Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Terkurung Pandemi, Sara Neyrhiza Lahirkan Komunitas Read Aloud di Solo

Damianus Bram • Jumat, 2 Juli 2021 | 17:09 WIB
SALING MENYEMANGATI: Sara Neyrhiza ajari anak membaca buku dengan metode read aloud. (ISTIMEWA)
SALING MENYEMANGATI: Sara Neyrhiza ajari anak membaca buku dengan metode read aloud. (ISTIMEWA)
DAMPAK Covid-19, Sara Neyrhiza tidak bisa tatap muka dalam kegiatan literasi bahasa. Dari sini muncul ide membentuk komunitas Read Aloud.

MANNISA ELFIRASolo, Radar Solo

Berawal dari seleksi bagi pegiat literasi di Kota Solo, Sara Neyrhiza terpilih dan dinobatkan sebagai Bunda Baca Solo 2019. Namun, saat masa tugas belum berakhir, pandemi melanda Indonesia, termasuk Kota Solo. Ini membuat Sara tidak bisa melakukan sosialisasi secara langsung soal literasi bahasa kepada masyarakat.

Mengatasi hal ini, Sara mulai menggeluti read aloud (kegiatan membaca dengan keras) dan story telling (kegiatan menyampaikan cerita)Selain jadi Bunda Baca, dia juga sebagai blogger dan podcaster. Kemudian mulailah dia menyebarkan tips-tips bagaimana saat di rumah saja ibu-ibu bisa mengajak anaknya untuk membaca buku.

Nah, ternyata pergerakan membaca nyaring ini sudah lama dilakukan. Salah satu penggeraknya di Indonesia itu Roosie Setiawan, penulis buku Membacakan Nyaring. Selama pandemi di sering mengadakan training daring,” ungkapnyaSenin (28/6).

Dalam training of trainer itu, Sara mengungkapkan bahwa Roosie menyemangati peserta dari setiap kota agar bisa menggerakkan ibu-ibu di kotanya untuk cinta membaca buku. Dia lalu tergerak membuatnya di Solo dan sekitarnya. Apalagi dia juga sebagai Bunda Baca Solo 2019.

Kemudian dia mengajak dua rekannya untuk menginisiasi komunitas Read Aloud. Yakni guru SMKN 7 Surakarta Asri Pujihastuti dan dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Titi Setiyoningsih.

“Dari kami bertiga, awalnya mencoba sebulan posting di sosial media dan Instagram live. Ini berkaitan dengan keberadaan komunitas kami. Lalu pada Maret lalu kami baru open member. Siapa sih yang suka baca buku? Kemudian siapa sih yang suka bermain sama anaknya? Meskipun belum punya anak itu tidak masalah. Yang penting cinta sama buku. Akhirnya di grup WhatsApp kami sudah ada 30 member,” imbuh Sara.

Komunitas yang baru berdiri tahun ini, pastinya punya tantangan. Ketika gabung komunitas itu pasti setiap anggota punya motivasi masing-masing. Kemudian, setiap anggota pasti juga ada kesibukan masing-masing. Sehingga tidak bisa selalu ikut kegiatan komunitas. Tapi hal itu memang tidak bisa dipaksakan. Sebagai inisiator, Sara akan tetap menjalankan program ini.

“Masing-masing member secara basic sudah dekat dengan dunia literasi bahasa. Karena rata-rata anggota komunitas ini berprofesi sebagai guru, dosen, editorblogger dan editor di penerbit. Saya memberikan contoh ke member lain. Seperti merekam dalam bentuk video cara dan teknik aktivitas read aloud,” ujarnya.

Di sisi lain, Komunitas Read Aloud ini miliki empat program dalam satu bulan. Di pekan pertama biasanya brain storming terkait read aloud. “Jadi apa sih dan ngapain sih dari read aloud yang harus dibahas. Misalnya buku apa yang cocok dibaca saat read aloud? Kapan waktu terbaik untuk read aloud? Lalu, apa sih kesalahan saat membaca buku? Serta apa sih tema yang disukai anak?” ujarnya.

Kemudian pekan kedua, me-review dan merekomendasikan buku. Lalu pekan ketiga ada literator. Ini kegiatan ngobrol lewat Instagram live sesama anggota. Jadi masing-masing punya antusiasmenya sendiri. Kemudian pekan keempat terkait tips and trick tentang dunia literasi bahasa. Seperti tips menulis, merawat buku, dan sebagainya.

“Kami juga pernah membuat webinar gratis, masyarakat luas bisa bergabung. Ini terkait melatih percaya diri dengan read aloud. Antusias masyarakat sangat lah tinggi. Ada 150 peserta yang ikut,” ungkapnya.

Untuk inovasi kedepan, Sara ingin kolaborasi bersama penerbit. Karena konsentrasi komunitas ini sebenarnya bukan hanya read aloud tapi literasi bahasa secara luas. “Dalam artian, kalau kita terbiasa membaca, biasanya juga pengen berkarya,” tambahnya. (*/bun/fer)

 

  Editor : Damianus Bram
#Komunitas Read Aloud #Sara Neyrhiza #Komunitas Literasi