ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo
Sejumlah spanduk terbentang di depan sebuah rumah berlantai dua di Dusun Bakalan, Desa Ceper, Kecamatan Ceper kemarin. Spanduk pertama dengan latarbelakang berwarna hijau itu bertuliskan Selamat Terpilihnya Timnas Indonesia 2020 Fachrudin. Diikuti foto Fachrudin saat mengenakan jaket timnas Indonesia.
Sementara itu, spanduk lainnya dengan latarbelakang berwarna merah bertuliskan Selamat Berjuang, dari Bakalan, Ceper, Klaten untuk Indonesia. Diikuti dengan foto Fachrudin yang cukup besar serta jadwal pertandingan final Piala AFF melawan Thailand. Spanduk tersebut memang baru saja dipasang yang merupakan pemberian dari salah satu pemerhati sepakbola.
Rumah yang dipasang dua spanduk penyemangat itu memang rumah Fachrudin ketika pulang ke Klaten. Terakhir kali pulang ke Klaten dua bulan lalu sebelum akhirnya menjalani pemusatan pelatihan di Turki. Kemudian dilanjutkan dengan berlaga di Piala AFF 2020 di Singapura hingga berhasil lolos ke final.
Keluarga besar Fachrudin pun secara khusus menggelar nonton bareng (nobar) dengan layar lebar tepat di kediaman tersebut. Ini juga sebagai bentuk dukungan keluarga serta warga sekitar terhadap putra daerah asal Ceper itu. Sejak awal karir sepakbola Fachrudin hingga akhirnya lolos skuad di timnas tidak pernah disangka sang ayah.
“Sejak kelas IV SD memang sudah saya sekolahkan di SSB (Sekolah Sepakbola). Bakatnya begitu menonjol saat SMP. Sempat dipanggil di beberapa daerah dan klub hingga akhirnya di PSS Sleman,” ucap Daryoto, 63, saat ditemui Jawa Pos Radar Solo pada Rabu di kediaman Fachrudin (29/12).
Sampai saat ini dia masih teringat sebuah peristiwa yang tak akan pernah terlupakan dalam mengiringi karir Fahrudin. Uang hasil kerja sebagai sopir yang sebagian dialokasikan untuk membeli ban harus rela dialihkan untuk membelikan sepatu Fahrudin.
“Saat itu Fachrudin masih duduk di kelas IV SD. Harga sepatu sepakbola Rp 900 ribu,” ucap Daryoto yang terus masih mengenang momen tersebut sampai saat ini.
Siapa sangka keikhlasan dia berkorban demi anak kini berbuah manis. Sang anak begitu membanggakan hingga berhasil menjadi andalan timnas Indonesia.
“Biasanya sore sebelum bertanding pada malam harinya selalui menghubungi saya. Meminta doa dan restu kepada orang tua. Saya selalu berpesan untuk bermain dengan baik dan jangan banyak melakukan pelanggaran,” ucap Daryoto yang kini bekerja sebaga penjaga sebuah pabrik pengecoran logam yang tidak jauh dari kediaman Fachrudin.
Dia berharap anaknya bisa memberikan permainan terbaiknya dalam menjaga pertahanan timnas Indonesia. (*/bun) Editor : Damianus Bram