Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Samsu Darsono Sukarela Jaga Tuk demi Warga di Tiga Desa

Damianus Bram • Rabu, 10 November 2021 | 13:15 WIB
PEJUANG LINGKUNGAN: Samsu Darsono rela berjalan jauh menaik bukit demi menjaga sumber mata air demi warga tiga desa. (TRI WAHYU CAHYONO/RADAR SOLO)
PEJUANG LINGKUNGAN: Samsu Darsono rela berjalan jauh menaik bukit demi menjaga sumber mata air demi warga tiga desa. (TRI WAHYU CAHYONO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Usia Samsu Darsono dan Mbah Bingah sudah lebih dari separo abad. Namun, semangat mereka menjaga kelestarian alam di lereng Gunung Merbabu masih berapi-api.

Kali pertama menginjakkan kaki di Dusun Genting, Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, Samsu dan ayahnya mendapati kawasan setempat masih berupa hutan lebat.

Kondisi itu pula yang menyebabkan banyak warga Dusun Pencar, Desa Klakah, Kecamatan Selo yang dipindahkan ke Genting karena terdampak letusan Gunung Merapi, tidak betah.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, ayah Samsu menyusuri hutan kemudian menemukan sumber mata air yang oleh warga setempat akrab disebut tuk.

Karena minim peralatan, tuk yang berada di tepi hutan kawasan Balai Taman Nasional Gunung Merbabu dialirkan ke permukiman lewat selokan. “Dahulu (air dari tuk) dilewatkan kalen (selokan). Belum dipasang pipa,” terang Samsu, Selasa (9/11).

Seiring berjalannya waktu, jumlah warga Dusun Genting bertambah. Di antaranya dari Dusun Glagah Ombo, Desa Senden, Selo sebanyak tiga kepala keluarga (KK). Mereka juga memanfaatkan air dari kalen yang dibuat ayah Samsu.

Hingga suatu hari di 1967, datang sejumlah pendaki Gunung Merbabu melintasi Dusun Genting dan melihat air dari selokan dikonsumsi warga setempat. Mereka memberikan masukan bahwa air yang dilewatkan selokan tidak baik untuk kesehatan.

Tapi untuk memasang jaringan pipa dari tuk ke permukiman, dibutuhkan biaya yang tak sedikit. Warga setempat belum mampu membiayainya.

Si pendaki yang visioner itu lalu mengusulkan agar warga menarik tarif sukarela kepada pendaki Gunung Merbabu lainnya. Usulan tersebut disetujui warga.

Terkumpulah sejumlah uang untuk membeli pipa. “Saya sudah lupa berapa biayanya (beli pipa). Kekurangannya ditutup warga secara swadaya,” terang Samsu.

Sekitar 1985-1990, datang bantuan dari pemerintah untuk membuat tandon air. Dari tandon tersebut, air tuk bisa didistribusikan tidak hanya bagi warga Dusun Genting, tapi juga warga di tiga desa, yakni Tarubatang, Senden, dan Jeruk. Total pengguna air lebih dari 300 KK.

Keistimewaan sumber mata air yang diberinama Tuk Pakis ini tidak pernah berhenti meskipun kemarau panjang. “Paling debit airnya yang surut. Biasanya terjadi pada mongso kelimo. Ya seperti saat ini,” terang petani ulet itu.

Kali pertama digunakan hingga saat ini, Tuk Pakis tidak pernah berubah. Tidak pernah tersumbat sampah. Selalu dapat diandalkan warga mencukupi kebutuhan air bersih. Semua itu berkat konsistensi Samsu dan dukungan warga merawat sumber mata air.

Bukan hanya manggut-manggut mendengarkan paparan Samsu, Jawa Pos Radar Solo mendatangi tuk untuk membuktikan kelestarian dan perawatannya. Tentu saja didampingi tokoh masyarakat tersebut.

Lokasi tuk berjarak sekitar 1 kilometer dari rumah Samsu. Layaknya medan khas pegunungan, hampir semua akses ke tuk menanjak. Tiba di gerbang jalur pendakian Selo Taman Nasional Gunung Merbabu, tim Jawa Pos Radar Solo mengambil jalur berbeda dari yang biasa digunakan pendaki.

Di sepanjang jalur menujuk tuk, nampak hamparan hijau beragam tanaman dan pohon-pohon besar. Sekitar 15 menit menyusuri jalan setapak, Jawa Pos Radar Solo tiba di tuk yang dimaksud Samsu.

Titik utama tuk terlindungi bangunan beratap cor beton dengan dua penyangga. “Ini yang membangun juga warga secara swadaya,” katanya.

Di bawah bangunan itu, terdengar suara gemericik air yang alirannya ditampung di bak cor beton tertutup pelat besi. Benar kata Samsu, lokasi tuk sangat terjaga keasriannya dan kebersihannya. Yang gampang jadi patokan adalah, tidak ada sampah plastik.

Perhatian Samsu terhadap kelestarian Tuk Pakis mendorong pemerintah desa setempat mempercainya sebagai ulu-ulu. Pamong desa yang tugasnya khusus mengurusi pengairan.

Apakah juga mendapatkan honor? Samsu menegaskan, sama sekali tidak pamrih merawat tuk. “Sukarela merawat. Seperti relawan,” ungkapnya.

Pelestarian Tuk Pakis juga diwujudkan lewat tradisi setiap Bakda Maulid atau 30 November mendatang. Pada kegiatan tersebut, warga bergotong royong membersihkan tuk. Berlanjut menggelar seni tradisional sorang dan campur bawur.

“Soreng itu pemainnya memakai pakaian keprajuritan lalu melakukan gerakan tertentu yang terlihat gagah. Yang campur bawur, pemainnya menggunakan kostum beragam hewan. Ini melambangkan aneka satwa yang tinggal di hutan,” beber Samsu.

Samsu sangat berharap, nantinya ada regenerasi penjaga Tuk Pakis agar manfaat sumber mata air juga dirasakan anak, cucu, cicit dan seterus. Salah satunya caranya, tidak melakukan kegiatan yang merusak lingkungan. (wa) Editor : Damianus Bram
#Sumber Mata Air Tuk #Samsu Darsono dan Mbah Bingah Sukarela Jaga Tuk demi Warga di 3 Desa #Samsu Darsono Sukarela Jaga Tuk demi Warga di Tiga Desa #Pahlawan Lingkungan dari Lereng Gunung Merbabu #Samsu Darsono #Mbah Bingah #Tuk Pakis