IWAN KAWUL, Sukoharjo, Radar Solo
Lokasi mata air atau dalam bahasa Jawa disebut sendang peninggalan PB X ini hanya selemparan batu dari Kantor Desa Polokarto. Ada tiga mata air di bawah rimbunnya beringin di sebuah bantaran kali di desa itu.
“Dahulu, Sinuwun PB X pernah ke Kecamatan Polokarto. Kantor Kecamatan Polokarto dulu tempatnya di Balai Desa Polokarto saat ini. Sebelum akhirnya pindah ke dekat Pasar Glondongan, sekitar 1966," kata Sidik Noto Prayitno yang sehari-hari merawat mata air itu.
Saat berkunjung ke Kecamatan Polokarto, PB X mengambil air di sendang lalu meminumnya. Kemudian, setelah pulang ke Keraton Surakarta, PB X mengutus abdi dalem untuk mengambil lagi air di sendang itu.
"Abdi dalem diutus untuk ambil air sendang, menggunakan blek (kaleng tempat air, Red). Dulu belum ada plastik. Kemudian air sendang diserahkan kepada Sinuhun PB X," ujar pria berusia 86 tahun ini.
Setelah diserahkan, abdi dalem itu diperintahkan lagi untuk kembali ke sendang. Perintahnya yakni untuk membangun sendang dengan bentuk segi sepuluh.
“Masyarakat dulu menggunakan sendang ini untuk kebutuhan sehari-hari. Saat itu, masyarakat menyebutnya sendang lanang dan sendang wedok. Setelah dibangun, diberi nama oleh Sinuwun PB X dengan nama Sendang Wicaksono," katanya.
Setelah selesai dibangun, Sinuwun memerintahkan lagi mengirim penunggu sendang. Namun, yang dikirim sinuwun itu adalah abdi dalem pungkuran, sosok yang tidak kasat mata.
"Abdi dalem yang tidak kasat mata itu diboyong ke Sendang Wicaksono ini. Namanya Nyi Roro Denok. Dulu, dusun ini namanya Punjen. Setelah Nyi Roro Denok di boyong ke sini, untuk menunggu di sini, nama dusun diganti Denokan," ujarnya menjelaskan asal-usul nama dusun setempat.
Sidik juga mengungkapkan, dulu saat akan dibangun dia juga diberi pusaka berkukurna kecil, tapi tidak kasat mata. Dia dipercaya untuk merawat pusaka itu. Pada saatnya nanti, jika diminta, pusaka itu akan dikembalikan.
"Kalau nanti diminta ya dikembalikan, saya kan hanya dipercaya untuk merawat," kisahnya.
Menurut Sidik, setiap malam masih banyak orang yang tirakat di Sendang Wicaksono. Bahkan, awal tahun ini ada anggota DPR RI yang merehabilitasi sendang ini.
"Saat akan merehab saya juga diajak rembukan, bagaimana baiknya. Ya saya terima kasih, tapi saya minta, bentuknya tidak diubah, tetap segi sepuluh, sesuai dawuh panjenengan dalem ingkang Sinuhun PB X," katanya.
Sendang pun direhab, bangunan semula terlihat angker, kuno dan berlumut, bahkan, di sendang wedok, tertutup sedimentasi sejak 1950, saat ini telah berubah total. Kondisi sendang semakin asri, bersih, terawat dan indah. Menjadi taman dan tempat singgah yang rindang di siang hari.
Batas sendang dan sungai juga di talut agar sendang tidak lagi tertutup sedimen. Karon (tempat air dari tanah liat, Red) masih dipertahankan. Prasasti bertuliskan PB X tanggal lahir dan usia ketika meninggal juga masih dipertahankan. (*/bun) Editor : Damianus Bram