tim di Divisi Utama. Persis sejajar dengan sang adik Arseto. Mungkin karena rasa cinta yang benar – benar tulus sehingga Persis pun bisa terdongkrak prestasinya.
Nah, untuk mencapai level ini tentu bukan perkara mudah. Tapi bisa disimpulkan kepindahan Arseto ke Solo bukan sekadar mampir ngombe. Tapi memang benar-benar ingin menetap. Bayangkan saja sejak 1984 sampai 1998 Arseto setia bersama Solo. Kalau bahasa lebay-nya bahkan sampai akhir hayatnya, sampai bubar tetap di Solo. Nah lho……segitunya cinta Arseto kepada Solo.Jadi, bukan isapan jempol penuh retorika jika sebuah tim ingin mencuri hati penggemar sepak bola Solo.
Tak heran, banyak pengamat dan pecinta bola di Solo tak yakin jika ada tim baru yang koar-koar akan bermarkas di Solo. Sejarah mencatat, selepas Arseto ada dua tim musafir yang singgah di Solo. Pertama Pelita Jaya dan Persijatim Jakarta Timur. Keduanya pun memproklamasikan nama baru Pelita Solo dan Persijatim Solo FC.
Satu lagi yang terbaru adalah Bhayangkara FC. Tim ini pekan lalu menyatakan berkandang di Solo. Di luar dua tim ini pernah ada Apac Inti Salatiga yang sempat bermarkas di Solo. Meski hanya untuk gelaran divisi II waktu itu. Kita tidak usah ngomong Bhayangkara dulu. Masih jauh panggang dari api untuk menilai bahkan menerka-nerka maksud kedatangan tim ini. (bersambung) Editor : Perdana Bayu Saputra