Usia bukan halangan untuk terus berkarya. Semangat ini menjadi pemacu Reny Susanto menekuni dunia desainer. Perempuan 47 tahun ini kini mantap terjun di dunia fesyen berawal dari otodidak.
SILVESTER K. – MANNISA ELFIRA, Radar Solo
Peraga busana asyik berlenggak-lenggok memamerkan kreasi Reny Susanto di depan rombongan Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziah di BLK Surakarta. Balutan kain tenun ternate tampak selaras dipadukan dengan dengan berbagai aksesoris lainnya.
Kain tradisional yang biasa digunakan oleh orang tua atau saat kegiatan adat itu tampak fashionable dikenakan para model yang notabene masih usia belia dalam peragaan busana itu.
"Genrenya mungkin tradisional modern. Etnis modern ya tepatnya,” kata perempuan yang memiliki nama lengkap Margaretha Reny Tri Wuryanti itu.
Reny mengaku peragaan busana di BLK pekan lalu itu merupakan peragaan busana keempat bagi dia setelah berani menyatakan diri sebagai seorang desainer dalam setahun terakhir ini. Ibu tiga anak ini pun merasa bangga karena busana koleksinya bisa tampil dan disaksikan pejabat tinggi negara kala itu. Dia mengaku tidak malu muncul sebagai pendatang baru di dunia fesyen sekalipun usia sudah berkepala empat dan tak lagi muda.
"Peragaan pertama itu di Semarang September 2020. Saya sempat merasa minder melihat koleksi banyak desainer lain bagus-bagus. Apalagi sudah ada yang ikut event hingga luar negeri. Saya bersyukur karya saya bisa diterima dengan baik,” papar dia.
Sejak itu dia mulai mengikuti berbagai event peragaan busana di berbagai lokasi berbeda. Termasuk saat kunjungan Menaker ke Kota Solo pada 10 Maret lalu. Dia merasa bersyukur masih mendapat kesempatan menekuni dunia fesyen meski di usia tidak lagi muda. Ini memang sudah menjadi mimpinya sejak lama saat anak bungsunya mulai aktif belajar modeling.
"Hanya otodidak. Awalnya itu suka menggambar busana. Kemudian anak saya paling kecil mulai ikut modeling iseng saya buatkan kostum sendiri. Padahal saya tidak punya basik di jahit atau desainer. Belajar mandiri. Kebetulan hasilnya cukup bagus dan mulai banyak yang minta saya buatkan,” jelas dia.
Desainer otodidak itu terus berporses secara mandiri hingga akhirnya memberanikan diri membeli sejumlah alat jahit dan obras untuk bisa terus berkarya di dunia fesyen. Akhirnya berbagai orderan mulai masuk, usaha konveksi rumahannya pun mulai berkembang.
"Awalnya konveksi baju bayi dengan dua pegawai. Akhirnya mulai terima orderan seragam kantor dan lainnya. Belajarnya itu ya sendiri. Jadi agar tahu pola jahitan itu saya bongkar sendiri bajunya lalu saya jahit kembali. Seperti itu seterusnya,” ujar desainer yang memiliki background pendidikan hukum itu.
Rutinitas seperti itu akhirnya mematangkan keteguhannya untuk terus berkarya di dunia fesyen. Pada awal 2020 dia disarankan temannya mengikuti pelatihan di BLK Surakarta. “Saya belajar tiga bulan dan sebulan magang di salah seorang desainer. Akhirnya sampai seperti sekarang ini,” kata warga Banyuanyar, Banjarsari itu.
Dia mengaku sempat stress dan sedikit tertekan selama proses belajar. Untuk proses gambar saja tiap hari minimal harus bisa menghasilkan 10 gambar desain baru. Belum lagi tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga harus mengurus anak dan suami cukup banyak menyita waktu. Belum lagi ada banyak teknik dasar menjahit yang perlu saya pelajari saat itu.
"Saya diajari kalau harus benar-benar profesional mulai dari gambarnya, pola jahitan, sampai hasil jadinya harus baik seluruhnya. Benar-benar harus profesional karena memang diarahkan menjadi seorang desainer profesional di kelas itu. Ini yang paling menguras pikiran. Baju sudah jadi diberedel lagi karena ada bagian yang salah. Tapi saya bersyukur bisa latihan sampai selesai,” ucap Reny.
Istri Daniel Budi Santoso ini makin yakin terus menjalani profesi barunya menjadi seorang desainer seperti saat ini. Reny pun sudah memilih genre yang akan dia tekuni secara konisten agar memilki kekhasan tersendiri dan berbeda dari desainer lainnya. Etnis modern selalu menjadi konsep dasarnya, dia pun memiliki mimpi bisa mengangkat kain-kain tradisional di berbagai daerah untuk bisa dikreasikan dalam berbagai busana yang ready to wear agar bisa dikenakan dalam berbagai kesempatan.
"Kita lihat batik saja, dulu batik hanya dipakai sebagai bawahan saja, tapi saat ini batik bisa dikreasikan untuk berbagai model busana. Dan bisa diterima oleh semua pihak. Nah saya ingin juga kain-kain dari berbagai daerah itu juga bisa seperti itu,” harap dia.(*/.bun)
(rs/ves/per/JPR) Editor : Perdana Bayu Saputra