Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Mezbah Batu Dam Colo, Saksi Bisu Peradaban Bengawan Solo Hulu

Damianus Bram • Senin, 18 Oktober 2021 | 16:00 WIB
DIJAGA: Raymond Valiant menunjukan mezbah batu di Kantor Operasi dan Pemeliharaan Bendung Colo di Desa Pengkol, Kecamatan Nguter.  (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
DIJAGA: Raymond Valiant menunjukan mezbah batu di Kantor Operasi dan Pemeliharaan Bendung Colo di Desa Pengkol, Kecamatan Nguter. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Peradaban masa lalu Bengawan Solo menarik untuk ditelusuri. Salah satu peninggalan zaman neolitikum yang bisa ditemui yakni sebuah mezbah batu raksasa. Berikut penelusurannya,

IWAN KAWUL, Radar Solo, Sukoharjo

Mezbah atau batu tempat penyembelihan hewan persembahan itu kini berada di halaman Kantor Operasi dan Pemeliharaan Bendung Colo di Desa Pengkol, Kecamatan Nguter. Tidak banyak yang tahu jika di kantor ini tergeletak sebuah peninggalan nenek moyang. Kondisinya masih bagus dan terawat, karena berada di lingkungan kantor yang tidak sembarangan warga bisa mengaksesnya.

”Mezbah batu ini ditemukan di tepi Sungai Bengawan Solo pada saat dilakukan konstruksi antara tahun 1981-1983,” kata  Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Raymond Valiant, kemarin (17/10).

Batu ini berbentuk lingkaran, namun lebih tepat berbentuk lonjong karena tidak melingkar sempurna. Ada dua cerukan di atasnya yang dipisahkan oleh bibir batu. Kurang lebih memiliki dimensi 2 meter x 2,5 meter dengan bagian bawah 1 meter lebih.

”Lokasi penemuan ada di sebelah hilir dari posisi bendung Colo saat ini. Kemungkinan besar merupakan sarana persembahyangan di masa neolitik atau lebih,” ujar Raymond.

Raymond mengisahkan, dulu, seusai proses konstruksi selesai, mezbah batu ini diangkat dan ditempatkan di posisi saat ini. Sekitar empat tahun silam artefak ini telah didata oleh pemerintah dan dinyatakan sebagai benda cagar budaya. Ada pelakat yang dipasang di dekatnya untuk informasi keberadaan benda artefak tersebut.

”Jasa Tirta I tentunya akan ikut menjaga benda cagar budaya yang ada dalam area dari infrastruktur kami. Kalau perawatan, kami masih harus menanti kebijakan dari balai setempat yang menangani kepurbakalaan,” katanya.

Raymond berpendapat sebagai orang awam, benda ini dulunya digunakan lebih ke arah penghormatan pada kekuatan alam. Bayangkan bahwa 1.000 atau 2.000 tahun silam belum ada waduk Wonogiri, maka pastilah keberadaan sang Bengawan di lokasi tadi menggentarkan jiwa.

”Ya. Ini menandakan nenek moyang kita sudah melakukan negosiasi dengan kekuatan alam. Pendekatan animistic,” ungkapnya.

Raymond menganalogikan, negosiasi ini melalui pemberian persembahan. Bayangkan saja, Bengawan Solo di bagian hulu itu punya debit rancangan hampir 4.000 meter kubik per detik berdasarkan perhitungan modern.

”Nah, kalau debit itu terjadi di masa silam, alangkah takjub dan gentarnya nenek moyang kita. Mereka tak punya bendung atau bendungan, mereka punya sesaji sebagai alat bernegosiasi dengan kekuatan alam,” tandasnya.  (*/adi) Editor : Damianus Bram
#Mezbah di Kawasan Dam Colo #Peradaban Bengawan Solo Hulu #Mezbah Batu Dam Colo