SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo
Ide pembuatan tempat sampah pintar itu telah dimulai sejak 2018. Kala itu Heru Sasongko bersama Estiono, Dyan Ruscahyanto, Suprapto, dan Heru Supriyanto (keempatnya difabel daksa) melahirkan prototipe sampah pintar tersebut.
Perlu dua tahun mereka mematangkan konsep tempat sampah pintar itu hingga akhirnya lahir sebuah benda yang dinamakan tempat sampah pintar Difa Elektra.
"Kala itu saya hanya melontarkan ide yang bisa digarap kawan-kawan ini. Saya tawarkan bagaimana kalau tempat sampah. Kemudian ada kawan yang bisa kemampuan robotik menyatakan kalau produknya nanti bisa diberi sensor untuk buka tutup secara otomatis," ujar Heru Sasongko, koordinator proyek sampah pintar di Solo Techno Park, Selasa (5/10).
Dua tahun prototipe itu dikerjakan secara swadaya. Berbagai komponen yang diperlukan dikumpulkan secara patungan. Kemudian pengerjaannya dibagi ke beberapa anggota tim yang mahir di masing-masing bidang seperti teknik pengelasan, elektro, dan sejenisnya.
"Dari prototipe itu kami perbaiki dan terus matangkan akhirnya pembuatannya selesai pada 2020 lalu,” ujarnya.
Berawal dari karya ini Heru dan rekan-rekannya menangkan beberapa kompetisi. Terbaru masuk 113 inovasi terbaik dalam Produk Inovasi Indonesia, Kementerian Pendidikan Budaya Riset dan Teknologi.
“Saat ini sudah ada sampah pintar yang langsung siap pakai, beberapa di antaranya juga sudah dibeli oleh UNS," terang Heru.
Salah seorang kreator, Estiono menambahkan, tempat sampah pintar ini diharapkan mampu memberi kemudahan bagi banyak orang. Bukan hanya untuk penyandang disabilitas, namun juga untuk masyarakat luas.
"Fitur buka tutup otomatisnya mampu memberi kemudahan dalam membuang sampah karena tak minim sentuhan. Bagi penyandang disabilitas dengan kursi roda bisa memberi kemudahan. Pun untuk penyandang tuna netra karena ada fitur suara saat buka tutup dijalankan," terang dia.
Sistem buka tutup itu bekerja secara otomatis mengunakan sensor gerak. Saat seseorang hendak membuang sampah, jendela sampah itu akan secara otomatis terbuka dalam jarak 50 centimeter dari tempat sampah tersebut.
Tempat sampah pintar ini juga diklaim aman bagi anak kecil karena dipastikan tidak akan melakukan kesalahan sehingga bisa membahayakan tangan si pembuang sampah.
"Sensornya secara otomatis bisa membaca gerakan. Kalau ada tangan yang masuk dia tidak akan menutup, kalau pun mau menutup pasti akan langsung terbuka lagi karena sensor itu,” ujarnya.
Nah, kalau tempat sampahnya penuh, juga tidak akan terbuka sebelum sampah di dalamnya dibersihkan oleh petugas. Kalau sampahnya penuh secara otomatis akan langsung mengirimkan teks singkat kepada petugas sampah yang bertugas.
Suprapto, kreator lainnya mengaku sempat ada diskusi alot sebelum diputuskan seperti saat ini. Namun semua itu bisa dilalui dengan baik guna menghasilkan produk yang bermanfaat bagi banyak orang.
"Ada kendala semacam itu, tapi semua bisa dilalui dengan baik sampai akhirnya kami bisa menyelesaikan tempat sampah pintar ini,” ujarnya.
Meski sudah final, masih banyak kemungkinan kalau produk ini ke depan bisa dikembangkan, sesuai permintaan pasar maupun untuk menekan biaya produksi sehingga nilai jualnya lebih ramah bagi masyarakat.
Mereka berharap anggapan miring terhadap penyandang disabilitas bisa hilang dan penyandang disabilitas tidak lagi dipandang sebelah mata lagi di masyarakat. Mereka berencana memberikan pelatihan sejenis di berbagai wilayah lain agar para penyandang difabel bisa mandiri dan menjalankan bisnis sendiri.
"Kami bangga bisa berkarya. Dengan prudak ini kami bisa menunjukkan kemampuan kami yang tidak kalah dengan orang normal. Makanya kami akan kembangkan produk ini bersama-sama. Kami tularkan ilmu dalam pembuatan tempat sampah pintar ini," sambung kreator lainnya, Dyan Ruscahyanto.
Pelaksana Tugas Kepala Divisi Inkubasi Bisnis dan Teknologi Solo Techno Park (STP) Abednego Danu Setiawan mengatakan, STP memberikan pendampingan agar karya ini mampu menjadi start up berbasis teknologi agar mandiri ke depan.
“Kami bantu pematangan produkasi hingga proses pemasaran produk ini. Yang pasti karya dari kawan disabilitas ini tidak kalah dengan inovasi-inovasi di luar sana," tutur Danu. (*/bun) Editor : Damianus Bram