Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Sosok 3 Dosen UNS yang Meninggal karena Covid di Mata Keluarga-Kolega

Syahaamah Fikria • Sabtu, 19 Juni 2021 | 20:41 WIB
Nur Hafidha (istri Didiek Sri Wiyono) menceritakan tentang sosok sang suami dalam acara Doa Bersama untuk UNS secara virtual.
Nur Hafidha (istri Didiek Sri Wiyono) menceritakan tentang sosok sang suami dalam acara Doa Bersama untuk UNS secara virtual.
Suasana duka masih menyelimuti Universitas Sebelas Maret (UNS). Setelah tiga dosen di kampus setempat meninggal dunia di waktu yang hampir bersamaan akibat terpapar Covid-19. Civitas akademika UNS merasa kehilangan. Terutama keluarga dan kolega ketiga dosen tersebut. Seperti apa sosok ketiganya?

SEPTINA FADIA PUTRI, Radar Solo

NUR Hafidha Hikmayani masih merasakan duka atas berpulangnya sang suami, Didiek Sri Wiyono. Dia tidak menyangka sang suami yang juga dosen fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam UNS ini akan pergi secepat itu.

Nur Hafidha berkisah dia dan suami bergabung di UNS sejak 2005. Nur Hafidha sebagai dosen di fakultas kedokteran. Pengabdiannya terhadap UNS sudah hampir 16 tahun. Namun, separonya dihabiskan untuk tugas belajar di Inggris. Sepulangnya dari Inggris, baru sedikit sekali waktu yang digunakan untuk mengabdi kembali di UNS.

“Saya kurang tahu bagaimana interaksi suami saya dengan rekan-rekan yang lain. Bagi yang pernah, mungkin sudah hafal dengan karakter suami saya yang unik. Memiliki pemikiran yang sedikit berbeda dengan lainnya. Vokal dan kritis. Kalau teman-teman dekatnya bilang suami saya bisa diajak ngobrol berbagai hal dari A sampai Z,” ungkapnya dalam acara doa bersama untuk UNS.

Kendati dikenal serius, tapi di beberapa momen Nur Hafidha mengaku suaminya tetap sosok lelaki yang jenaka. Gemar bercanda. Nur Hafidha meminta maaf kepada seluruh rekan-rekan sejawat suaminya apabila dalam berinteraksi baik saat bercanda pernah menyakiti hati.

“Saya yakin suami saya tidak ada niatan ofensif. Maka, kami mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada yang kurang berkenan di hati dari sikap suami saya. Memang karakter suami saya seperti itu. Pada dasarnya dia jiwa sosialnya sangat tinggi,” sambungnya.



Nur Hafidha mengaku, banyak belajar dari sosok suaminya. Dia menilai cara pendekatan suaminya sebagai dosen ke para mahasiswa sangat menyenangkan. Bahkan, banyak alumnus yang sampai sekarang masih sering berkunjung ke rumahnya.

"Hal itu yang ingin dia tiru. Tapi saya tidak bisa. Itu yang sulit, tidak semua dosen bisa seperti itu. Hubungan dengan mahasiswa dan alumninya itu kuat. Dia punya cara untuk bisa menarik perhatian mahasiswanya,” imbuhnya.

Padahal sebenarnya Nur Hafidha mengatakan, passion suaminya bukan sebagai akademisi. Suaminya menjadi seorang pengajar hanya ingin menemani Nur Hafidha yang juga sebagai dosen. Bahkan, sekolah di luar negeri juga karena ingin membersamai sang istri.

“Pokoknya mbarengi terus. Tapi dia yang lebih kreatif dan agresif dalam hal networking dengan fakultas lain, bagian lain, bahkan universitas lain," ujarnya.

Kepada Rektor UNS Jamal Wiwoho, Nur Hafidha meminta maaf sepulangnya dari tugas belajar di luar negeri dia dan sang suami belum bisa memberikan banyak kontribusi untuk UNS.



Photo
Photo
Anak menantu Muhammad Arif Taufiqurrahman, Ary Pardiyanto menceritakan perjuangan ayah mertua saat sakit.

Selanjutnya, anak menantu Muhammad Arif Taufiqurrahman, Ary Pardiyanto ikut mengisahkan sosok dosen fakultas kedokteran yang juga meninggal karena Covid. Kendati dia adalah anak menantu, namun kedekatan Ary dengan mendiang sang mertua melebihi anak kandung.

“Selama empat tahun ini papa menemani saya merintis karir. Juga beberapa hari ini yang wira-wiri mendampingi papa itu saya dan istri," ucapnya.

Ary bercerita sejak 9 Juni, sang ayah masuk rumah sakit. Kemudian sang bunda, istri Muhammad Arif Taufiqurrahman, sekaligus adik dan kakaknya melakukan karantina mandiri di rumah. Ary mengatakan, keluarga besar ayah dan ibundanya berada di Jawa Timur. Sehingga, dia dan sang istri yang selalu mendampingi mertuanya itu selama berjuang dan berusaha sembuh dari sakitnya.

“Waktu papa di rumah sakit, hanya saya yang bisa masuk. Saya bisa mendampingi beliau. Jadi saya benar-benar tahu bagaimana beliau berjuang melawan penyakit ini (Covid). Bagaimana beliau merasakan sakitnya. Tapi masih bisa saya ajak bercanda saat papa masih bisa ditelepon melalui handphone. Sebelum melewati masa kritisnya masih bisa video call dengan cucu-cucunya. Sempat juga menanyakan ke saya, kapan papa pulang?" kenangnya.



Ary hanya bisa menjawab agar sang ayah bersabar. Dan terus memberikan optimisme bahwa dia sedang mencarikan obat terbaik. Ditambah banyak kolega, alumni, dan rekan sejawat yang menghubungi Ary untuk ikut membantu semaksimal mungkin agar sang ayah bisa segera melewati masa kritis.

"Banyak yang chat WhatsApp saya. Bilang kalau berkat papa sekarang mereka menjadi orang yang berguna bagi sesama. Saya juga mau berterima kasih kepada papa. Mungkin kalau tidak ada papa, saya tidak akan menjadi seperti sekarang," sambungnya.

Ary berkisah dia sempat hampir putus asa masuk ke fakultas kedokteran. Baru di tahun ketiga dia mencoba lagi dan akhirnya diterima. Hingga saat ini dia sudah menjadi seorang dokter. Sekarang Ary dan sang mertua sudah mengampu dua klinik, di Jaten dan Sukoharjo.

"Berkat ilmu-ilmu beliau lah yang bermanfaat bagi saya. Sehingga saya juga bisa bermanfaat bagi orang banyak," imbuhnya.

Ary memohonkan maaf kepada seluruh civitas akademika yang pernah berinteraksi dengan mertuanya. Ary pun bersaksi bahwa mendiang mertuanya itu adalah orang yang jujur, memiliki idealis yang tinggi, dan tulus. Sosoknya lugu, polos, dan menerima apa adanya.

"Itulah yang menjadi pelajaran bagi saya. Tidak mau serakah. Menerima apa yang diberikan oleh Allah," ujarnya.



Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UNS, Sholihin As'ad juga berkisah tentang sosok Medianto. Di matanya, mendiang Medianto adalah sosok pekerja keras dan berdedikasi tinggi. Sholihin mengaku terpukul mendengar kabar kepergian mendiang Medianto.

"Saya dan teman-teman kaget. Tidak terpikirkan sama sekali. Bahkan, saya tidak tahu kalau beliau Covid. Saya dapat kabar beliau Rabu (16/6) mau cuci darah di Rumah Sakit Dr Oen. Saat cuci darah, kemudian drop," kenangnya.

Sholihin mengatakan, sahabatnya itu sudah sebulan terakhir menjalani cuci darah. Menurut dia, kemungkinan kondisi itu yang memperburuk keadaan Medianto saat terpapar Covid-19.

“Selama pandemi ini, kami hanya bertemu lewat Zoom saja. Dengar kabar dari teman-teman dua minggu lalu beliau sempat mampir ke kampus. Tapi saya tidak bertemu. Hanya dapat cerita dari teman-teman. Makanya kabar duka ini sangat mengagetkan. Saya kehilangan sahabat, salah satu dosen yang tekun dan jujur," ujarnya. (*/bun/ria) 

 

  Editor : Syahaamah Fikria
#dosen uns meninggal karena covid-19 #doa bersama untuk uns #sosok dosen uns