Sidik Prasetyo, Jawa Pos
Final tunggal putri Olimpiade Tokyo 2020 mempertemukan unggulan teratas Chen Yu Fei dari Tiongkok dengan Tai Tzu Ying dari Taiwan sebagai unggulan kedua. Pertandingan tersebut menarik bukan hanya karena memperebutkan medali emas. Ada sosok yang wajahnya Indonesia banget di lapangan.
"Saya asli Jogjakarta. Sampai sekarang saya masih tinggal di Gancahan VII, Sidomulyo, Godean, Sleman,'' kata Wahyana, wasit yang memimpin partai final tersebut.
Bahkan, lelaki kelahiran 10 September 1967 tersebut juga menjadi guru olahraga di wilayah Jogkarta. Tepatnya di Kabupaten Gunung Kidul.
''Saya mengajar pelajaran olahraga dan juga wakil kepala sekolah bidang kurikulum di SMP Negeri 4 Patuk, Gunungkidul,'' lanjut Wahyana yang alumnus IKIP Jogja, yang kini berubah nama UNY, pada 1989 tersebut.
Diakuinya dulu bulu tangkis sebenarnya bukan cabang olahraga yang ditekuni sejak awal. Cabang bola voli menjadi pilihannya.
"Saya bergabung dengan klub Yuso dan wasit bola voli tingkat provinsi DIY. Tapi karena cidera engkel cukup parah saat itu maka saya memutuskan untuk berhenti,'' lanjut Wahyana.
Kemudian, papar dia, setelah sembuh, dia diajak main bulu tangkis. Setelah satu tahun di bulu tangkis, Wahyana ditawari jadi hakim garis tingkat kabupaten selama dua tahun 1998-2000.
''Kemudian ikut ujian wasit tingkat kabupaten dan lulus terbaik 2000. Setelah itu, dua tahun kemudian dikirim ke tingkat provinsi juga lulus terbaik,'' lanjut Wahyana.
Setelah itu, karirnya di perwasitan go international. 2006 lulus ujian wasit tingkat Asia Accreditation di Kuala Lumpur, Malaysia.
''Pada 2008 lulus ujian wasit tingkat Asia Certification di Johor Bahru, Malaysia dan 2012 lulus ujian wasit tingkat BWF Accreditation di Chiba, Jepang. Baru pada 2016 lulus ujian wasit BWF Certification di Wuhan, Tiongkok, ungkapnya.
Dengan sertifikat itu, Wahyana memimpin semua ajang bergengsi mulai SEA Games, Asian Games, Piala Sudirman, dan Kejuaraan Dunia. Meski sudah punya pengalaman banyak, Wahyana sempat deg-degan saat dipercaya memimpin partai final tunggal putri Olimpiade Tokyo.
"Pada awalnya sebelum masuk lapangan ada juga rasa deg-degan. Tapi karena sudah sering mimpin partai final di beberapa kejuaraan besar seperti Asian Games, Kejuaraan Dunia, Sudirman Cup, Thomas Uber Cup, World Tour Finals, saya dapat mengendalikan rasa itu. Setelah masuk lapangan ya enjoy saja,'' ujar dia.
Diakuinya, ada kebanggaan tersendiri menjadi wasit final. Apalagi, dia membawa nama bangsa dan negara.
''Akhir tahun 2022, saya pensiun sebagai wasit. Sebuah kepercayaan yang sangat besar BWF kepada saya,'' pungkas lelaki yang juga menjadi pengurus PP PBSI dan BAC itu. (*) Editor : Damianus Bram