Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Seniman Peni Candra Rini, Melanglang Buana di Lima Benua

Damianus Bram • Selasa, 17 Agustus 2021 | 16:31 WIB
GEMULAI: Peni Candra Rini tampil dengan mengenakan kebaya sembari menggunakan properti gamelan Jawa. (DOK. PRIBADI)
GEMULAI: Peni Candra Rini tampil dengan mengenakan kebaya sembari menggunakan properti gamelan Jawa. (DOK. PRIBADI)
MENERUSKAN perjuangan para pahlawan, tak harus terjun di medan peperangan. Peni Candra Rini contohnya. Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini gigih harumkan seni dan budaya asli Indonesia di mata dunia. Lewat festival di lima benua.

Peni tergolong seniman serbabisa. Selain komposer, penulis lagu, dan penyair, perempuan kelahiran 22 Agustus 1983 ini juga dianugrahi suara merdu. Tak heran dia juga geluti dunia tarik suara. Sebagai sinden dan penyanyi kontemporer.

“Bisa dibilang saya berasal dari keluarga seniman. Ayah, kakek, dan kakak saya seorang dalang. Mbakyu (kakak perempuan) saya seorang sinden,” ungkap Peni kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (16/8).

Owner, founder, dan executive director di Yayasan Jagad Sentana Art (JSA) ini tercatat pernah tampil di berbagai belahan dunia. Di ranah Eropa, dia pernah ikut festival internasional di Italia, Belgia, Jerman, Inggris, dan Belanda. Termasuk di Amerika Serikat, Kanada, Australia, hingga Zimbabwe. Sementara di Asia, Peni pernah manggung di Korea Utara, Korea Selatan, Jepang, Thailand, dan Malaysia. Juga sederet festival internasional di Indonesia.

“Bisa (tampil) di luar negeri itu dambaan. Karena bisa memberikan pengaruh lebih luas. Syaratnya, selain tradisi yang sudah digenggam, harus ada kemampuan berkomunikasi. Punya kemampuan diplomasi kebudayaan di depan mereka. Tidak gampang untuk bisa menjelaskan, mengajar, mendidik, serta berkolaborasi dengan orang luar. Ada banyak hal yang harus dilalui untuk bisa go internasional,” bebernya.

Tantangan tampil di negeri orang, Peni harus selalu update dan melihat perkembangan zaman. Namun, seni dan budaya nusantara yang ingin diangkat harus tetap kukuh. Agar bisa jadi daya tawar di mata dunia.

“Ini lho kebudayaan saya. Saya bisa mengemasnya dalam bentuk kekinian. Tapi, saya juga tidak meninggalkan tradisi dan budaya saya. Dengan ini, budaya kita akan semakin cemerlang, bersinar, dan dihormati. Tidak hanya di dalam, tapi juga di luar. Saya kira, gaungnya bisa melebar,” katanya.

Peni beberkan salah satu strategi, agar seni dan budaya Indonesia tetap dihormati, dipelajari, dan menggema dari generasi ke generasi. “Jangan seperti katak dalam tempurung. Merasa gagah di ruangan sendiri. Tidak ada gunanya. Harus speak up dan melihat ke depan,” ujarnya.

Istri Idud Sentana Art yang juga owner Yayasan Jagad Sentana Art ini menambahkan, Indonesia merupakan bagian kecil dari dunia. Lalu, bagaimana cara agar seni dan budaya nusantara bersinar?

“Perlu strategi kebudayaan. Supaya bisa dilihat dan dipelajari. Kemudian, generasi kita ikut mencintai. Itu yang terpenting. Ini salah satu yang saya jadian Thor (palu godam) dalam kongres karawitan Indonesia, bulan ini,” tuturnya.

Saat ini, Peni sedang menyelesaikan study doctoral Penciptaan Seni Pascasarjana ISI Surakarta. Meski tidak ada pertunjukan offline di masa pandemi Covid-19, Peni masih tetap berkarya. Menggandeng seniman dari seluruh penjuru dunia lewat dunia digital.

“Saya masih ikut festival internasional secara online. Terbaru, saya ikut Bang On A Can Marathon of Songs, 6 Juni lalu. Nanti saya juga akan tampil di Solo International Performing Arts (SIPA), September mendatang. Kan itu pertunjukannya online dan offline. Saya nanti pentas offline dan juga disiarkan secara daring,” ungkapnya. (nis/fer) Editor : Damianus Bram
#Seniman Peni Candra Rini #Peni Candra Rini #Yayasan Jagad Sentana Art #dosen isi surakarta #Seniman Solo